Gatra class of 2004

dari atas searah jarum jam: rahman, elmy, deni, ajeng, alex, dessy (I wasn’t there)

Gatra class of 2004. Itu sebutanku untuk reporter Gatra angkatan 2004, yang di awal pendidikan (Juni 2004) berjumlah 15 orang, namun 9 bulan kemudian tinggal 7 orang.

Dan kini, tinggal 6 orang saja. One of those guys in the picture above resigned.

Lazimnya rekan se-angkatan, kami tentu punya ikatan emosional tersendiri. Sentimen angkatanisme istilah canggihnya. Dan kupikir itu wajar. Kalau di Polri saja -kabarnya- ada angkatanisme dalam pengangkatan jendral, kenapa di institusi lain tidak? hehe..

Iseng-iseng aku buka lagi file-file lama waktu kami diperkenalkan sebagai repoter baru.

SERAMBI

Reporter Baru

SEJAK pekan ini, daftar nama di masthead jajaran redaksi bertambah panjang. Ada delapan reporter baru yang mengisi Pusat Liputan. Dari 17 calon reporter –terseleksi dari 600 pelamar– tinggal mereka yang lulus setelah menjalani masa magang sembilan bulan di Gatra. ‘’Mereka cukup diandalkan,’’ kata Taufik Alwie, Kepala Pusat Liputan Gatra yang selama ini membina mereka.

Memang, Gatra sangat ketat dalam merekrut calon reporter. Maklum, mereka ujung tombak sebuah media. Sejak masa magang, mereka sudah digembleng memburu sumber berita ke segala penjuru. Karena itu, meskipun secara resmi baru dinyatakan lulus, bisa jadi mereka sudah akrab dengan banyak narasumber Gatra.

Sebut saja, misalnya, Alexander Wibisono, yang sempat berhari-hari ikut ‘’berpatroli’’ di perairan Ambalat. Alex, begitu kami memanggilnya, sudah sangat akrab dengan sejumlah pejabat di Departemen Luar Negeri atau kalangan artis. Memang, mereka selama ini “dipaksa” merambah berbagai bidang, sebelum kelak diarahkan sebagai spesialis. ‘’Saya siap ditugaskan ke mana pun,’’ kata Alex, bersemangat.

Lajang jangkung kelahiran Samarinda, 13 November 1980, itu semula ingin jadi penerbang. Tapi sekolahnya ‘’nyasar ‘’ ke Jurusan Ilmu Politik UI. Sempat bekerja di media internal perusahaan penerbangan, Alex akhirnya memilih berkarier di Gatra yang katanya penuh tantangan.

Lalu ada Ajeng Ritzki Pitakasari, kelahiran 14 Juli 1979. Arsitek lulusan ITS ini pernah bergabung dengan perusahaan konsultan arsitek. Toh, bekas pemain teater di kampusnya ini akhirnya memilih berkarya di dunia wartawan. ‘’Lebih asyik, banyak kenalan dan jadi banyak tahu masalah,’’ ujarnya.

Ada pula Basfin Siregar, lulusan Sastra Inggris Universitas Diponegoro. Anak Batak kelahiran 4 September 1977 ini memulai karier sebagai koresponden Gatra di Semarang dan sekitarnya. Merasa di daerah kurang tantangan, pemuda pendiam namun ulet ini ikut program rekrutmen Gatra di Jakarta.

Elmy Dyah Larasati, rekan Basfin sealmamater, juga memilih bergabung di Gatra karena merasa lebih tertantang. Sarjana hukum kelahiran 9 April 1980 ini sebelumnya bekerja di sebuah harian nasional. Pengalamannya di harian memperlancar tugas-tugas jurnalistiknya di Gatra.

Kemudian Dessy Eresina Pinem, lahir 22 Desember 1978. Ia lulusan Teknik Sipil dan Perencanaan ITB. Pernah bergabung di perusahaan konsultan perencanaan. Meski bertubuh mungil, anak Batak ini gesit dan tak kenal lelah. Ia pernah menginap dua hari di Sukabumi ketika meliput masalah ‘’dukun seleb’’ Gatot Brajamusti.

Reporter lainnya, Deni Muliya Barus, alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta Jurusan Perbandingan Agama. Namanya sih berbau Batak, tapi ia asli Banten, lahir 30 Desember 1979. Sejak bergabung di Gatra, Deni lebih banyak melakoni liputan kriminalitas. Ia dikenal gigih menguber sumber berita sulit.

Lalu Rahman Mulya. Cowok kelahiran 10 Februari 1980 ini lulusan Teknik Industri ITB. Ia pernah bekerja di sebuah perusahaan industri. Tapi tak betah, dan memilih memperkuat Gatra serta menjadi salah satu ujung tombak andal.

Terakhir, Eric Samantha. Ia reporter baru wajah lama. Lulusan Teknik Sipil ITB kelahiran 18 September 1979 ini sebelumnya sudah menjadi reporter Gatra. Ia kemudian mundur karena ingin mengembangkan usaha sang ayah di bidang properti. Tapi semangat wartawannya terus menggoda. Jadilah ia kembali menekuni dunia jurnalistik.

Itulah duta-duta baru Gatra di lapangan yang mungkin sudah Anda kenal dengan baik. Kami harap, hubungan mereka dengan Anda, pembaca atau narasumber Gatra, yang selama ini sudah terjalin baik semakin erat dan meningkat. Terima kasih atas kemudahan dan akses informasi yang Anda berikan pada mereka dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

Gatra, Edisi 27/XI 21 Mei 2005

Hmm.. what a class! Complex, sophisticated, different field of interest, but the most important of all: still trust to each other.

Blue Nowhere begins

Image Hosted by ImageShack.us

Setelah beberapa minggu terakhir sibuk mengutak-atik CSS (Cascading Style Sheet), termasuk di antaranya terus mendengarkan komentar Si Jenk-jenk yang kadang mengesalkan itu (Lha kok blogmu dadi ancur ngene) :) (basf says: lha rung dadi kok dikomentari!) , akhirnya blog ini jadi juga. Cihuiii!

Tapi, kenapa Blue Nowhere?

Well, aku bukan tipe yang suka melanggar etika jurnalistik (apa hubungannya coba?), maka itu perlulah kukasih semacam pengantar, penjelasan, introduction (istilah canggihnya) kenapa aku memilih nama Blue Nowhere untuk blog ini.

Istilah Blue Nowhere pertama kali aku jumpai lewat sebuah novel yang berjudul sama. Novel itu ditulis oleh Jeffrey Deaver, yang bisa dibilang sebagai salah satu novelis favoritku. Si Jeffery inilah yang juga menulis novel berjudul The Bone Collector yang kemudian difilmkan itu (dibintangi oleh Denzel Washington dan Angelina Jolie).

Blue Nowhere adalah novel thriller yang bertema hacking. Penjahatnya, seorang dengan nickname Phate, adalalah hacker jahat yang sangat terlatih dalam social engineering dan menggunakan kemampuan itu untuk membunuh. Untuk melawan Phate, polisi akhirnya mengeluarkan seorang hacker tangguh dari penjara (ditahan karena pelanggaran federal) bernama Wyatt Gillette untuk membantu.

Nah, Si Gillette inilah yang pertama kali menggunakan istilah “Blue Nowhere”. Secara terminologis, istilah itu berarti dunia mesin, atau dunia cyber. Yakni dunia yang dibentuk oleh koneksi antar-komputer lewat serat kabel optis (atau wireless). Blue Nowhere, dengan demikian, adalah kata lain untuk INTERNET.

Gillette lebih suka menggunakan istilah Blue Nowhere ketimbang Machine World atau Cyber World karena alasan yang bersifat personal, sekaligus filosofis. Istilah “Blue” mengacu pada listrik yang membuat komputer bekerja. Sedang “Nowhere” mengacu pada tempat maya, yakni tempat yang bukan di mana-mana.

Ketika seorang memasuki internet, maka sebenarnya dia tidak berada di mana-mana. Hanya di depan komputer, menjelajahi berbagai situs www, ftp, usenet dan lain-lain. Secara psikologis dia mungkin “bergerak”, berpindah dari satu situs ke situs lain. Menjelajah, berkomunikasi. Tapi secara riil dia hanya duduk di depan komputernya. Karena itu, kupikir betapa tepatnya istilah “Nowhere” ini.

Aku suka istilah itu (cool). Dan aku juga suka implikasi filosofis yang dikandungnya. And that’s the reason why I use it as the name of my blog.

Novel itu juga memiliki latar belakang riset yang bagus. Jeffery, kukira, banyak terinspirasi oleh kisah-kisah hacking Kevin Mitnick. Siapa itu Kevin Mitnick? Dia adalah salah satu hacker paling terkenal di Amerika. Didakwa atas 27 kegiatan hack dan divonis 5 tahun. Beberapa kegiatan hacknya misalnya membobol komputer Sun Microsystems, Fujitsu, Motorola dan Nokia. Dalam persidangannya, jaksa penuntut mengucapkan kalimat yang kemudian jadi terkenal, bahwa Kevin Mitnick is “dangerous when armed with a keyboard”.

Kalau mau baca artikel tentang Kevin yang ditulis oleh dia sendiri, simply click here. (It’s worth reading!)

Sebagai sebuah blog yang sifatnya personal, mungkin agak aneh kalau namanya kuambil dari sebuah novel bertema hacking? Apakah kemudian isi blog ini akan didominasi oleh info seputar hacking? :D Of course not! (read those lines below my pics to view my job! and don’t forget IT!)

Blog pada dasarnya adalah diari. Hanya, blog berbeda dari diari biasa. Blog adalah diari yang kita taruh di tempat khusus, di sebuah tempat bernama situs, yang dalam hal ini dihosting oleh Blogsome, yang merupakan bagian kecil dari sebuah tempat maya bernama internet. Blog, dengan kata lain, berada di BLUE NOWHERE.

Jadi, sekali lagi, kupikir betapa tepatnya istilah itu untuk nama blogku ini. ;)

Copyright © basfinsiregar

Built on Notes Blog Core
Powered by WordPress