Traitor

I watched Traitor a few days ago and must admit I’m impressed. It seems Hollywood managed to upgrade their perspective about Islam –which seldom happens.

Traitor is what we can call a post-9/11 movie. We have muslims, a terrorist group, and FBI trying to stop a massive suicide attacks on US soil.

Very Hollywood-ish, heh?

But it’s different from other post-9/11 movies, such as The Kingdom (pretty lame), In The Valley of Elah (good), Lion for Lambs (lame), or Body of Lies (very entertaining).

Traitor tries to, at least to some extend, break the negative stereotype about muslim in the west. It tries to show that Islam has been hijacked by extremists –a simple fact ignorant westerners might choke down with difficulty.

General Info
Director: Jeffrey Nachmanoff (The Day After Tomorrow, writer)
Story: Steve Martin
Starring: Don Cheadle, Guy Pearce, Said Taghamaoui
Release date: August 27, 2008
Running time: 114 minutes

The Story (dont worry, no spoiler. Well not much, I guess)

Read more

Hayamwuruk belum mati


(Cover majalah Hayamwuruk Des 2008 -dok HW)

Barusan saya dapat email kalau Hayamwuruk telah terbit. Alhamdulillah. Ia belum mati ternyata.

Hayamwuruk, beken disebut HW, adalah majalah mahasiswa Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro. Majalah ini sempat ‘mati suri’ selama 4 tahun sebelum akhirnya, minggu kemarin, terbit.

Saya dulu aktif di sana, dari tahun 1996-2003. Tujuh tahun. Dari mahasiswa baru yang culun dan guoblok, terus jadi reporter, sampai akhirnya jadi pemred yang berkuasa (dan semena-mena tentu) terhadap para junior. :)

Read more

Mr.Basf dan kucing kampung

Memberi makan kucing?

Untuk apa?

Terus terang saya bukan penyayang binatang. Meski juga bukan pembenci binatang. Sikap saya biasa saja. Binatang ya binatang, dunia lain, ga ada urusannya dengan saya.

Bahkan terkadang, iba saya muncul kalau melihat binatang dalam kondisi mengenaskan. Hanya, iba itu tetap sebatas iba, tak berubah jadi tindakan.

Pernah suatu kali seekor kucing masuk rumah kami di Kaliwungu. Kondisinya menyedihkan. Badannya kurus, ada luka, dan kelihatan ruas tulangnya. Ia mengeong lemah dan jalannya pun sudah tertatih. Sepertinya hampir mati.

Duh.. saya jadi sedih lagi kalau teringat itu.

Saya hanya bisa iba, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Abang saya yang akhirnya bertindak. Ia mengangkat kucing sekarat itu dan menaruhnya begitu saja di pinggir jalan, sekitar 20 meter dari rumah. Ia tidak ingin kucing itu mati di dalam rumah, nanti bikin tambah kerjaan.

Kini setelah saya menikah, alhamdulillah istri lebih sigap menghadapi ‘invasi kucing’ seperti itu. Pernah suatu kali habis subuh, ada kucing mengeong persis di depan pintu. Setelah diintip, eh, anak kucing lagi! Badannya juga kurus, kurang makan. Induknya mungkin entah ke mana.

Istri langsung mengambil ikan dan meminta saya mengantarkannya ke luar. Saya oke saja. Paling tidak derajat saya naik sedikit. Dulu saya tidak berbuat apa-apa ketika rumah didatangi kucing sekarat. Sekarang, minimal saya terlibat sebagai ‘tim pengantar makanan’.

(meski setelah saya keluar hendak ngasih ikan, eh, si kucing piyik itu justru pergi, hingga saya sempat muter-muter nyari. Padahal subuh, masih gelap lagi, meski akhirnya ketemu sekitar 10 meter dari rumah! Hhh.. dasar kucing!)

Beberapa kali akhirnya rumah kami didatangi kucing kampung, minta makan. Kalau ada ikan lebih, atau tulang-tulang, ya dikasih. Kalau ngga ada, ya apa boleh buat.

Tapi untungnya ‘invasi kucing kampung’ untuk minta makan itu tidak sering terjadi. Sepertinya salah satu tetangga, yakni engkong tua pemilik warung, yang berjarak dua rumah dari kami, juga ikut memberi makan. Beberapa kali saya lihat si engkong jalan bawa plastik dan kucing pada mengekor.

Selama ini, saya melihat aktivitas memberi makan kucing itu dalam level ‘humaniora’, semacam perikehewanan di kala senggang, hehe… atau katakanlah semacam aktivitas iseng-iseng berbuat baik, daripada bengong nganggur.

Tapi kemudian pengetahuan itu datang.

Read more

Copyright © basfinsiregar

Built on Notes Blog Core
Powered by WordPress