Memboikot Carrefour?

boycott-israelSalah satu kabar yang cukup menarik minggu ini adalah rencana pembelian Carrefour oleh Koor Industries, sebuah perusahaan Yahudi.

Ini kabar valid.  Harian The Jerusalem Post edisi 23 Juni 2009 mewawancarai pemilik Koor Industries, yakni seorang billioner Yahudi bernama Nochi Danker, dan mengkonfirmasi rencana ini.

Berita The Jerusalem Post itu bisa dibaca di sini.

Koor Industries berniat menanamkan uang sebesar US 885 juta dolar di Carrefour, yang setara dengan kepemilikan 3% saham.

Bila rencana pembelian ini jadi, maka Koor Industries akan jadi pemegang saham terbesar kedua di Carrefour.

Lantas, haruskah kita memboikot Carrefour?

Sayang agak terlambat. Sebelum ini pun Koor Industries sudah memiliki saham sebesar 0.25% di Carrefour. Ini artinya tiap kali belanja di Carrefour, kita secara tidak langsung menyumbang kepada Nochi Danker, si yahudi itu.

Tapi kalau mau jujur, sebenarnya bukan hanya Carrefour yang perlu diboikot karena keterkaitannya dengan Yahudi.

Korporasi semacam McDonald’s, Starbucks, Coca Cola, Intel, juga layak diboikot. Dan daftar ini masih bisa diperpanjang.

Intel misalnya, terbukti membangun pabrik komputer di desa Al Faluja. Raksasa processor itu menutup mata terhadap fakta bahwa Al Faluja adalah desa Palestina yang dirampas oleh Israel.

Sebanyak 3100 warga Al Faluja mengungsi karena intimidasi tentara Israel. Baru setelah tanah itu kosong, Intel datang, membuat deal dengan Israel, lalu membangun pabrik.

Kasus perampasan tanah itu terdokumentasi dengan baik. Anda bisa baca detilnya di artikel koran San Fransisco Chronicle di sini.

Menyedihkan, bukan? Juga ironis. Terutama karena postingan ini saya ketik lewat sebuah komputer dengan processor Intel di dalamnya.

Pada akhirnya memang tidak bisa dipungkiri kalau “Yahudi” sudah berperan dominan dalam kehidupan kita di Indonesia. Berikut saya kasih list daftar nama perusahaan yang terlibat membantu Israel dan karenanya –kalau kita mau strict– harus diboikot.

  • Aol Time Warner (Produk: Time, CNN, ICQ)
  • Arsenal Footbal Club
  • Coca Cola
  • Disney
  • IBM
  • Intel
  • L’Oreal
  • Marks & Spencer
  • Motorola
  • Nestle
  • News Corporation
  • Nokia
  • Revlon
  • Sara Lee
  • Siemens
  • Starbucks

Daftar itu saya ambil dari situs http://www.inminds.com. Ini adalah situs yang sangat terkenal mengkampanyekan boikot terhadap perusahaan atau brand yang terus mensupport Israel.

Saya sangat rekomen Anda untuk melongok-longok isi situs itu, karena mereka tidak asal main tuding, melainkan memberikan alasan mengapa perusahaan itu perlu diboikot.

McDonald’s dan Sara Lee misalnya adalah major partner United Jewish Fund, lembaga donor Israel.  United Jewish Fund bahkan pernah mengucapkan terima kasih kepada McDonald’s secara terbuka di situs mereka.

Meski halaman itu sekarang sudah lenyap dari situs mereka, inminds sempat membuat screenshotnya sebagai berikut.

mcdonalss-juf

Sedang Starbucks dianjurkan untuk diboikot karena CEO-nya, yakni Howard Schultz adalah seorang Yahudi Amerika yang mendukung Israel (meski pihak Starbucks selalu menyangkal).

Robert Fisk, wartawan veteran Timur Tengah untuk harian The Independent, menulis bahwa Shultz pada 1998 mendapat penghargaan “Israeli 50th Anniversary Tribute Award”. Schultz juga mengatakan bahwa occupied Palestinian territories should be described only as “disputed”.

Anda bisa baca artikel Fisk itu di sini.

Now back to the first question. Haruskah Carrefour diboikot? Bila ya, bagaimana dengan semua perusahaan lain itu? Kalau hendak adil, tidakkah mereka seharusnya diboikot juga?

Jawaban saya sederhana. Boikot yang bisa sajalah. Kalau tidak bisa, ya apa boleh buat. Kita berusaha untuk tidak membantu Yahudi, tapi juga jangan sampai bersikap ekstrim pada diri sendiri. Ambil jalan tengah.

Dalam kasus Carrefour, sejak awal saya memang tidak terlalu suka dengan peritel itu karena mematikan pedagang dan warung kecil. Apalagi setelah Carrefour membeli 75% saham PT. Alfa Retailindo (Alfamart Supermarket Alfa).

Meski bukan berarti saya tidak pernah beli ke Alfamart Alfa. Terkadang ada beberapa produk yang tidak terdapat di warung dekat rumah hingga harus mampir ke Alfamart Alfa. Tapi bila barang itu ada di warung, ya lebih baik ke sana saja.

Untuk intel, memang agak susah. Pasalnya komputer intel relatif lebih baik dibanding Amd. Terlalu ekstrim kalau saya tidak memakai intel. Akhirnya ya apa boleh buat, untuk Intel ya tetap pakai. Darurat bo, hehe. :)

Saya memang cenderung menggunakan prinsip Ben Parker, paman  Spiderman di sini. With great power, comes great responsibility.

Mereka yang cukup punya kemampuan, yang tergolong menengah ke atas, akan lebih mampu  selektif untuk tidak memakai produk yang berafiliasi dengan Israel dibanding mereka yang penghasilannya pas-pasan.

Harga telor di Carrefour misalnya memang lebih murah dibanding di pasar tradisional (istri yang cerita). Jadi kalau Anda agak miskin dan kebetulan ada gerai Alfamart Alfa dekat rumah, ya kenapa ga beli di sana?

Tapi beda bila Anda cukup kaya. Secara moral, you’re responsible untuk beli telor di warung karena Anda mampu menanggung selisih harganya.

Tentu saja kalau Anda hendak politically strict, memang sebaiknya menghindari semua produk di atas. Tapi can you do it?

Saya pribadi sudah menjawab tidak.  Saya masih memakai produk intel, beberapa kali menonton film keluaran 20th Century Fox (anak perusahaan News Corp) di bioskop, juga beberapa kali –walau tidak sering– berbelanja di Alfamart Alfa.

Sebelumnya, terutama ketika masih single, saya juga cukup sering nongkrong di Starbucks. Meski sekarang sudah tidak lagi. Bukan karena sikap politik, melainkan ekonomi. Setelah menikah, menghabiskan segelas kopi seharga Rp 60 ribu rasanya kok kelewatan. :)

Saya pikir sebuah boikot yang efektif harus berlangsung dalam jangka panjang. Tidak hanya ketika Gaza dibombardir Israel beberapa bulan lalu –dan seruan boikot jadi rame– tapi setelah itu kembali sayup-sayup tak terdengar. Business as usual.

Dan sikap konsisten semacam itu memang harus ditumbuhkan pelan-pelan, lewat budaya. Tidak bisa serta merta lewat seruan politik. It’s still a long way. But still, mengetahui perusahaan atau brand mana yang dekat afiliasinya dengan Israel adalah langkah awal.*

Update: Seperti disampaikan salah satu komentar di bawah ini, Alfamart dan Alfa memang dua entitas berbeda. Meski ada’sedikit kesamaan.

Alfamart dimiliki oleh PT. Sumber Alfaria Trijaya yang merupakan anak perusahaan. 60% saham PT.Sumber Alfaria Trijaya dimiliki oleh PT. Sigmantara Alfindo.

Sedang PT. Alfa Retailindo, operator Supermarket Alfa, juga anak perusahaan. 25% saham  PT. Alfa Retailindo dimiliki jugga oleh PT. Sigmantara Alfindo. Sedang 79,89% dimiliki Carrefour (skrg masih dalam proses keputusan KKPU).

Adalah PT. Sigmantara Alfindo yang memiliki saham baik di Alfa dan Alfmart. Sedang Carrefour hanya punya saham di Alfa.

link: http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/03/tgl/05/time/143057/idnews/904325/idkanal/6

3 comments

  1. debukaki says:

    yup still long way to go.. jihad terlemah kita, namun juga tidak mudah..

  2. Bilhaki says:

    Setelah sedikit browsing, yang dibeli CArefour adalah Alfa Gudang Rabat dari PT Alfa Retailindo Tbk.
    Sedangkan alfamart dari PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. Keduanya tercatat di Bursa Efek.
    Mohon pencerahannya.

    Untuk masalah murah dan mahal atau dekat dan jauh, akan timbul pertanyaan, jika anda diminta mau makan daging, tapi karena daging babi penjualnya lebih dekat dan harganya lebih murah, bagaimana pendapat anda??

  3. basf says:

    Anda benar. Setelah saya cek lagi, yg dibeli memang Alfa Gudang Rabat, dan itu berdasarkan putusan KKPU kepemilikan sahamnya harus dilepas –meski Carrefour mengajukan banding.

    Alfamart bukan milik Carrefour. Trims banyak atas koreksinya. Saya akan segera perbaiki tulisan ini.

    Soal daging babi, yah, saya tidak makan daging babi. Jadi pendapat saya sudah jelas.

Post a comment

Copyright © basfinsiregar

Built on Notes Blog Core
Powered by WordPress