Menikah di depan jenazah?

Kemarin malam tidak sengaja nonton putri mbah surip (Resia namanya) melangsungkan akad nikah di depan jenazah ayahnya.

Saya tidak terlalu suka menyaksikan tayangan itu, makanya langsung ganti channel.

Padahal dulu saya juga nyaris melakukan itu. Alhamdulillah batal, karena insyaallah, menikah di depan jenazah memang bukan sesuatu yang pantas dilakukan.

Apalagi Si Resia jatuh pingsan usai akad nikah. Tak ada senyum atau nuansa kebahagiaan.

Justru keributan. Masalah: keluarga berusaha menyadarkan Si Resia, dan jenazah Mbah Surip jadi lebih lama dikubur.

Padahal untuk apa semua masalah itu? Hanya agar Mbah Surip alm bisa ikut “menyaksikan” pernikahan anaknya.

Betapa tak eloknya. Sekaligus kasihan.

Tentu saja, saya bisa memahami psikologi anak yang ingin orang tuanya bisa “menyaksikan” pernikahan mereka.

Saya sendiri juga pernah berada di titik itu. Ibu (kini almarhum) masih hidup ketika saya melamar. Waktu itu beliau sebenarnya sudah sakit-sakitan, tapi masih memaksakan diri ikut rombongan, melamar ke Malang (rumah istri).

Tanggal pernikahan akhirnya ditetapkan. Tapi sebelum hari H, ibu meninggal. Dan saya pun, seperti Si Resia, sempat berinisiatif untuk menikah di depan jenazah ibu.

In fact, saya sampai melobi orang-orang tertentu di keluarga untuk mendukung ide ini.

Tapi ide itu pupus. Syukur alhamdulillah.

Kebetulan waktu itu saya masih menyimpan sedikit ruang untuk bertanya, untuk yakin kalau hal itu memang baik. Saya akhirnya berkonsultasi dengan ustadz yang saya akui kapasitas ilmu agamanya.

Ustadz itu menjawab kalau di dalam Islam tidak dikenal menikah di depan jenazah. Dia (yang kental tradisi nahdliyinnya)  juga heran, tidak yakin kalau itu merupakan tradisi kalangan nahdliyin.

(karena saya sempat berargumen, “bukannya itu biasa di kalangan NU,  Mas?” hahaha.. klaim geblek memang)

Perbincangan dengan ustadz itu membuat skeptisisme yang tadinya kecil jadi besar.  Akhirnya pun baca lagi, riset lagi, mencari pengetahuan yang benar sebelum memutuskan.

Saya lalu bertemu artikel menarik ini dari ustadz Ahmad Sarwat.

Jawabannya kurang lebih sama dengan jawaban si ustadz nahdliyin yang saya tanya itu. Menikah di depan jenazah memang tidak dosa. Hanya tidak pantas.

Sebab, rasulullah selalu memosisikan pernikahan dengan kebahagiaan, sampai memerintahkan dihidangkan makanan walimah, hingga dibolehkannya nyanyian dengan alat pukul.

Lha wong sikap rasul adalah selalu memposisikan pernikahan dengan kebahagiaan, kok tiba-tiba diswitch ke nuansa duka orang meninggal? Apakah itu pantas?

Kalau saya merenungi lagi masa-masa itu, harus diakui kalau keinginan menikah di depan jenazah itu lebih didorong oleh sugesti. Dengan berencana menikah di depan jenazah ibu,  saya merasakan sugesti bahwa ibu masih sempat menyaksikan saya menikah.

Saya tidak terlambat. Saya menikah sebelum ibu dikuburkan.

Tapi yah, itu cuma sugesti buat diri sendiri.  Yang diciptakan dengan akal-akalan sendiri,  untuk dinikmati sendiri.

Jenazah yang seharusnya segera dimakamkan itu pun untuk sementara dimodifikasi statusnya dari jenazah menjadi simbol. Simbol kehadiran.

Sedang faktanya, my mother is dead.  And I should accept it.

Saya terlambat.  Saya menikah setelah ibu meninggal. And I should accept it too.

Memilih menerima kenyataan pahit itu tanpa membuat-buat sugesti untuk menghibur diri sendiri, meski menyakitkan, insyaallah, adalah keputusan yang lebih tepat. Tak perlu semua simbolisme itu!

Kalau Anda tanya apakah saya menyesali keterlambatan itu, saya jawab:

Ya Allah, betapa egoisnya diriku. Aku menganggap pernikahanku lebih penting dibanding takdir-Mu bahwa ibu harus meninggal hari itu, hingga jenazahnya “kutahan” dulu sebelum kukembalikan pada-Mu.

For the fracking idiot readers (no offense, okay?), itu artinya ya saya agak menyesal. Wong namanya anak. Saya lagian masih manusia, bukan mesin. Jadi masih ada egoismenya.

Tapi maut adalah takdir. Dan kita harus beriman pada takdir.

Anda bisa memilih mengobati penyesalan itu dengan menikah di depan jenazah, atau memilih menerima bulat-bulat takdir Allah dan melakukan apa yang seharusnya diperbuat terhadap jenazah.

Menguburkannya. Bukan menahannya dan menjadikannya simbol kehadiran.

Resia seharusnya menikah tanggal 16 Agustus. Tapi tanggal 4 Agustus Mbah Surip meninggal. Ia terlambat 12 hari.

Saya bisa mengerti penyesalan luar biasa Resia karena terlambat hanya 12 hari. Makanya ia menikah di depan jenazah.

Tapi sekali lagi, menerima takdir tanpa reserve dan melakukan apa yang seharusnya, insyaallah adalah pilihan yang lebih tepat. Seperti yang dikatakan Tante In (keluarga dari pihak istri) yang saya kagumi kealiman dan ketaqwaannya. “Tidak ada yang perlu disesali, semuanya sudah kehendak Allah,” katanya.

Simple words isn’it.

Ibu meninggal subuh, dan dikubur usai ashar.

Memang agak terlambat. Tapi bukan karena ada addendum akad nikah, melainkan karena lubang lahat airnya merembes,  jadi warga kampung harus muter nyari pompa dulu.

(hehehe.. kendala teknis, insyaallah dimaklumi)

Saya sendiri akhirnya menikah dua bulan setelah ibu meninggal. Simply stick to schedule. Dan alhamdulillah bisa merasakan H2C (Harap-harap Cemas) saat akan mengucapkan akad, bisa tersenyum, tertawa, dan jelas tidak pingsan.*

8 comments

  1. debukaki says:

    hehehe.. nice perspective.. tapi ending-e kok ora detil. naratif sithik tho.. gambarkan gimana pas akad, ada berapa kali pengulangan.. :D

  2. basf says:

    hahaha… alhamdulillah ga ada pengulangan. sekali langsung mak nyuuusss! :)

  3. haris says:

    ibaratnya seperti mencampurkan kesedihan dan kebahagiaan dalam satu waktu. gak enak dilihat dan dirasakan.

    btw, mas basfin, mau tanya: katanya di gatra sekarang lagi ada lowongan reporter ya? :D

  4. basf says:

    februari kemarin sih memang ada lowongan resmi, pake ngiklan segala. tapi kalo skrg aku ga tahu, kayaknya sih belum ada.

    tapi ga usah nunggu lowongan. kirim aja. terkadang kalau pas lagi ada kebutuhan mendadak, lgsng dipanggil, atau kalau kalau gatra lagi butuh koresponden daerah misalnya. good luck.

  5. haris says:

    makasih infonya, mas. saya akan mencoba.

  6. bas sih kenal rak, mampir yo ning blog ku

  7. basf says:

    halo mon.. suwi ra petuk. saiki kabare dadi konglomerat warnet yah? hehe..

Post a comment

Copyright © basfinsiregar

Built on Notes Blog Core
Powered by WordPress