Risau

Mas Widi ketika masih sehat (Foto by Wisnu Prabowo, Gatra)

Mas Widi meninggal. Senin sore waktu saya ngecek email kantor, ada pengumuman berikut:

Innalillahi wa’inna ilaihi rojiun
Telah meninggal dunia Bp Widi Yarmanto
tanggal 8 April 2011

Saya agak terhenyak kaget. Entah gimana gitu. Terakhir kali saya bertemu Mas Widi adalah di resepsi pernikahan salah seorang reporter Gatra tahun 2010 lalu. Badannya sudah jauh lebih kurus, tidak lagi seperti ketika ia masih bergabung di Gatra. Ia juga cerita kalau jalan kaki hanya bisa 100-an meter.

Mas Widi memang mengidap sakit jantung dan diabetes. Tapi yang membuat saya kagum, siang itu dia datang sendiri, menyupir mobilnya sendiri. walau kata Mas Widi lagi, menyetir sendirian bagi kondisinya saat ini sebenarnya bahaya juga.

Saya sebenarnya berjarak amat jauh dengan mas Widi. Ia sudah jadi direktur di Gatra pada 2004 ketika saya baru masuk dan magang sebagai reporter. Saya ingat suatu siang makan mie rebus di depan kantor Gatra, lalu Mas Widi nongol, juga makan, dan kami ngobrol soal istrinya yang lagi sakit dan berbagai pengobatan yang ia usahakan, mulai dari dokter sampai ustadz.

Obrolan itu berakhir manis karena Mas Widi akhirnya yang membayari makan, hehehe… Tidak mahal memang. Berapa sih harga mie rebus? Tapi bagi reporter baru yang gajinya belum penuh (waktu itu uang di kantong pas-pasan), every penny counts.

Saya ingat diam-diam merasa girang karena dibayari, jadi bisa ngirit dan tetap kenyang. hehehe..

(dan uang untuk makan akhirnya bisa dialokasikan untuk beli rokok … hehe.. ra mutu memang..)

Sekarang, kalau saya mikir lagi soal itu, terasa benar ungkapan bahwa uluran yang datang ketika seseorang lagi miskin akan lebih diingat. Kalau Anda membayari saya makan mie rebus saat ini, atau steak sekalipun, well, mungkin ga terlalu ngaruh.

Tapi, yang paling membuat saya teringat pada Mas Widi adalah karena ia mengabadikan keriuhan yang sama alami pada 2005 dalam esai mingguannya di rubrik Perspektif Gatra, edisi 31 Desember 2005.

Berikut dua paragraf dari esainya berjudul Risau yang membuat saya tercenung waktu tahu muncul di majalah Gatra.

SIKAPNYA sudah jelas: tak ingin bersinggungan dengan masalah! Walau kuping dan mata menangkap masalah, otak berbisik jangan dihiraukan. Ternyata, suatu ketika, ”Masalah yang menghampiri saya,” ujar seorang kawan. Dan, tidak bisa dielakkan, karena alam yang mengatur.

Hidup memang begitu. Masalah bisa datang dan pergi. Acapkali pula ia terasa kelewat berat, hingga seakan di luar jangkauan dan merepotkan. Atau, sebuah masalah bisa bikin keseleo lidah, dan menggusur jabatan. Tak usah gusar, kawan!

Kalimat-kalimat itu aslinya muncul dalam konteks berbeda. Saya awalnya mengucapkannya dengan nada marah campur putus asa, karena merasa betapa tidak adilnya perlakuan yang menimpa diri saya ketika itu.

Apa yang terjadi dalam keriuhan itu memang punya dampak tersendiri bagi saya. Tapi saya tidak ingin membahas soal itu. Hanya, ketika esai Risau itu ditulis dan saya membacanya di database Gatra, ada semacam perasaan sejuk, juga terima kasih, atas nada tulisannya yang seperti menyemangati kawan lama untuk tetap tenang. Tak usah gusar, kawan!

Sayang setelah itu garis kami jarang bersinggungan. Saya tidak tahu banyak apa yangt terjadi pada Mas Widi setelah ia tidak lagi di Gatra, hingga akhirnya email duka cita itu muncul. Selamat jalan, Mas. *

Bran Nue Day

Nonton Bran Nue Day membuat saya jadi agak terkesima, menyaksikan betapa susah dan miskinnya kehidupan orang-orang Aborigin.

Film ini berkisah tentang Willie, remaja Aborigin asal kota Broome (Australia Barat) yang pergi ke Perth untuk sekolah di sebuah seminari. Di sana dia diajar oleh pendeta Benedictus yang keras (Geoffrey Rush, pemeran kapten Barbossa di Pirates of The Caribbean).

Willie tidak betah. Apalagi di Broome ada gadis yang ia taksir berat. Akhirnya Willie pun lari dari sekolah dan berusaha kembali ke rumah. Padahal jarak Broome ke Perth sekitar 2200 kilometer.

Tanpa uang, apa yang bisa dilakukan? Akhirnya ia pun menumpang, tidur di jalan, dan bertemu para gelandangan kota Perth (yang banyak orang Aborigin juga) dan memulai petualangan kembali pulang.

Tapi jangan salah paham. Ini bukan film drama mengharu-biru. Sebaliknya komedi-musikal. Sekali lagi, komedi-musikal. Saya banyak ngakak waktu nonton film ini di di Blitz Megaplex, dalam acara festival Australia on Screen 2011

Read more

Should mosque look like cheese?

Imam Feisal Abdul Rauf

Imam Feisal photographed during the interview (Karvarino/Gatra)

It was my second time to meet Feisal Abdul Rauf, the man who stirred a controversy in US for his plan of building an Islamic community center near Ground Zero.

We met in a hotel in downtown Jakarta on early December.  I first met and interviewed him in 2007 when he came to Jakarta to promote his book, What’s Right with Islam: a New Vision for Muslims and the West.

But this time he came to Jakarta as a state guest.

This is actually rather embarassing, but I should explain the reason of his visit.

Indonesian current president, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) has recently developed a new habit of inviting ‘prominent experts’ to give lecture in front of him and members of the cabinet. Nobel prize winners, Harvard economists -all have been invited.

Feisal was also invited. He gave a speech entitled “Promoting Moderate Islam and Striving for Hamony Among Civilizations in the 21st Century” in the state palace.

While I admire my president’s deep passion for knowledge, I would admire him more if he doesnt use tax-payer’s money to invite those guys.

(Many Indonesian media have criticized this so called ‘presidential lecture’ and suggests that the president should invite local university professor if he wants to learn about ‘captalism’, ‘free-market’, ‘Islam-west relation’ or something like that. It’s cheaper to invite local professors and most are also educated in US. But that’s off topic).

During his visit in Jakarta Feisal gave interviews to media, including the magazine I work for.  We talked about 2 hours about many topics such as Islam in Europe, fundamentalist versus moderat, hijab, and of course about the Ground Zero mosque.

The interview has already been published in Gatra, which is unfortunately not available online. But I want to give a few highlights here. One thing to note, some of Feisal’s view actually would be considered unpopular by most Indonesian muslims. That is why my editor carefully selected which part of the interview to publish.

There were 3 persons from our magazine doing the interview with Feisal. My religion-desk editor, a woman reporter and I. Here are some of our discussion:

Read more

Copyright © basfinsiregar

Built on Notes Blog Core
Powered by WordPress