Hari ini capek sekali. Di kantor aku sempat ngantuk di depan komputer. Hampir saja jidatku nubruk layar komputer tak berdosa ini.
Padahal sel saraf udah digenjot dengan kopi dua gelas. Tapi ngga mau on juga. Sel bandel itu kok justru mbayangin tidur di kasur empuk, bersih, buka baju, lalu ngguling-ngguling kayak kucing saking nyamannya.
Hayah.
Ini kan namanya insubordinasi. Aku sebagai bos udah kirim perintah ke neuron untuk stay on. Sampai tak sogok kopi dua gelas. Tapi dia kok mbandel. Ngga mau nurut. Bukannya segera on kok malah ngguling-ngguling dalam khayalan.
Nggapleki.
Marai aku misuh-misuh.
Kontradiksi.
Lha ada neuron ga mau ikut perintah bos itu kan kontradiksi. Sekaligus pembangkangan. Sebab sebagai human, aku ngga bisa menoleransi gejala federalisme dari organ-organ tubuhku.
Semuanya harus manut, satu komando, sami’na wa ato’na. Biar aku dikate despot go to hell.
Tapi setelah dipikir-pikir, aku memutuskan untuk open-mind. Siapa tahu neuron yang ngeselin ini tidak sedang menggalang pemberontakan. Bisa jadi dia sekadar menyalurkan aspirasi yang tersumbat.
“Hoi bos, gue capek nih disuruh on terus!”
“Gue demand waktu istirahat!”
Trying to be a wise ruler, aku dengerin curhat si neuron sambil manggut-manggut. Okay, keluhan ditampung. Tapi keputusan tetap ada di tanganku! Ga boleh protes! Protes mbayar!
Penasehat keamanan dalam negeri kasih masukan berharga. Katanya, kalau si neuron ini diabaikan aspirasinya, bisa-bisa kabupaten lain seperti mata ikut ngambek. Gawat kalau dia udah ngambek. Bisa-bisa bos –alias diriku– mendadak merem.
Thus, mempertimbangan unsur national security, kupikir ga apa-apalah kali ini diriku mengalah. Toh despotismeku ngga berkurang derajatnya. Kalau si neuron mulai bertingkah lagi, ntar kuterapkan pemerintahan tangan besi dengan memberi asupan gambar porno ke mata.
Mata pasti langsung on dikasih asupan kayak itu. Terus bawah perut mendukung. Dikeroyok dua kabupaten sekaligus, si neuron mau ngga mau pasti on juga. Divide et empera. Pecah belah dan jajahlah.
Huahahaha.. pemikiran jenius. Diriku memang cerdas.
Okay neuron, saat ini kutampung aspirasimu. Ayo pulang ke kos, tidur. But don’t forget who’s the boss. You macem-macem, tak hajar dengan klip Asia Carrera.
“Ora bos, ora wani macem-macem.”
Aku manggut-manggut, puas, bisa tetap mempertahankan derajatku sebagai despot.
“En you jangan lupa kalau ane bukannya mengalah, tapi karena lagi pingin berbesar hati. You remember that!”
“Ora, matur nuwun, bos,” kata neuron sambil munduk-munduk.
So, akhirnya bos, neuron, mata, dan kabupaten-kabupaten lain di sekitarnya bareng-bareng pulang ke kos. Istirahat. Tidur. Kasihan layar komputer ora salah dijeduki terus. ![]()
[semua kata-kata porno di posting ini bersifat fiksional dan tidak sungguh-sungguh diniatkan oleh si bos yang sebenarnya, insyaallah, baik hati.]