Memboikot Carrefour?
July 1st, 2009
Salah satu kabar yang cukup menarik minggu ini adalah rencana pembelian Carrefour oleh Koor Industries, sebuah perusahaan Yahudi.
Ini kabar valid. Harian The Jerusalem Post edisi 23 Juni 2009 mewawancarai pemilik Koor Industries, yakni seorang billioner Yahudi bernama Nochi Danker, dan mengkonfirmasi rencana ini.
Berita The Jerusalem Post itu bisa dibaca di sini.
Koor Industries berniat menanamkan uang sebesar US 885 juta dolar di Carrefour, yang setara dengan kepemilikan 3% saham.
Bila rencana pembelian ini jadi, maka Koor Industries akan jadi pemegang saham terbesar kedua di Carrefour.
Lantas, haruskah kita memboikot Carrefour?
Sayang agak terlambat. Sebelum ini pun Koor Industries sudah memiliki saham sebesar 0.25% di Carrefour. Ini artinya tiap kali belanja di Carrefour, kita secara tidak langsung menyumbang kepada Nochi Danker, si yahudi itu. Read the rest of this entry »
CNN terkadang tidak pro-Israel
January 21st, 2009
Ada berita rada mengejutkan mengenai serangan ke Gaza (yang saat ini lagi berstatus gencatan senjata). CNN melaporkan kalau Israel-lah yang pertama kali melanggar gencatan senjata pada November 2008.
Jadi, argumen Israel bahwa Hamas tidak bersedia memperpanjang gencatan senjata is totally bullshit. Kenapa berita ini penting? Well, to be frank, because it’s CNN.
Selama ini saya sangat meragukan fairness media massa AS dalam memberitakan konflik Palestina. The New York Times, The Washington Post, CNN, termasuk yang katanya quality paper macam The Wall Street Journal, sering sama saja.
Sama-sama bias Israel dalam memberitakan konflik Palestina.
Apalagi Fox News. Puih! I solemnly swear not to watch Fox News.
Only right-wing does.
Pemberitaan yang relatif lebih fair mengenai konflik Palestina justru lebih sering didapat dari media Inggris seperti BBC, The Guardian, The Telegraph, The Independent, atau sekalian Al Jazeera.
Tapi kali ini, kadingaren kalau kata orang Jawa, CNN secara mak jegagik (tiba-tiba) melaporkan kalau Israel-lah yang sebenarnya merusak perjanjian gencatan senjata dengan Hamas. Anda bisa tonton videonya di sini. Atau baca transkripnya di sini.
Bertemu Art Gish
August 4th, 2008
Sori kalau saya menggunakan blog ini untuk memejengkan diri sendiri. That’s actually not my style.
Hanya, terkadang saya bertemu narasumber spesial dan merasa sayang kalau tidak berfoto bersama.
Salah satunya adalah bapak tua yang sedang Anda lihat ini.
Namanya Arthur G. Gish, usia 69 tahun, seorang Kristen taat, dan aktivis perdamaian CPT (Christian Peacemaker Teams) untuk wilayah Palestina.
Art Gish -demikian ia biasa dipanggil– datang ke Jakarta atas undangan penerbit Mizan yang meluncurkan versi terjemahan karyanya, Hebron Journal (2001).
Buku itu menceritakan pengalaman Art Gish selama menjadi aktivis CPT di Palestina. Mizan menerbitkannya dengan judul sangat panjang: Hebron Journal, Catatan Seorang Aktivis dari Amerika yang Melawan Kekejaman Israel di Amerika dengan Jalan Cinta dan Anti-Kekerasan.
Harganya lumayan mahal, Rp 74.500. Tapi insyaallah it’s worth it. Sebab di buku itu Art menceritakan apa yang ia lihat, ia dengar, bagaimana perlakuan tentara Israel terhadap warga Palestina, dll.
Singkat kata it’s a first-person report. Bukan buku teori atau analisis. Membacanya, Anda akan mendapat gambaran bagaimana hidup keseharian warga Palestina.
Cover buku itu cukup provokatif. Tampak Art mengenakan topi merah -tanda aktivis CPT- menghadang sebuah tank dengan moncong yang hanya berjarak beberapa meter dari tubuhnya.
Di bawah ini adalah fotonya. Foto yang kata Art menjadi headline di banyak surat kabar dunia, tapi tidak muncul di surat kabar Amerika.
Dan beginilah setelah foto itu dipermak jadi cover buku Mizan.
Foto itu diambil pada 30 Januari 2003, di Hebron. Saat itu Israel melakukan aksi ofensif dengan mengirimkan puluhan tentara dan tank untuk mengendalikan Hebron. Mereka juga meratakan pasar Hebron sepanjang dua blok -dan di situlah kebetulan Art Gish berada.
Art menuliskan aksi pada 30 Januari 2003 itu (juga ada di buku) dengan judul “Teroris di Antara Buah Apel”. Berikut kutipannya:
(30/1/2003)
Seluruh Hebron hari ini berada di bawah kendali total militer Israel. Aku bisa merasakan ada masalah. Saat menyusuri jalan, aku segera menyadari ada keributan di Al Manara. Aku ngeri melihat apa yang terjadi di sana.
Dua tank dan dua buldozer meratakan pasar sepanjang dua blok. Bahan-bahan makanan berserakan dan lumat di mana-mana, di sini, di kota yang banyak penduduknya kelaparan. Para pemilik kios dengan panik mencoba menyelamatkan berkotak-kotak tomat, jeruk, pisang, dan banyak lagi jenis makanan…
Rasa tak berdaya terus menguasaiku, tetapi aku sadar bahwa aku harus melakukan sesuatu. Aku mulai memindahkan kotak-kotak makanan dari sasaran buldozer. Mungkin ada 12 kotak yang berhasil kuselamatkan…
Aku mulai menghadapi tentara-tentara itu. Aku berteriak kepada mereka, bertanya apakah mereka bangga atas apa yang mereka lakukan, apakah ini yang namanya perdamaian, apakah ini Israel yang mereka cita-citakan. Aku berteriak, “Baruch hashem Adonai!” (Terpujilah nama Tuhan!)…
Seorang tentara meludah ke arahku, jadi aku langsung mendekatinya dan mempersilahkannya meludahiku. Dia menolak tawaranku…
Sebuah tank menderu ke hadapanku, moncong raksasanya mengarah kepadaku. Aku mengangkat kedua tanganku ke udara, berdoa, dan berteriak, “Tembak, tembak! Baruch Hashem Adonai!”
Tank itu berhenti beberapa inci di depanku…
Sore harinya, aku kembali ke Al Manara dan melihat para pemilik kios mengais-ngais puing-puing, berusaha mencari apa yang masih bisa diselamatkan.
Aku tak bisa berkata-kata.
Militer Israel memberlakukan pengawasan total di Hebron hari ini; kata mereka untuk mencari teroris. Aku bertanya-tanya, apa ada teroris bersembunyi di antara apel dan jeruk?
Versi utuh catatan ini, berjudul Terrorist Among The Apples, bisa Anda baca di sini.
Pertanyaan besarnya, tentu, kenapa Art berani melakukan kenekatan seperti itu? Bagaimana kalau ia ditembak Israel? Apa dia tidak takut mati?
Jawabannya mungkin faith. Iman.
Art adalah seorang penganut pasifis (anti-kekerasan) tulen. Dia termasuk anggota jemaat Church of The Brethern yang beraliran pasifisme. Jemaat ini yakin bahwa “semua perang adalah dosa” dan “Jesus memerintahkan untuk memaafkan musuh”. Pada era perang Vietnam, banyak anggota jemaat ini yang menolak wajib militer dan lebih memilih dipenjara.
Church of The Brethern adalah salah satu gereja yang memiliki tradisi hampir seperti amish. Mereka (yang taat tentu) tidak merokok, tidak minum alkohol, dan tidak menyekolahkan anak di sekolah sekuler.
Art sendiri bersekolah di seminari Manchester College, Indiana. Ia bahkan pernah menjadi “street preacher”, alias orang yang dengan pede-nya berdiri di trotoar, lalu mendakwahi para pejalan kaki yang lewat.
Singkat kata, Art adalah seorang kristen konservatif. Ia yakin apa yang ia lakukan di Palestina adalah ibadah menurut ajaran agamanya.
Kebetulan saya seorang muslim konservatif. Jadi setidaknya kami punya kesamaan.


