Gideon’s Spies: Buku bagus tentang Mossad

Beberapa hari lalu Penerbit Pustaka Primatama mengirimkan dua edisi Gideons’ Spies, Sejarah Rahasia Mossad ke kantor (yang satunya untuk redaktur buku Gatra).

Itu adalah kedua kalinya –setelah Birdman– saya terlibat dalam proyek buku. Honornya oke. Meski duitnya sudah lama habis jauh sebelum bukunya terbit, hehe.. (ngga ada hubungannya memang)

Saya mau sedikit mempromosikan buku itu. Bukan karena saya terlibat sebagai editor, tapi karena insyaallah, buku itu memang layak baca.

Lewat buku itu, saya mendapat banyak informasi tentang karakter Mossad, juga istilah-istilah yang kerap digunakan oleh badan intelijen Israel itu.

Misalnya,

  • kidon: tim pembunuh Mossad
  • katsa: agen lapangan
  • sayanim: warga sipil yang diam-diam membantu Mossad
  • mabuah: informan Mossad non-Yahudi

Satu bab buku itu, yang aslinya berjudul The Spy in The Ironmask (diterjemahkan menjadi Mata-mata Bertopeng Besi) khusus bercerita tentang Rafi Eitan, deputi Mossad yang legendaris kelihaiannya (apalagi kalau merencanakan pembunuhan).

Bab itu berjudul Mata-mata Bertopeng Besi karena Eitan, kalau lagi ngga ada kerjaan mbunuhi orang, punya hobi membuat patung dari logam.  Ia semacam seniman amatir: suka mengumpulkan besi-besi tua, kuningan, tembaga, lalu melasnya menjadi sebuah “karya seni” hehe.

Nah, ketika asyik membuat patung itu ia mengenakan topeng las –dari situlah judul Mata-Mata Bertopeng Besi muncul.

(ia bahkan pernah memamerkan karya-karya patung lasnya dalam sebuah pameran amatir)

Saya suka membaca bab tentang Eitan karena karakternya  yang berdarah dingin, khas sypmaster papan atas. Berikut saya kasih sedikit spoiler tentang isi dari bab Mata-Mata Bertopeng Besi itu.

Bab itu banyak bercerita bagaimana Eitan memimpin sebuah operasi Mossad untuk menculik Adolf Heizman, mantan perwira Nazi dari persembunyiannya di Argentina. Penculikan yang terjadi bulan Mei 1960.

Mossad mendapat info kalau Heizman, 55 tahun, telah berganti nama menjadi Ricardo Klement dan bekerja sebagai mandor di pabrik Mercedez Benz di Buenos Aires, Argentina. Satu tim pemburu Mossad yang dikomandani Eitan pun dikirim.

Malam 11 Mei 1961, Eichman lagi menunggu bis di jalan habis pulang kerja. Dua orang agen mendekat –EItan salah satunya– dan segera merenggut Eichman dari pinggir jalan. Eitan memiting leher mantan perwira Nazi itu, agen satunya segera membuka pintu mobil, dan Eichmann didorong masuk (sempat dipukul tengkuknya hingga nyaris pingsan). Drama penculikan di pinggir jalan itu berlangsung tidak lebih dari lima detik. Mobil itu kemudian menuju sebuah rumah aman sekitar 5 km dari Buenos Aires.

Tidak ada yang bicara dengannya. Dengan diam-diam, mereka tiba di rumah aman mereka, sekitar 5 km jauhnya. Rafi Eitan memberi aba-aba kepada Eichmann untuk menanggalkan seluruh pakaiannya. Lalu ia membandingkan segala ciri fisiknya dengan rincian yang tertera dalam sebuah berkas SS yang diperolehnya. Ia tidak terkejut melihat Eichmann entah bagaimana berhasil menghilangkan tato SS-nya. Tapi berbagai ciri fisik lainnya cocok dengan berkas itu – ukuran kepalanya, jarak di antara siku dengan pergelangan tangan, antara lutut dan tumit. Ia kemudian merantai Eichmann di tempat tidur. Selama sepuluh jam ia ditinggalkan tanpa sama sekali diajak bicara. Rafi Eitan “ingin menumbuhkan perasaan putus asa.

Persis sebelum matahari terbit, kondisi mental Eichmann mencapai titik paling rendah. Saya menanyakan namanya. Ia mengucapkan nama Spanyolnya. Saya berkata, bukan, bukan, bukan, nama Jerman kamu. Ia mengatakan nama Jerman samarannya – nama yang digunakannya untuk lari dari Jerman. Saya kembali berkata, bukan, bukan, bukan, nama kamu yang benar, nama SS kamu. Ia lalu berbaring lurus di tempat tidurnya, seakan-akan berdiri dalam sikap sempurna, lalu berkata dengan suara keras dan jelas, ‘Adolf Eichmann.’ Saya tak bertanya apa-apa lagi kepadanya. Itu tak lagi perlu.”

Adolf Eichmaan akhirnya digantung pada 31 Mei 1962 di penjara Ramla. Pada hari eksekusinya, Rafi Eitan hadir. Meski beberapa saat lagi akan digantung, Eichman tetap tidak kehilangan sikapnya. Ia bersikap sempurna layaknya perwira SS dan menatap tajam ke Eitan.

“Eichmann memandangi saya dan berkata, ‘Waktumu pasti tiba, Yahudi,’ dan saya menjawab, ‘Tapi bukan hari ini Adolf, bukan hari ini.’

Selain soal Eitan, masih banyak lagi bab (total ada 15 bab) yang menceritakan berbagai aksi Mossad: bagaimana mereka mendapatkan teknologi nuklir, berperang melawan badan intelijen Cina di Afrika, pembunuhan terhadap petinggi PLO Khalid Ibrahim al Wazir (ditembak di depan anak dan istrinya), penculikan terhadap mantan pelarian Nigeria Umnaro Dikko, keterlibatan Mossad dalam skandal Iran-contra, info tentang pembunuhan terhadap Paus Yohannes Paulus II, skandal seks Bill Clinton-Monica Lewinsky, hingga keterlibatan Mossad dalam kecelakaan yang menewaskan Putri Diana dan Dodi Al-Fayed.

Pengarang buku ini, Gordon Thomas, adalah wartawan. Jadi gaya penulisannya sederhana, enak, khas bahasa jurnalistik. Thomas mendapat banyak info dari dunia intelijen karena bapak mertuanya, Joachim Kraner, adalah perwira dinas intelijen Inggris, M16, yang mengendalikan jaringan di Dresden setelah Perang Dunia II. Thomas juga menjalin hubungan akrab dengan WIlliam Francis Buckley, mantan kepala stasiun CIA di Beirut yang kemudian dibunuh oleh Hezbollah.

Baca profile tentang Gordon Thomas yang ditulis oleh dia sendiri di sini dan di sini.

Terakhir, sebagai catatan, lazimnya karya investigasi jurnalistik (buku ini memang kurang lebih seperti itu), Thomas berulang kali menggunakan sumber anonim untuk mendukung informasi yang ia sampaikan.

Tentang eksekutor yang menembak Khalid Ibrahim al Wazir, ia hanya menyebut orang itu dengan nama “Pedang”. Ia juga menggunakan banyak sumber anonim untuk melukiskan intrik di internal Mossad.

Dari segi validitas, penggunaan sumber anonim ini mungkin menganggu. It’s not verifiable. Kita hanya bisa percaya atau tidak percaya. Namun bukan berarti tulisan Thomas ini sekadar fiksi. Ada beberapa nama, terutama dari mantan agen Mossad yang kemudian ‘didepak’ hingga akhirnya jadi ‘pembangkang’ yang juga disebut di buku ini.

My advice is, buku ini layak dibaca, tapi kita harus hati-hari mencerna informasi di dalamnya. Ada banyak review yang pro maupun kontra terhadap buku ini. Yang anti-Israel biasanya pro, sedang yang pro-Israel biasanya kontra, hehe..

Btw, sekadar info, ketika buku ini terbit (pada 1999), juru bicara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, David Bar-Illan mengecam tuduhan Thomas terhadap Netanyahu di buku ini sebagai “beyond the pale and beneath contempt”.

Apa tuduhan Thomas terhadap Netanyahu di buku itu? Well, enough spoiler. You’d better get the book.*

6 comments

  1. Andre says:

    Buku ini sangat bagus untuk dibaca, gw sdh beberapa kali baca tetap tdk membosankan. Kapan Jilid 2 nya terbit

  2. basf says:

    wah, kalau soal itu saya tidak tahu mas. silakan tanya penerbitnya langsung.

  3. adi says:

    saya belum membaca buku sejarah rahasia mossad jilid 1 ini, tapi kalau membaca cuplikannya diatas, ada cerita yg bertentangan dengan yang diceritakan di buku: “mossad – menguak tabir dinas intelijen israel” karangan dennis eisenberg dkk, diceritakan disitu bahwa penangkapan adolf eichmann sedikit berbeda dgn yg diceritakan di buku karangan gordon thomas ini, jadi mana yg benar?

  4. basf says:

    wah, saya jelas ga tahu mas. bisa jadi salah satu benar atau kedua2nya salah. dunia intelijen kan samar. tapi sampeyan bagus ada referensi pembanding. saya yg dennis eisenberg malah belum baca.

  5. Gratisan dong says:

    Jah ga gratis ya…hihihihihi

  6. Meir says:

    Kebetulan sy udh baca kedua buku tersebut, kl yg Denis eisenberg sy baca waktu masih SD kebetulan itu buku favorit bapak. (untung aja skrg dibuat cetakan barunya). Mgkn krn udh baca lebih dulu, sy lebih menyukai karangannya Dennis. Susunan ceritanya lebih enak untuk dicerna.

Copyright © basfinsiregar

Built on Notes Blog Core
Powered by WordPress