I’m already married now. Tepatnya tanggal 9 Juni 2007 lalu di Malang, Jawa Timur. Istriku adalah Ajeng Ritzki Pitakasari (now Siregar), once a very good friend of mine –dan masih sampai sekarang.
Pernikahan dilangsungkan sederhana. Gaya kampung. Start jam 8 dan selesai jam 12.30. Jam 1 siang aku bahkan sudah mencopot baju pengantinku dan pakai kemeja putih biasa. Maklum, tamu tidak terlalu banyak. Di buku tamu kulihat cuma sekitar 80 nama.
But that’s fine with me. Yang penting sah dan halal. We can afford to marry was very-very alhamdulillah. Sebab dana pernikahan ini berasal dari kantong pribadi kami berdua –yang pas-pasan. Bahkan untuk souvenir kami dibantu oleh Mrs. Dhini, kawan baik istriku.
Sayang ibuku tidak bisa melihat aku menikah. Tapi aku masih alhamdulillah karena ibu sempat bertemu dan kenal dengan istriku. Beliau juga sudah merestui. Waktu keluarga kami melamar secara resmi (Oktober 2006), ibuku juga datang.
Sebelum pernikahan, keluarga kami memang melamar terlebih dulu. Seluruh keluarga besarku datang. Full-armed. Termasuk bibiku yang dari Lampung, dia juga menyempatkan ke Malang bersama suami dan anak-anaknya.
So, I’m now entering a new phase of my life. Kini sudah sebulan lebih diriku berstatus married. Ada beberapa hal penting yang mulai kupahami tentang pernikahan. Terutama esensi akad nikah yang ternyata sangat berat itu. “Pernikahan adalah sesuatu yang sakral,” begitu kata ibuku. And she was absolutely right.
Tapi itu nanti. I don’t wanna discuss anything right now. Just one thing is sure. Pernikahan itu adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat. Dan aku bersyukur pada Allah aku sampai di titik ini. *
Below are some pictures:

(aku, ibuku, dan bibiku yang dari lampung pas acara lamaran, Oktober 2006)

(Pamanku, berdiri, menjelaskan kepada keluarga besar di Malang bahwa tujuan kedatangan kami adalah untuk melamar, Oktober 2006)

(Akad nikah di Malang, Juni 2007)

(Penandatanganan akta nikah oleh saksi)