Some things are not to share

Aku lagi makan di warung (sebelum puasa) ketika wanita itu datang. She’s got a child with her. Ibu penjual warung yang tampak sudah mengenalnya, menyambut. Mereka berdua lalu ngobrol, mengacuhkan diriku yang lagi makan dan dan hanya berjarak dua meter darinya (hingga aku bisa mendengar).

Dari ngobrol basa-basi soal pekerjaan, perbincangan mereka akhirnya melebar. Sesekali si wanita-dengan-anak itu bicara dengan suara keras.

“Saya bilang sama dia, kalau memang lu serius, ngapain masih dengerin omongan keluarga?”

“Iya, yang namanya rumah tangga itu, kalau masih dicampurin keluarga, ngga akan pernah bener,” timpal ibu penjual warung.

Hek!

Command center di otakku seketika mengirim implus alarm begitu kata “rumah tangga” dan “keluarga” terdengar. These two women are now talking about marriage.

Dan memang benar. Beberapa detik kemudian habis sudah basa-basi soal anak, pekerjaan dsb itu. Mereka lalu asyik bicara tentang perkawinan. Yakni perkawinan wanita yang datang dengan anak kecil itu.

Ternyata wanita itu sudah bercerai dari suaminya. Penyebab perceraian mereka tidak jelas. Tapi dari obrolan mereka aku bisa menyimpulkan kalau keluarga suaminya (yang terlalu banyak intervensi) adalah penyebab perceraian tersebut.

Wanita itu sekilas melihat ke arahku, menyadari kalau aku pasti juga mendengar obrolannya barusan. Tapi dia tetap melanjutkan ceritanya. Sesekali nadanya terdengar emosi, bahkan menjelek-jelekkan, mantan suaminya tersebut.

“Dia itu, kalau ngga dibantu terus sama abangnya yang kerja di perusahaan, bisa apa? Paling udah mati!” umpatnya lagi.

That’s it. Secara instingtif aku sudah merasa berada di titik yang sangat-tidak-nyaman mendengarkan pembicaraan mereka. Quickly I finished my ice tea, paid the bill, and keluar dari warung itu.

Ya ampun Mbak, Mbak… buat apa kau jelek-jelekkan mantan suamimu di depan orang lain? –those words echoed in my head as I walked away.

***

I ain’t married yet. Jadi aku tidak tahu seperti apa kehidupan rumah tangga. But one thing is sure. It is a sacred place, mungkin semacam makam suci ala orang-orang Indian, di mana trespassers will be axed immediately once they crossed it. Tanpa basa-basi atau interogasi lebih dulu.

Why? Since it’s about dignity. Harga diri. Kehormatan. You don’t let people meneropong seperti apa kondisi rumah tanggamu, membiarkan mereka mengetahui rahasia-rahasia di sebaliknya. Apalagi mengumbarnya kepada dua orang outsiders seperti tukang warung dan seorang pengunjung yang lagi kebetulan makan di sana –yakni saya.

Though her marriage is over, I personally think she should have higher standard tentang mana informasi yang layak diketahui publik dan mana yang tidak. Sebab dengan menjelek-jelekkan mantan suaminya, lalu mengumbar kisah rumah tangganya, berarti dia telah membuka aibnya sendiri. In other words: dia mempermalukan dirinya sendiri.

Well, tentu saja kita bisa menggunakan sudut pandang lain, misalnya bahwa dia memang betul-betul menderita selama menikah dengan pria itu, so from that point of view, we could feel sympathetic for her.

But since I’m an old-fashioned type of guy (and at the same time I also use my head), menurutku memperdengarkan kisah rumah tangga yang sudah berakhir pada dua outsiders di warung nasi bukanlah hal yang layak diberi simpati. It’s pathetic.

And, consequently, to this type of woman, you can never trust her your secrets.

That’s what I think. And I believe it firmly.

***

.. to this type of woman, you can never trust her your secrets…

Entah kenapa kalau mengingat kejadian di warung nasi itu, kata-kata di atas yang paling kuat membekas di otakku. Aku tahu kalau ini preferensial sifatnya. Alias sangat-diriku-sekali.

Being an introvert guy, I never –once again, never— share my love stories to any outsiders. Apalagi sampai mengumbar detil seperti yang dilakukan wanita di warung nasi itu. Since it’s about dignity. Honor.

Bahkan saat my relationship was in trouble, I still managed to keep my mouth shut. I just swallowed it all.

Those who know me well-enough untungnya sudah mengerti kecenderungan ini. Jadi mereka enggan bertanya padaku regarding romance. Mereka tahu kalau akan mendapat jawaban-jawaban sebagai berikut:

“Let’s talk about something else.” (biasa)
“I don’t wanna talk about it” (biasa)
“no comment.” (biasa)
I keep silent. Not responding. (biasa)
“kau ini kenapa? Nanya soal itu terus? (agak keras)
dll yang sejenis.

Tapi ada juga yang pernah (dulu), karena tidak bisa menahan diri, menyampaikan “pandangannya” tentang my relationship. Rupanya kawan bersangkutan memiliki ‘penilaian’ tersendiri tentang my relationship dan menganggap aku perlu mendengarnya.

Hehehe… I stil remember ‘penyampaian pandangan’ yang terjadi ketika aku masih kuliah itu. As if something monstrous was roaring inside me as she spoke about ‘penilaiannya’.

Aku tidak ingat lagi apa yang kukatakan padanya waktu itu. Yang jelas I was roaring inside, but kept still, and responded coldly. Hubungan pertemanan kami jadi agak renggang setelah ‘penyampaian pandangan itu’.

Hehehe..

Ah, sudahlah. That was old times. Aku lagi tidak bercerita tentang diriku sendiri, melainkan lagi mengungkapkan refleksiku tentang peristiwa di warung nasi tempo dulu itu.

And those words above echoed strongly. Aku tidak bisa tidak mengelus dada ketika mengingat dia dengan suara keras mengumbar kisah rumah tangganya itu.

Mbak, Mbak… marriage is like a sacred tomb of the Indians. You axe people who dare to cross. Without asking nor interrogating. When you open that tomb and let outsiders come and see, then you’re not the type of woman whom man can trust their secrets.

Post a comment

Copyright © basfinsiregar

Built on Notes Blog Core
Powered by WordPress