Tag a muslim’s perspective

Balada si puji dan ulfa

Apakah syekh puji, si mantan kernet metromini jurusan lebak bulus itu (that’s right) seorang pedofilia?

Saya ngga tahu. Biarlah itu psikolog yang memutuskan. Tapi faktanya ia dijerat dengan UU 23 th 2002 tentang perlindungan anak, pasal 81, 82 dan 89, dan KUHP pasal 290 tentang pencabulan di bawah umur.

Ini adalah pasal2 berlapis yang biasanya digunakan untuk menjerat pelaku pedofilia. Jadi, polisi sama sekali tidak memandang faktor pernikahan antara puji-ulfa.

Padahal setahu saya, pedofil biasanya memperkosa, menyiksa. Baru kali ini ada pedofil yang menikahi ‘korbannya’.

Read more

Fatwa rokok MUI di Metro TV

Nonton acara Today’s Dialogue di Metro TV Selasa malam kemarin (3 Feb 2009)  ternyata cukup menyenangkan.

Jangan salah paham. Yang menyenangkan di sini adalah menyaksikan Kiai Ma’ruf Amin, ketua komisi Fatwa MUI, dikuyo-kuyo tapi dia tetap cool menjawab.

Kuyo-kuyo adalah istilah Jawa yang dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih “dikeroyok rame-rame”, atau “diobok-obok”, atau “dihajar sana-sini”. :mrgreen:

Siapa yang mengeroyok?

Well, for starter, adalah Kania Sutisnawinata, host Today’s Dialogue. Dia bukan host yang netral, melainkan berpihak. Anda bisa rasakan keberpihakan itu dari cara dia bertanya, even gesture.

Sikap Kania dalam mewawancarai Kiai Ma’ruf Amin adalah semacam sikap wawancara yang filosofinya kurang lebih:

pertanyaan lebih berminat mendesakkan pendapat si host sendiri daripada berminat menggali pendapat narasumber

(Padahal, kita nonton karena ingin mendengar pendapat narasumber, bukan?)

Judul acara Today’s Dialogue itu sendiri sudah menunjukkan keberpihakan. yakni: Obral Fatwa MUI.

Jadi MUI ini diibaratkan pedagang kaki lima, hehe.. hobinya obralan.

Sebenarnya mengesalkan juga menonton gaya host ala Fox News begitu. Tapi postingan ini tidak berminat membahas aspek jurnalisme dari acara Today’s Dialogue tersebut.

Diasumsikan Anda sudah tahu lah seperti apa gaya host Metro TV. Kalau seneng, ya nonton, kalau sebel ya ganti channel. Gampang, kan. Wong nonton juga ra mbayar,

(In fact, seandainya tidak ada Kiai Ma’ruf Amin, saya mungkin juga langsung ganti channel)

Posting ini lebih fokus pada sosok Kiai Ma’ruf Amin dan fatwa MUI –terutama rokok dan golput– yang dibahas di acara itu.

Selain Kiai Ma’ruf Amin, ada 3 narasumber lain yang dihadirkan. Yakni perwakilan dari Muhammadiyah, NU, dan Jaringan Islam Liberal (JIL).

Ketiga narasumber itu juga sekubu dengan Ms. Kania. Sama-sama menganggap fatwa rokok MUI (dan fatwa Golput) tidak perlu, tidak relevan, tidak efektif dan bla-bla-bla lainnya.

So, it was an uneven battle.

Tidak imbang bahwa Kiai Ma’ruf Amin yang cuma single fighter harus melawan 3 narasumber plus 1 host yang sama-sama menolak fatwa MUI di forum itu.

Tapi –inilah yang menyenangkan– Kiai Ma’ruf Amin tetap cool menjawab. Tidak terpancing emosi. Dan harus saya akui, dalam beberapa kesempatan, misalnya ketika ia menjawab mengapa MUI mengeluarkan sertifikasi halal, bukannya sertifikasi haram, jawabannya lebih berbobot dari argumentasi si penyerang.

Dia juga dengan bagus menolak didikte bahwa MUI berfatwa Golput haram.

Karena, fatwa MUI yang sebenarnya adalah, “Kalau ada calon pemimpin yang memenuhi kriteria dalam Islam (Sidik, Amanah, Tabligh, Fathonah), tapi kita justru memilih calon yang jelek, atau tidak memilih, maka hukumnya haram,” katanya.

Beda, bukan? Dengan pengertian MUI berfatwa golput haram?

Tapi tentu saja, di acara Today’s Dialogue itu, dan juga di banyak media saya kira, addendum atau only if conditionals “kalau ada calon pemimpin yang memenuhi kriteria dalam Islam” jarang muncul. Yang lebih sering dimunculkan adalah MUI berfatwa golput haram.

Sengaja atau tidak, ini memang politik disinformasi. Bisa jadi headline “MUI berfatwa rokok haram” atau “MUI berfatwa golput haram” lebih menjual dan eye-catching.

Bandingkan misalnya dengan headline “MUI berfatwa golput haram kalau ada pemimpin yang memenuhi syarat dalam Islam”, hehehe..

(Kepanjangan bo, susah ngejualnya, lagian space terbatas -mungkin begitulah argumen standarnya.)

Makanya, saya terus terang senang menyaksikan Kiai Ma’ruf Amin yang meski berdebat di “sarang lawan” (karena sudah jelas ke mana acara itu berpihak) tetap keukeuh menjelaskan fatwa MUI versi yang sebenarnya, bukan versi headline media massa yang cenderung twisted.

Jadi, MUI tidak mengharamkan rokok?

Siapa bilang MUI mengharamkan rokok? Tak ketak ndase yang ngomong begitu. Sidang pleno Ijtima’ MUI hanya mengatakan merokok hukumnya haram:

  1. Di tempat umum
  2. bagi anak-anak
  3. bagi wanita hamil

Jadi, sekali lagi kita bertemu only if conditionals dalam fatwa rokok. Karena saya bukan anak-anak, dan ngeblog di rumah saya sendiri, maka dengan tenang saya pun bisa menulis postingan ini sambil merokok.

Nothing paradoxical. Karena kalau mengacu pada fatwa MUI itu, ngeblog di ruang privat sambil merokok tidak haram. Melainkan makruh. :lol:

Saya sangat rekomen Anda untuk menyaksikan acara Today’s Dialoge itu. Biar Anda saksikan sendiri bagaimana Kiai Ma’ruf Amin tetap cool, santun, terkadang jenaka (swear, cara dia ngomong, juga binar matanya bisa lucu), tapi tetap dengan argumentasi yang berbobot.

Saya pikir memang begitulah seharusnya karakter orang berilmu. Kalem, menjelaskan tidak dengan retorika (alias ngomong bullshit) melainkan argumentasi, dan tidak agresif mendesakkan pandangan sendiri.

Kesimpulannya, meski dikeroyok 4 lawan 1, Kiai Ma’ruf Amin tidak keok. Dalam beberapa kesempatan ia bahkan mampu melancarkan jab-jab mematikan terhadap lawan-lawannya. :mrgreen:

Anda bisa tonton acara itu di situs Today’s Dialogue di sini. Sedang Fatwa MUI tentang merokok (dan haramnya golput atau memilih pemimpin yang jelek –kalau ada pemimpin yang memenuhi syarat dalam Islam) bisa dibaca di sini.

Kalau ingin mendapatkan gambaran tentang suasana sidang Ijtima’, termasuk kronologi dan perdebatan yang terjadi, bisa baca artikel Gatra tentang sidang itu di sini.

Btw, pendapat saya sendiri tentang dua masalah itu? Rokok dan Golput?

Read more

Taktik ala Siti Hajar

Orang kalau sudah bingung pasti melakukan hal yang aneh-aneh. Teman saya, M, adalah salah satunya.

Suatu hari dia bingung karena tidak punya uang sama sekali. Maklum kerja proyekan. Padahal istri di rumah lagi hamil dan sudah pingin pulang ke kampung, melahirkan di sana.

Akhirnya M pun melakukan hal yang ngga masuk akal ditinjau dari aliran filsafat mana pun. Ia putar-putar keliling kota naik sepeda motor bututnya sampai 7 kali.

Kenapa 7 kali?

Rupanya, bapak kosnya (M dan istrinya menyewa sebuah kamar kos) pernah bercerita mengenai kisah Siti Hajar, ibunda nabi Ismail as.

“Tahu mas, kenapa Siti Hajar itu bolak-balik ke bukit itu sampai 7 kali?” tanya bapak kos.
“Ngga Pak. memangnya kenapa?”
“Itu hikmahnya, orang itu kalau berusaha paling ngga nyoba sampai 7 kali,” katanya.

M manggut-manggut, menyimpan informasi itu dalam benaknya. Lalu suatu malam, usai proyekan yang ternyata ga berhasil, ia tidak langsung pulang ke kos.

Saya bisa menduga mengapa ia tidak langsung pulang. M cerita kalau istrinya sebelumnya menelpon, menanyakan apakah mereka bisa pulang kampung tidak.

“Bisa dik, tenang saja. Insyaallah pulang kampung,” kata M berusaha meyakinkan.

Padahal, well, sedikit info, waktu itu mereka berada di Kalimantan. Sementara kampung istrinya di Semarang. Paling tidak butuh sekitar Rp 2 juta untuk ongkos.

So, the story begins. M yang malam itu bingungnya sudah sampai ke ubun-ubun, mungkin hang kalau ibarat komputer, sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, tiba-tiba teringat kembali kisah dari bapak kos, dan akhirnya dengan pasrah pun mencoba mengikuti jalur Siti Hajar: berkeliling kota sampai 7 kali.

Read more

Copyright © basfinsiregar

Built on Notes Blog Core
Powered by WordPress