Ohh privilege…

September 16th, 2008

Akhirnya saya dapat juga tiket kereta untuk mudik ke Semarang (Kaliwungu). Fajar Utama, duduk, berangkat tgl 27 Sept besok. Hebatnya lagi (kalau bisa dibilang hebat), saya baru beli tiket hari ini tgl 16 Sept.

Mereka yang biasa mudik biasanya tahu kalau that’s impossible. Ga mungkin beli tiket KA tgl 16 masih bisa dapat untuk berangkat tgl 27. Sebab tiket mudik ke Jawa tgl 27 ke atas biasanya sudah habis jauh-jauh hari (bahkan, biasanya sudah habis dipesan sejak hari pertama puasa). Kecuali tentu, kalau saya beli dari calo.

But no. Saya tidak beli dari calo. Saya beli dengan harga standar. Yakni Rp 130 ribu per kursi. Bedanya, saya menggunakan jalur belakang. I have contacts in PJKA.

Saya merasakan betul ironi itu ketika mengantri menyerahkan formulir pemesanan tiket di loket. Di sebelah saya ada seorang bapak (setengah tua), dan seorang ibu (juga setengah tua) juga mengantri. Mereka hendak pergi ke Malang.

Bapak 1: “Mbak, mau pesan tiket untuk tgl 23,” katanya.

Petugas loket: “Sudah habis, Pak. Tiket sudah habis untuk tgl 18 ke atas. Yang ada tinggal tiket berdiri.

Bapak 1: “Ngga apa-apa, Mbak. Berdiri ngga apa-apa.”

Petugas loket: “Kalau tiket berdiri, belinya nanti pas mau berangkat, Pak. Bapak tgl 23 langsung aja datang, nanti beli tiket,”

Bapak 1: “Oh begitu ya. Makasih, Mbak,” katanya, tetap tersenyum, lalu mundur dari antrian.

Berikutnya giliran Ibu itu,

Ibu 1: “Mbak, mau beli tiket untuk tgl 20,” katanya sambil menyerahkan formulir pemesanan.

Petugas loket: “Sudah habis, Bu. Sudah ga bisa pesan untuk tanggal 18 ke atas. Tinggal tiket berdiri.”

Dan ibu itu tampak kaget, tercenung, tidak bisa berkata-kata. Ia sepertinya belum berpengalaman mudik dan tidak menduga akan mendapat jawaban begitu. Ia hanya berdiri saja sambil memegang formulir pemesanan tiketnya yang ternyata ga berlaku… sekilas saya melirik ke arahnya.

Lalu saya maju, menyerahkan formulis pemesanan tiket ke petugas loket. Saya tidak berkata apa-apa, hanya menyerahkan saja. Petugas loket membacanya sebentar, lalu menyadari kalau ada “tulisan lain” di formulir pemesanan itu. Tulisan itu bunyinya sebagai berikut: “Atas nama Mr. X… (X adalah pejabat penting di stasiun itu).

Lalu, seperti dijanjikan Mr. X ketika kami bertemu, formulir pemesanan saya memang segera diproses. Tidak lama kemudian tiket saya pun diprint, lalu diserahkan. Saya membayar harga tiket, sebesar Rp 260 rb (untuk dua orang), lalu beranjak pergi.

Urusan saya di stasiun beres sudah. Tidak sampai 1 jam. Saya bertemu Mr. X sekitar jam 11 siang, ngobrol barang 10 menit, lalu tidak sampai setengah jam sudah dapat tiket (duduk).

Mbak petugas loket itu pun kembali ke aktivitas semula. Setiap ada orang datang untuk beli tiket, ia mungkin akan berkata, “Sudah habis Pak, Bu. Sudah ga bisa pesan untuk tgl 18 ke atas. Tinggal tiket berdiri.”

Read the rest of this entry »

Beberapa hari lalu Penerbit Pustaka Primatama mengirimkan dua edisi Gideons’ Spies, Sejarah Rahasia Mossad ke kantor (yang satunya untuk redaktur buku Gatra).

Itu adalah kedua kalinya –setelah Birdman– saya terlibat dalam proyek buku. Honornya oke. Meski duitnya sudah lama habis jauh sebelum bukunya terbit, hehe.. (ngga ada hubungannya memang)

Saya mau sedikit mempromosikan buku itu. Bukan karena saya terlibat sebagai editor, tapi karena insyaallah, buku itu memang layak baca.

Lewat buku itu, saya mendapat banyak informasi tentang karakter Mossad, juga istilah-istilah yang kerap digunakan oleh badan intelijen Israel itu.
Misalnya,

  • kidon: tim pembunuh Mossad
  • katsa: agen lapangan
  • sayanim: warga sipil yang diam-diam membantu Mossad
  • mabuah: informan Mossad non-Yahudi

Satu bab buku itu, yang aslinya berjudul The Spy in The Ironmask (diterjemahkan menjadi Mata-mata Bertopeng Besi) khusus bercerita tentang Rafi Eitan, deputi Mossad yang legendaris kelihaiannya (apalagi kalau merencanakan pembunuhan).

Bab itu berjudul Mata-mata Bertopeng Besi karena Eitan, kalau lagi ngga ada kerjaan mbunuhi orang, punya hobi membuat patung dari logam.  Ia semacam seniman amatir: suka mengumpulkan besi-besi tua, kuningan, tembaga, lalu melasnya menjadi sebuah “karya seni” hehe.

Nah, ketika asyik membuat patung itu ia mengenakan topeng las –dari situlah judul Mata-Mata Bertopeng Besi muncul.

(ia bahkan pernah memamerkan karya-karya patung lasnya dalam sebuah pameran amatir)

Saya suka membaca bab tentang Eitan karena karakternya  yang berdarah dingin, khas sypmaster papan atas. Berikut saya kasih sedikit spoiler tentang isi dari bab Mata-Mata Bertopeng Besi itu.

Read the rest of this entry »

Indonesia’s smoking sin

August 25th, 2008

Indonesia Cleric’s Council, Majelis Ulama Indonesia (MUI) will likely to issue a fatwa against smoking, or make it HARAM within Islam.

The issue surfaced (again) as MUI prepares their routine meeting forum, bahtsul masail, which will be held next October.

The cleric’s forum hasn’t even started yet but the tension already began. Last week in Jember, East Java, several tobacco farmers protested the predicted-coming fatwa.

Posters saying “MUI stop playing around”, “Tobacco feeds a lot of stomach”, and “Tobacco workers unite!” were displayed.

In Probolinggo, also a small town in East Java, local branch of tobacco farmers association, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), already rejected the predicted-coming fatwa.

Amin Subarkah, chairman of APTI East Java branch, said, “A lot of clerics have different opinons about smoking. I hope MUI will re-examine their [predicted coming] fatwa.”

Bear in mind that I’m a smoker, a heavy smoker to be accurate. I usually spend two packs of cigarettes a day. But I try to view this issue objectively. And one thing I can tell you is, Amin Subarkah was pretty wrong.

Clerics dont have many different opinions about smoking. The fact is, Islamic scholars are becoming more unanimous in prouncing smoking use clearly HARAM. In Saudi Arabia and Malaysia, for instance, the cleric’s council has already stated smoking is haram years ago.

But Indonesia is different. There’re many tobacco industries here. Also one crucial factor, we have Nahdlatul Ulama (NU), Indonesia’s moderate (very moderate, perhaps) muslim organization, which happen to be the largest muslim organization in this country.

And it’s just nice to see how NU officials respond to the issue. :)

In an article published by The Jakarta Post, Muzaenah Zein, third secretary of Fatayat -NU women organization branch- told participants of the Fatayat NU National Conference in Banjarmasin, South Kalimantan, that she felt the [predicted] ruling was EXTREME and DETRIMENTAL to the nation’s economy, as it would affect the country’s tobacco industry.

“Cigarette smoking is considered offensive (MAKRUH), as it is detrimental to one’s health. However, it would be better if the prohibiton is conveyed through religious counsel and missionary work (instead of fatwa),” she said.

Hehehe.. Amin Subarkah, and every muslim smoker in this country (me included), will be glad to hear such “fatwa” from NU officials.

But wait, there’s more ‘counter-fatwa’ coming, and this one is from a  higher NU official. :)

KH. Najmudin, Roois Aam NU Jember, a smoker, said to a reporter of Tempo magazine that difference of opinions within khilafiyah matters [it means okay to have different opinions] is not supposed to be strictened.

Najmudin said that in NU tradition, smoking is in the same league as ‘number of tarawih prayers’ or ‘bank interest’. He futher added that many NU scholars smoke since they were young in order to ‘unblock mental obstacles in thinking‘.

Hahaha… a very-very typical NU fatwa! No kidding. Reminds me of my old ustadz at madrasah. He undoubtely would say the same.

Read the rest of this entry »