
Beberapa hari lalu saya nonton film Oceans di bioskop. It’s a good movie. Recommended. Saya kasih rating B- untuk film ini.
Oceans adalah film dokumenter tentang ttg laut. Ini adalah film dokumenter kedua dari Disneynature setelah sebelumnya mereka bikin Earth (2009).
Kalau Anda belum Earth, hm.. kebangeten dah. Karena itu film luar biasa bagus, lebih bagus dibanding Oceans. B+ lah ratingnya. (versi bajakan yg kualitas ori juga sudah banyak beredar hehe..)
Saya tidak akan banyak cerita soal Oceans. Ia dan Earth punya kelebihan dan kekurangan masing2. Saya hanya akan cerita sedikit bagian dari film ini di mana saya begitu marah sampai menyumpah2.
Biadab.. biadab.. biadab… terkutuk…
Bagian itu adalah ketika Oceans menggambarkan praktik shark-finning, alias berburu sirip hiu.
Sirip hiu adalah salah satu makanan tradisional asal Cina. Makanan ini sudah dikenal sejak dinasti Ming. Sirip ini biasanya dibuat sup.
Tapi karena sirip hiu ini rasanya agak hambar, biasanya ia diberi rasa ayam atau macem2lah. Harganya mahal. Iklan di sebuah restoran di Hongkong misalnya mematok semangkuk sup sirip hiu seharga US 100 dolar.
Ada mitos bahwa sirip hiu mujarab sebagai obat kuat laki-laki. That’s bullshit. Sup ini justru berbahaya karena hiu mengandung konsentrasi merkuri dan logam berat di atas rata2 ikan normal.
Makanan ini populer lebih karena status, karena harganya yang mahal hingga citranya adalah makanan elit.
Sudah lama FDA (Food Drugs Administration), badan pengawas makanan di AS, melarang konsumsi sup sirip hiu untuk wanita hamil dan anak2 karena kandungan merkurinya.
Bahkan kalau dikonsumsi berlebihan, sup sirip hiu bisa menyebabkan kemandulan bagi pria karena akumulasi merkuri. Begitulah setidaknya menurut sebuah artikel di koran China Daily.
Tapi yang membuat saya marah sebenarnya bukan soal supnya, melainkan cara memperolehnya. Benar2 biadab.
Setelah ikan hitu ditangkap, ternyata para nelayan itu hanya memotong siripnya, lalu mencemplungkan si hiu itu kembali ke laut.
Pertimbangannya adalah efisiensi. Daging ikan hiu harganya murah, sedang kargo kapal space-nya terbatas. Kalau ikannya dimasukkan sekalian ke dalam kargo, maka akan cepat penuh.
Jadinya cukup dipotong siripnya (ekor juga), lalu si hiu “dikembalikan” lagi ke laut. Dengan begitu meski kapal kecil dan kargonya kecil, para nelayan bisa memuat banyak sirip hiu.
Yang keji adalah, karena cuma sirip yang dipotong, maka ikan itu tidak mati. Ia akan tetap hidup.
Itulah yang terjadi pada hiu-hiu yang dipotong siripnya itu.
Film Oceans dengan jelas menggambarkan hal ini. Setelah kedua sirip dan ekor dipotong, hiu yang masih hidup itu dilemparkan balik ke laut. Tapi karena sudah tidak bersirip, ia tidak bisa apa-apa. Cuma megal-megol (goyang-goyang) mengikuti arus dan tenggelam seperti batu.
Hiu yang sudah tak bersirip itu akan mati pelan-pelan di dasar laut. Mereka biasanya mati tercekik (suffocate) karena darah memenuhi insang, atau mati dimakan hiu lain.
Saya membayangkan kalau seandainya bisa memilih, para hiu itu mungkin akan lebih memilih dimatikan saja ketika di kapal daripada dilempar balik ke laut setelah “dicacatkan” seperti itu.
Terus terang, dari berbagai metode menyiksa binatang, saya sulit menemukan metode lain yang lebih keji dibanding hal ini.
Kalau Anda nonton Oceans, Anda akan melihat secara close-up betapa menderitanya hiu yang tertangkap itu. Dari ketika dicemplungkan balik ke air, tenggelam pelan-pelan sambil megal-megol, sampai ia mendarat di dasar laut masih dalam keadaan hidup.
Biadab.. benar2 biadab.
Dalam Islam, semua hewan yang ada di laut halal dimakan, termasuk ikan hiu. Tapi menyiksa dengan cara sekeji itu adalah hal lain.
Usai nonton, iseng2 saya mencari informasi tentang sirip hiu, dan betapa kagetnya bahwa selain Cina, Indonesia ternyata adalah salah satu negara eksportir sirip hiu terbesar.
Hong Kong handles at least 50% and possibly up to 80% of the world trade in shark fin, with the major suppliers being Europe, Taiwan, Indonesia, Singapore, United Arab Emirates, United States, Yemen, India, Japan, and Mexico. –source
Brengsek!
Lebih kaget lagi karena ternyata di Jakarta ini, setelah saya cari di mbah Google, berjibun restoran yang menjual menu sop sirip hiu. Di kawasan Jakarta Selatan banyak. Di daerah Pasar Minggu ada, di kawasan bisnis Sudirman juga ada.
Shhiiittt!!!
(Makanan sadis itu ga jauh2 ternyata, cuma setengah jam naik motor dari
rumah.)
Salah satu aktivitas nelayan sirip hiu yang ada di Indonesia yang pernah ditulis di dunia maya adalah di Raja Ampat, Irian. Ini pun kebetulan karena si blogger itu adalah orang asing yang memiliki resort di kawasan Raja Ampat dan menuliskan pengalamannya bertemu para nelayan sirip hiu di blog resortnya (ada gambarnya juga).
Daerah yang termasuk penghasil sirip hiu di Indonesia antara lain adalah: hampir semua!
Dari Cilacap sampai Aceh, saya baca ada saja nelayan yang menggantungkan hidup dari berburu sirip hiu. Mereka kebanyakan menjual sirip itu ke distributor untuk diekspor.
Kantor berita Antara pernah memuat foto nelayan Aceh sedang menjemur puluhan sirip hiu. Bisa dilihat di sini.
Saya memang belum pernah makan sirip hiu. Tapi setelah nonton kekejian yang menimpa para hiu, jadi makin berniat untuk tidak makan sirip hiu.
Saya sarankan Anda juga jangan pernah memakan sirip hiu. Walau ikan hiu halal, betapa sadisnya penyiksaan yang dialami ikan itu hanya untuk semangkuk sup.
Dan insyaallah, sepemahaman saya, Islam tidak membenarkan penyiksaan seperti itu.
“Ada orang yang masuk surga karena memberi makan anjing, tapi ada juga yang masuk neraka karena menyiksa anjing” (ucapan Quraish Shihab dalam sebuah episode Tafsir Al Misbah di Metro TV).*
Berikut sedikit gambar:
Memotong sirip hiu

Hiu martil yang sudah dipotong sirip dan ekornya lalu dilempar balik ke laut

Hiu hidup yang ‘mendarat’ di atas karang setelah dilempar balik ke laut.

I wonder why is it hard for them just to kill the shark before cutting n throwing them to the sea.. but, yeah.. the greed from economic principle changes people to be inhuman
salam kenal bang… mohon bimmbingan…