
(Cover majalah Hayamwuruk Des 2008 -dok HW)
Barusan saya dapat email kalau Hayamwuruk telah terbit. Alhamdulillah. Ia belum mati ternyata.
Hayamwuruk, beken disebut HW, adalah majalah mahasiswa Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro. Majalah ini sempat ‘mati suri’ selama 4 tahun sebelum akhirnya, minggu kemarin, terbit.
Saya dulu aktif di sana, dari tahun 1996-2003. Tujuh tahun. Dari mahasiswa baru yang culun dan guoblok, terus jadi reporter, sampai akhirnya jadi pemred yang berkuasa (dan semena-mena tentu) terhadap para junior.
7 years was perhaps damn too long untuk sebuah proses pendewasaan. Apalagi kalau sekadar proses intelektual.
Tapi mungkin itu perlu bagi mereka yang imbecile dan lambat belajar –seperti saya. A lesson is repeated until it is learned, some people say.
And I paid the price: stress plus menjadi satu dari 3 mahasiswa Sastra Inggris seangkatan yang paling akhir lulus.
(nyaris drop out bahkan, kalau bukan karena pertolongan Allah yang Maha Kuasa, yang mungkin kasihan melihat makhluk-Nya bernama si basf yang pontang-panting mengumpulkan SKS sambil nyusun skripsi dan ubyek sana-sini to survive)
But it’s worth it. Saya belajar banyak selama di sana.
Udin, Pemimpin Umum (PU) HW yang sekarang, mengupload naskah PDF HW edisi terbaru dan mengirim link-nya ke email.
Membaca sekilas HW versi PDF itu entah mengapa membuat saya jadi teringat masa lalu. Masa ketika masih aktif di HW, tidur di kampus, bolos kuliah, all the pain and joy…
Huh, diriku lagi sentimentil?
Mudah-mudahan tidak. Kebetulan saya bukan penganut aliran sinetron Indonesia atau telenovela, jadi ngga terlalu pro dengan romantisme atau sentimentalisme.
Saya hanya senang HW bisa kembali terbit. Selama 4 tahun terakhir ini saya –juga alumni HW yang lain– seringkali menyindir, bahkan ‘menghina’ Udin karena sangat kelewatan molor dalam menerbitkan majalah.
I guess the time of harsh criticism and insult is over now. Sekarang saatnya berbaik-baik.
Lagipula edisi HW “Fenomena Sastra Islami” itu tidak terlalu buruk. Bahkan bisa dibilang bagus. Can keep up the name and the famous motto “Refleksi Budaya dan Intelektualitas Mahasiswa”.
Meski aktivisme kampus di tahun 2008 sudah berbeda jauh dengan masa saya dulu, saya percaya masih ada mahasiswa yang ‘nyleneh’ seperti saya, yang bosan kalau hanya melulu kuliah, dan butuh proses belajar dari tempat lain.
Hayamwuruk can be a good place to start. Dan dengan masih terbitnya majalah itu, setidaknya Udin cs masih menyediakan tempat belajar buat para juniornya.
Lagipula, tinggal berapa pers mahasiswa yang masih aktif saat ini? I’m sure lots of them collapsed.
Hayamwuruk, untungnya, masih selamat. Mudah-mudahan masih bisa terus selamat.*
PS: Naskah PDF Hayamwuruk (1,2 MB) bisa didownload di sini (part I) dan di sini (part II).
majalah hw edisi ini bisa dibilang bagus, makasih banyak. atw bagus, daripada tidak terbit? haha.. saya sendiri merasa tak maksimal. sebenarnya saya punya banyak bahan. literatur sastra islam jawa sudah disiapkan, tapi tak jalan juga. untuk laput terlepas dari desain yang amat konvensional dan minimalis, setelah saya baca lagi, laporannya kurang menukik.
aku teringat ucapan arif entah dalam kesempatan apa, yang penting hw tidak mati pada masanya. setidaknya aku pun sekarang bisa mengatakan. tapi bagaimana dengan kader berikutnya?
jujur, aku sampai sekarang iri kenapa arif dibacking litbang yang saat itu menurutku sangat solid. di kepengurusanku, aku tak punya itu. arif bisa seenaknya ngomong kayak gitu, tapi aku harus berpikir beberapa kali untuk mengatakan hal yang sama. sayang, dalam soal action, terutama penerbitan majalah, aku tak memberikan contoh yang baik.
apakah dengan demikian ini sebagai pembenaran, bahwa pada akhirnya mereka yang menjadi pengelola inti dipaksa dengan berjalannya waktu untuk mengerti. aku yang dulu magang jarang bolos, tiba2 saja menjadi PU. bisa jadi, PU berikutnya, adalah orang yang sama sekali tak kuperhitungkan. biarlah, yang penting aku telah berbuat menyiapkan kader-kader yang menurutku punya kemampuan, dan yang tak kalah pokok, mereka bisa loyal. ya, th ini saya genap 7 thn. serasa singkat sekali. anda waktu bisa diputar, aku berpikir bisa melewati masa kepengurusanku lebih baik
soal generasi berikutnya, yang penting dirimu sudah berusaha. berhasil atau tidak, biar Allah saja yang memutuskan.
btw, bukuku jgn lupa dibalikin ya.
ok, bukunya masih tak pake. aku ngejar april bisa kelar skripsi. nanti tak antar ke kaliwungu.
o ya, kalau bisa disempatin acara temu alumni minggu depan, 11 jan 2009, di tempatnya mas teguh hp, sendangmulyo semarang. trims
good work, din..
hawe belum mati, setidaknya tidak ketika di masa pengabdianku. sekarang dia terbukti belum juga mati, meski di masa pengabdianmu. baru separuh mati lah.. (karena baru terbit satu edisi di masa kepengurusanmu). hehe..
back up penuh litbang (basf dkk) di masaku, ada di masa penerbitan edisi pertama, tapi back up litbang (hendra dkk) di edisi kedua, tidak sepenuh sebelumnya. ini juga terjadi padaku. in the end, pada akhirnya aku (dan hendra kala itu) harus lulus..
BTW, aku ga sampe sekarang belon download naskah hawe terbaru. karena, aku ingin membaca hawe secara langsung, dateng ke kantor kumuh itu, melihat halaman demi halamannya, sekalian tetirah.
anyhow, good work.
Senang juga baca komentar2 soal HW. Walau bukan awak HW, pada 1980an, saya sering nongkrong di redaksi HW. Banyak kenalan disana. Bila main ke Semarang, kalau tidak di HW … ya nongkrong di Manunggal. Ia meninggalkan banyak kenangan.
waah, baru tahu kalau mas andreas juga pernah nongkrong di HW. diriku kurang info ternyata