<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>basfinsiregar</title>
	<atom:link href="http://basfinsiregar.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://basfinsiregar.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Nov 2011 08:41:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.4</generator>
		<item>
		<title>Ubuntu buat pemula</title>
		<link>http://basfinsiregar.com/ubuntu-buat-pemula/</link>
		<comments>http://basfinsiregar.com/ubuntu-buat-pemula/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 07:25:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basf</dc:creator>
				<category><![CDATA[techie]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basfinsiregar.com/?p=783</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai beginner di Linux, sebenarnya saya tidak tahu banyak mengenai tips dan trik seputar Linux. Apalagi saya memang bukan alumnus jurusan komputer. Jadi guide ini sebaiknya dipandang sebagai pengalaman pribadi penulisnya saja ketika beralih ke Ubuntu. Saya sudah setahun lebih menggunakan Linux, dan tiga kali menggunakan distro berbeda. Pertama Mandriva, kedua OpenSuse, dan ketiga Ubuntu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai beginner di Linux, sebenarnya saya tidak tahu banyak mengenai tips dan trik seputar Linux. Apalagi saya memang bukan alumnus jurusan komputer.</p>
<p>Jadi guide ini sebaiknya dipandang sebagai pengalaman pribadi penulisnya saja ketika beralih ke Ubuntu.</p>
<p>Saya sudah setahun lebih menggunakan Linux, dan tiga kali menggunakan distro berbeda. Pertama Mandriva, kedua OpenSuse, dan ketiga Ubuntu.</p>
<p>Saya memiliki penilaian tersendiri terhadap tiga distro Linux itu, yang jelas akan berbeda dari penilaian orang lain. Tapi pemilihan distro memang hal subyektif, tergantung kebutuhan dan karakter penggunanya.</p>
<p><strong>Distro mana yang lebih baik?</strong><br />
Menurut saya kalau mau diranking, pertama adalah Ubuntu, disusul Mandriva, lalu OpenSuse. Distro terakhir ini yang agak mengecewakan.<br />
Saya bahkan agak emosi dengan OpenSuse karena programnya berjalan lambat, ribet dalam instalasi driver Wireless, modem, dsb. Pengalaman buruk dengan OpenSuse juga yang akhirnya membuat saya meninggalkan KDE dan beralih ke desktop berbasis Gnome &#8211;yakni Ubuntu.</p>
<p><strong>Ubuntu yang mana?</strong><br />
Sewaktu memutuskan beralih ke Ubuntu, saya baru tahu kalau Ubuntu dirilis dalam dua versi, yakni versi terbaru (latest release) dan versi LTS (Long-Term Support).</p>
<p>Apa bedanya?</p>
<p>Versi latest release adalah Ubuntu yang diupdate tiap enam bulan sekali, sedang LTS diupdate tiap 3 tahun sekali. Ketika itu Ubuntu latest release sudah mencapai versi 11.04 (Natty) sedang LTS baru sampai versi 10.04 (Lucid).</p>
<p>Pertanyaannya Ubuntu versi mana yang hendak dipilih?</p>
<p>Saya membaca di berbagai forum internet kalau banyak user yang kecewa dengan versi 11.04. Sebagian bahkan berusaha men-downgrade Ubuntu Natty mereka ke versi 10.10 (Maverick) karena dianggap lebih bagus.</p>
<p>Di tengah kebingungan harus memilih Ubuntu versi mana, ada user yang memberikan perspektif jitu. Katanya, kalau Anda adalah orang yang berusaha untuk tetap up to date dengan teknologi, mau menerima resiko menginstal OS yang terus masih dalam tahap development, tidak terganggu kalau sesekali ada masalah, tertantang untuk mencari solusi kalau misalnya ada driver problem, senang mencoba berbagai tweak &#8211;dengan kata lain hobi ngoprek&#8211; maka sebaiknya pilih Ubuntu versi latest release.</p>
<p>Sebaliknya kalau Anda tipe orang yang prefer stabilitas, cenderung menggunakan komputer untuk aplikasi yang itu-itu aja, tidak banyak mengoprek, tidak keberatan menggunakan aplikasi-aplikasi berusia lanjut, maka LTS yang stabil adalah pilihan yang cocok.</p>
<p>Penjelasan si user itu terasa mencerahkan. Karena profesi saya secara alamiah sudah tidak stabil, kalau ditambah lagi dengan instabilitas di bidang komputer bisa-bisa kejiwaan jadi tambah ruwet..</p>
<p>Akhirnya saya pun memutuskan menggunakan Ubuntu 10.04 LTS (aka Lucid)</p>
<p>Instalasi Ubuntu secara teori sangat mudah. Tapi praktiknya saya butuh 2 hari lebih untuk bisa menginstall Ubuntu ke laptop karena masalah driver,</p>
<p>Perlu diketahui kalau saya menggunakan laptop dengan sistem dual boot antara Windows XP dan Ubuntu. Sudah banyak guide tentang cara cara menginstal dua OS berbeda ke dalam satu laptop dan tidak perlu diulangi lagi.</p>
<p><strong>Instalasi Ubuntu<br />
</strong>Berikut langkah-langkah instalasi Ubuntu. Karena CD-ROM saya error, maka instalasi ini dilakukan via Live USB.</p>
<p><strong><span id="more-783"></span> 1.Download ISO Ubuntu.</strong><br />
Ada banyak mirror server di Indonesia. Tidak harus mendowload dari situs resmi Ubuntuk untuk mendapatkan ISO rilis terbaru. Salah satu tempat bagus untuk mencari lokasi server lokal adalah lewat situs <a href="kambing.ui.ac.id" class="broken_link">kambing.ui.ac.id</a>, karena mereka juga membuat list berbagai mirror server dari berbagai universitas. Anda juga bisa mengunjungai <a href="http://ubuntu.pesat.net.id/releases/">http://ubuntu.pesat.net.id/releases/</a> dan memilih versi Ubuntu mana yang cocok. Untuk laptop, saya lebih suka menggunakan vesi Ubuntu desktop.</p>
<p><strong>2. Download program Unetbootin.</strong><br />
Unetbootin adalah program kecil yang  bisa membuat Live USB dari ISO. Sangat ideal untuk laptop yang CD-ROMnya error seperti punya saya. Saya mendownload Unetbootin untuk versi Windows. Jadi pembuatan Live USB Ubuntu ini dilakukan under Windows, hehe.. (ironis ya)</p>
<p>Buat Live USB Ubuntu dengan Unetbootin. Setelah Live USB jadi, jangan lupa mengubah setting boot priority di BIOS (removable disk paling atas) agar bisa booting dari USB. Kalau BIOS Anda tidak support untuk booting via USB, lalu CDROM juga error, well&#8230; just stop reading this. Wont do you any good.</p>
<p>Setelah booting dari USB, lalu hendak menginstal, tiba-tiba mak jegagik ERROR&#8230;  laptop saya hang.. freezes.. what the heck&#8230;</p>
<p>Ternyata penyebabnya masalah grafis. Saya menggunakan NVIDIA onboard G102 M dan sepertinya ada graphic issue dengan Ubuntu. Karena dicoba berapa kali pun tetap hang, akhirnya saya menggunakan jalan memutar, yakni instalasi dalam kondisi graphic safe-mode on.</p>
<p>Caranya, begitu Anda masuk ke tampilan petama Live USB, segera tekan F6, yang akan membawa Anda ke layar console. Cari kalimat “quiet splash” di console, lalu arahkan cursor dan cukup tambah satu kata lagi sesudahnya, yakni nomodeset, hingga jadi “quiet splash nomodeset”.Berikut gambarnya biar lebih jelas.</p>
<ul><img class="alignnone size-medium wp-image-786" title="nomodeset" src="http://basfinsiregar.com/wp-content/uploads/2011/11/nomodeset-300x223.png" alt="" width="300" height="223" /></ul>
<p>Lalu tekan Ctrl X untuk reboot, dan voila! Akhirnya saya bisa membypass boot screen yang bikin hang itu dan masuk ke tampilan awal instalasi Ubuntu.</p>
<p><strong>3. Install Ubuntu secara normal</strong><br />
Di sini proses intalasi cukup mudah, hampir samalah seperti instalasi Windows. Yang perlu diperhatikan paling hanya ketika sampai ke bagian partisi. Baik ketika masih menggunakan Mandriva, saya selalu memilih opsi &#8216;advanced partition&#8217; karena kita bisa memilih sendiri mau menginstall di mana. Saya menggunakan tiga partisi untuk Ubuntu.</p>
<p>Dev 6 , mount point /, ext4<br />
Swap<br />
Dev 8, mount home, ext4</p>
<p>Semua proses ini instalasi ini sebaiknya dilakukan ketika komputer atau laptop Anda memiliki akses internet. Sebab setelah Ubuntu terinstal, masih ada graphic issue tadi yang harus diselesaikan.</p>
<p>Caranya mudah. Anda tinggal klik System &gt;  Administration &gt; Hardware Drivers, agar Ubuntu bisa mencari driver yang cocok untuk hardware Anda.Kalau laptop Anda termasuk kuno dan khawatir Ubuntu tidak bisa langsung mendeteksi modem, maka cara paling safe adalah menginstal Ubuntu di tempat yang punya akses hotspot seperti  di cafe. Setidaknya kalau instalasi gagal masih bisa tetap ngopi-ngopi hingga tidak terlalu stress.</p>
<p>Kalau Anda memiliki graphic issue tapi tidak punya akses internet, maka opsi “nomodeset” itu untuk sementara harus dibuat permanen. Ketika Anda mengetik “nomodeset” di langkah sebelumnya lalu Ctrl X untuk reboot, opsi itu tidak tersimpan secara permanen. Untuk membuatnya permanen, Anda harus mengedit Grub, yang merupakan bootloader Ubuntu.</p>
<p>Berikut cara mengedit nomodeset di Grub</p>
<p>buka terminal, lalu ketik</p>
<blockquote><p><code>sudo gedit /etc/default/grub</code> (masukkan password kalau diminta)</p></blockquote>
<p>Gedit adalah pogram macam Notepad di Windows yang secara default terinstall di Ubuntu 10.04 LTS.<br />
Cari kata “quiet splash” seperti tadi lalu tambahkan nomodeset di belakangnya, lalu save dan exit.<br />
Lalu ketik lagi</p>
<blockquote><p><code>sudo update-grub</code> (untuk meng-update perubahan konfirgurasi).</p></blockquote>
<p>That&#8217;s it. Nomodeset sudah permanen dan boot screen akan selalu dibypass setiap booting. Kalau hendak mengaktifkan boot screen, maka nomodeset tinggal dihapus lewat proses yang sama seperti di atas.</p>
<p><strong>Pasca instalasi, What&#8217;s Next?</strong><br />
Setelah Ubuntu terinstall, dan Anda punya akses internet, maka langkah selanjutnya adalah mengupdate  Ubuntu 10.04 agar siap tempur.<br />
Klik System &gt; Administration &gt; Update Manager</p>
<p>Saya sarankan Anda untuk mengupdate semua program yang terdaftar di Update Manager agar Ubuntu Anda tidak terlalu kuno.<br />
Setelah update selesai, yang jumlahnya lumayan banyak (saya mendownload sekitar 120 MB) dari fresh install sampai update semua program di list, apakah Ubuntu sudah siap pakai?</p>
<p>Belum sih. Karena berbagai update itu lebih bersifat update file sistem saja, belum yang lain-lain. Firefox misalnya secara default yang terinstall adalah firefox versi 3, padahal firefox sekarang sudah sampai versi 7. Terus mau dengerin musik dengan file mp3 juga belum bisa, karena Ubuntu tidak kenal apa itu mp3. Ibarat rumah, OS Ubuntu itu masih kosong, belum ada perabotan sama sekali. Kalau cuma buat ngetik saja sih bisa, Tapi masak komputer ga ada hiburannya?</p>
<p>Karena itu proses ini masih belum selesai. Rumah kosong itu harus diisi “perabot”  biar nyaman dipakai. Tapi sebelum mulai mengisi perabot, Anda harus paham lebih dulu apa yang disebut PPA (Personal Package Source)</p>
<p>Berbeda dari Windows yang instalasi program dilakukan lewat download file exe, program-program dalam Ubuntu diinstal lewat repositories.<br />
Repositories adalah kumpulan software yang dikeluarkan oleh Ubuntu. Ketika update sebuah program dirilis, maka pengelola repositories tinggal memasukkan update itu ke dalam repositories dan para users Ubuntu (karena alamat repositories Ubuntu tersimpan di sistem) tinggal menjalankan update program untuk mendowload software tersebut.</p>
<p>Tapi selain repositories resmi Ubuntu, masih banyak repositories lain yang biasanya hanya terdiri dari beberapa program kecil yang dikelola oleh perorangan atau komunitas. Repositories inilah yang disebut PPA, yang bakal jadi sumber lain untuk menghias rumah Ubuntu yang masih kosong itu.</p>
<p><strong>Beberapa aplikasi standar</strong><br />
Setelah update system beres, selanjutnya tingga menginstal berbagai codec atau program yang tidak terinstall secara default di Ubuntu lucid.<br />
Saya membaca beberapa guide pasca instalasi Ubuntu. Namun dari berbagai guide, saya merasa <a href="http://theindexer.wordpress.com/2010/03/21/to-do-list-after-installing-ubuntu-10-04-aka-lucid-lynx/">guide ini</a> adalah yang paling lengkap. Maklum, ditulis oleh konsultan keamanan komputer hehe.</p>
<p>Meski tidak semua dari guide itu saya terapkan di komputer. Saya misalnya merasa tidak ada perlunya menginstal anti-virus atau adobe reader. Document viewer bawaan Ubuntu sudah mencukupi untuk membuka file-file PDF, Kalau sampai mendownload sekitar 100 MB lagi hanya untuk menginstal adobe reader rasanya kok berlebihan.</p>
<p>Berikut aplikasi-aplikasi yang saya tambahkan pasca instalasi Ubuntu lucid:</p>
<p><strong>1. Firewall GUI.<br />
</strong>Security comes first. Ga masuk akal kalau sering terhubung ke internet tanpa pengamanan memadai. Meski UFW (Uncomplicated Firewall) sudah terinstall secara degault, lebih nyaman rasanya kalau kita bisa punya akses ke GUI. Jadi buka terminal.</p>
<blockquote><p><code>sudo aptitude install gufw</code></p></blockquote>
<p>bisa dibuka dengan mengetik gufw di terminal atau System &gt; Administration &gt; Firewall Configuration, lalu check enable.</p>
<p><strong>2. Multimedia.<br />
</strong>Hiburan dong, apalagi? PPA Multimedia dalam Ubuntu tersimpan dalam satu paket bernama Medibuntu (Multimedia, Entertainment &amp; Distraction in Ubuntu). Saya suka kepanjangan ini, terutama kata distraction, karena memang ini sering men-distract dari pekerjaan hehe. Pertama tambahkan dulu PPA Medibuntu ke sistem<code> </code></p>
<blockquote><p><code>sudo wget --output-document=/etc/apt/sources.list.d/medibuntu.list http://www.medibuntu.org/sources.list.d/$(lsb_release -cs).list &amp;&amp; sudo apt-get --quiet update &amp;&amp; sudo apt-get --yes --quiet --allow-unauthenticated install medibuntu-keyring &amp;&amp; sudo apt-get --quiet update</code></p></blockquote>
<p>Lalu ketik perintah berikut untuk membuat paket Medibuntu muncul Ubuntu Sofware Center</p>
<blockquote><p><code> sudo apt-get --yes install app-install-data-medibuntu apport-hooks-medibuntu</code></p></blockquote>
<p>Selanjutnya kita butuh mengetik banyak perintah untuk membuat Ubuntu memutar hampir semua jenis file audio atau video:</p>
<blockquote><p><strong>Standard Codec</strong></p>
<p><code>sudo aptitude install non-free-codecs libxine1-ffmpeg mencoder mpeg2dec vorbis-tools id3v2 mpg321 mpg123 libflac++6 ffmpeg libmp4v2-0 totem-mozilla id3tool lame nautilus-script-audio-convert libmad0 libjpeg-progs libmpcdec3 libquicktime1 flac faac faad sox ffmpeg2theora libmpeg2-4 uudeview flac libmpeg3-1 mpeg3-utils mpegdemux liba52-dev</code></p>
<p><strong>Gstreamer</strong></p>
<p><code>sudo aptitude install gstreamer0.10-ffmpeg gstreamer0.10-fluendo-mp3 gstreamer0.10-gnonlin gstreamer0.10-pitfdll gstreamer0.10-sdl gstreamer0.10-plugins-bad-multiverse gstreamer0.10-schroedinger gstreamer0.10-plugins-ugly-multiverse totem-gstreamer gstreamer-dbus-media-service gstreamer-tools ubuntu-restricted-extras</code></p>
<p><strong>Flash</strong></p>
<p><code>sudo aptitude install gsfonts gsfonts-x11 flashplugin-nonfree</code></p>
<p><strong>Enable DVD Support</strong></p>
<p><code>sudo aptitude install libdvdcss2<br />
sudo /usr/share/doc/libdvdread4/./install-css.sh</code><strong> </strong></p></blockquote>
<p><strong>3. Archiver sofware<br />
</strong>Kita perlu menginstal banyak archiver software agar Ubuntu bisa mengenali file  rar, zip, arj, dan sebagainya.</p>
<blockquote><p><code>sudo aptitude install unace rar zip unzip p7zip-full p7zip-rar shareutils uudeview mpack lha arj cabextract file-roller</code></p></blockquote>
<blockquote><p><code> </code></p></blockquote>
<p><strong>4. Firefox<br />
</strong>Untuk menginstall firefox versi terbaru kita harus menambahkan PPA firefox. Kalau saya sih prefer PPA firefox stable release. Jadi kita tambahkan dulu PPA-nya:</p>
<blockquote><p><code>sudo add-apt-repository ppa:mozillateam/firefox-stable<br />
sudo aptitude update<br />
sudo aptitude safe-upgrade</code></p></blockquote>
<p>That&#8217;s it. Firefox 3 pun akan otomatis diupgrade jadi firefox 7</p>
<p><strong>5. Java<br />
</strong>Java adalah program yang cukup penting. Anda akan butuh Java bila hendak menginstal download manager untuk Linux seperti Jdownloader.</p>
<blockquote><p><code>sudo aptitutde install sun-java6-jre sun-java6-plugin equivs</code></p>
<p><code> </code></p></blockquote>
<p><strong>6. Video and Audio player<br />
</strong>Secara default Ubuntu Lucid sudah memiliki Rhytmbox, Totem Movie Player dan VLC. Sayang VLC yang terinstall adalah VLC versi lama. Anda harus menambah PPA VLC dari sumber lain untuk upgrade ke versi terbaru. Selain itu saya juga menginstall Smplayer dan Banshee. Smplayer karena saya pribadi menganggap ia lebih baik dibanding VLC, dan Banshee karena, well, saya tidak cukup puas dengan Rhythmbox yang sangat sederhana itu. Sebelumnya kita tambahkan ppa VLC versi terbaru</p>
<blockquote><p><code>add-apt-repository ppa:n-muench/vlc2<br />
sudo aptitude update<br />
sudo aptitude safe-upgrade</code></p></blockquote>
<p><strong>Install Banshee dan Smplayer</strong></p>
<blockquote><p><code>sudo aptitude install smplayer banshee banshee-extension-ubuntuonemusicstore libappindicator0-cil banshee-extension-appindicator banshee-extension-lyrics banshee-extension-mirage</code></p></blockquote>
<p>Ketika memakai Mandriva dan OpenSuse saya menggunakan Amarok untuk audio player. Tapi saya tidak menyarankan Anda untuk menginstall Amarok di Ubuntu karena Amarok makin mengintegrasikan diri dengan KDE, sementara ketika beralih ke Ubuntu, saya sudah sebal dengan KDE dan justru beralih ke Gnome. Masak dekat-dekat lagi dengan KDE lewat Amarok?</p>
<p><strong>7. Image Editor<br />
</strong>Ubuntu lucid sayangnya tidak memiliki Gimp secara default. Padahal Gimp yang paling mendekati kemampuan Photoshop dalam manipulasi image.  Untuk menginstall kita juga harus menambahkan PPA lebih dulu</p>
<blockquote><p><code>sudo add-apt-repository ppa:matthaeus123/mrw-gimp-svn<br />
sudo aptitude update</code></p></blockquote>
<p><code> </code>lalu install dengan perintah berikut:</p>
<blockquote><p><code>sudo aptitude install gimp gimp-data gimp-plugin-registry gimp-data-extras</code></p></blockquote>
<p><strong>8. FTP Client</strong><br />
Salah satu FTP klien terbaik yang pernah saya gunakan adalah Filezilla. Untuk install:</p>
<blockquote><p><code>sudo aptitude install filezilla filezilla-common</code></p></blockquote>
<p>Diakses dari Applications &gt; Internet &gt; Filezilla</p>
<p><strong>9. Torrent client</strong><br />
Dulu ketika di Windows saya menggunakan  torrent client seperti Azureus atau Bitcomet. Tapi Azureus (Java required) terlalu berat sebenarnya. Deluge torrent saja sudah cukup bagus. Untuk instalasi harus menambahkan dulu PPA Deluge torrent</p>
<blockquote><p><code>sudo add-apt-repository ppa:deluge-team/ppa<br />
sudo aptitude update<br />
sudo aptitude install deluge-torrent</code></p></blockquote>
<p><strong>10. Download Manager</strong><br />
Ada beberapa aplikasi download manager untuk Linux. Saya pribadi sudah pernah menggunakan Multiget dan Jdownloader. Dan menurut Jdownloader yang lebih bagus. Fitur yang paling menyenangkan dari Jdownloader adalah kemampuannya mendownload dari berbagai situs free-sharing seperti rapidshae, megaupload dll. Jdownloader juga membutuhkan Java dan harus diinstall dengan menambahkan PPA dulu.</p>
<blockquote><p><code>sudo add-apt-repository ppa:jd-team/jdownloader<br />
sudo aptitude update<br />
sudo aptitutde install jdownloader</code></p></blockquote>
<p><strong>11. Network sharing</strong><br />
Sharing di sini menggunakan samba dan personal sharing network. Caranya:</p>
<blockquote><p><code>sudo aptitude install apache2.2-bin libapache2-mod-dnssd samba smbfs</code></p></blockquote>
<p><strong>Konfirgurasi Samba</strong><br />
Setelah samba terinstal, maka tinggal melakukan konfirgurasi. Anda bisa membuat folder sendiri yang khusus untuk sharing. Tapi saya pribadi lebih suka menggunakan folder &#8216;Public&#8217; yang secara default sudah ada di Ubuntu. Anda bisa tetap membuat folder sendiri lalu melakukan langkah konfigurasi berikut untuk men-share folder.</p>
<blockquote><p><code>sudo smbpasswd -a username (Nama username Anda)<br />
sudo gedit /etc/samba/smb.conf (mengedit konfirgurasi samba)</code></p>
<p><code><br />
setelah file konfirgurasi terbuka, maka kita tambahkan baris-baris berikut idealnya di bagian paling bawah dari teks di file</code></p>
<p><code><br />
[Public] – nama folder, nama ini harus sama dengan nama folder yang Anda buat<br />
path = /home/username/Public<br />
available = yes<br />
valid user = username<br />
read only = no<br />
browsable = yes<br />
public = yes<br />
writable = yes</code></p>
<p><code><br />
Save gedit lalu keluar. Selanjutnya kita restart samba<br />
sudo restart smbd<br />
sudo testparm</code></p></blockquote>
<p>Kalau lolos perintah sudo testparm dan tidak ada masalah, maka folder Samba di /home/username/Samba sudah berstatus di-share. Untuk mengecek Anda bisa klik System &gt; Administration  &gt; Shared Folders.</p>
<p>Kalau item Shared Folders tidak ada, itu karena dia masih &#8216;tersembunyi&#8217;. Untuk memunculkan item  Shared Folders di Ubuntu caranya klik System &gt;  Preferences &gt; Main menu, dan aktifkan di bagian  Administration (Show item).</p>
<p><strong>12. Menjalankan program Windows di Ubuntu</strong><br />
Kita harus menginstal Wine bila hendak menjalankan program exe. Saya terutama menggunakan Wine kalau hendak memainkan game-game berbasis Windows di Ubuntu. Di situ Wine ada list tentang berbagai game yang disupport. Tapi kalau game-game lama macam Age of Empire II ,bisalah jalan di Ubuntu tanpa ada masalah.</p>
<blockquote>
<blockquote><p><code>sudo aptitude install wine</code></p></blockquote>
</blockquote>
<p><strong>14. Webcam</strong><br />
Kalau laptop Anda memiliki webcam, maka salah satu program penting yang harus diinstal adalah Cheese, yang sekaligus juga bisa mengambil screen shot</p>
<blockquote><p><code>sudo aptitude install cheese</code></p></blockquote>
<p><strong>15. Tweak your Ubuntu</strong><br />
Terakhir adalah program bernama Ubuntu Tweak yang bisa melakukan banyak hal, mulai dari mengganti boot screen, melakukan berbagai tweak dan sebagainya. Saya sangat menyarankan Anda untuk menginstal program ini karena memberikan banyak sekali info mengenai berbagai kemampuan lain modifikasi Ubuntu. Pertama tambahkan dulu PPA terbaru, versi stabil:</p>
<blockquote><p><code>sudo add-apt-repository ppa:tualatrix/ppa<br />
sudo aptitude install ubuntu-tweak</code></p></blockquote>
<p>Bisa dibuka di Applications &gt; System Tools &gt; Ubuntu Tweak</p>
<p>Begitu dulu guide-nya. Sebenarnya masih ada hal-hal lain yang juga penting seperti backup program dan sebagainya. Tapi saya pikir itu bisa nanti. Yang jelas, berbagai program di atas ini saya pikir adalah  program-program standar yang saya instal pasca instalasi Ubuntu Lucid dana saya pikir  membuat  komputer benar-benar  berfungsi optimal. Ada unsur hiburan, security, sharing dll.</p>
<p>Dampaknya bagi saya pribadi adalah Ubuntu terasa lebih advanced dibanding Windows, dan sekarang saya jadi makin jarang login ke Windows.*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basfinsiregar.com/ubuntu-buat-pemula/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Game of Thrones didnt come late to Indonesia</title>
		<link>http://basfinsiregar.com/game-of-thrones-didnt-come-late-to-indonesia/</link>
		<comments>http://basfinsiregar.com/game-of-thrones-didnt-come-late-to-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jul 2011 21:13:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basf</dc:creator>
				<category><![CDATA[english]]></category>
		<category><![CDATA[films]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>
		<category><![CDATA[work life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basfinsiregar.com/?p=760</guid>
		<description><![CDATA[I attended the official preview of the next HBO miniseries, Game of Thrones, a few days ago. The first episode of the miniseries will be premiered on HBO Asia on August 28th, then aired every Sunday at 9 pm . More than a dozen reporters attended the preview. Officials from HBO Asia &#8211;based in Singapore&#8211;  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-medium wp-image-764" title="game of thrones" src="http://basfinsiregar.com/wp-content/uploads/2011/07/game-of-thrones-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></p>
<p>I attended the official preview of the next HBO miniseries, Game of Thrones, a few days ago. The first episode of the miniseries will be premiered on HBO Asia on August 28th, then aired every Sunday at 9 pm . More than a dozen reporters attended the preview. Officials from HBO Asia &#8211;based in Singapore&#8211;  even flew to Jakarta to give a press conference about this highly anticipated miniseries.</p>
<p>The atmosphere was nice and the meal was great.  <img src='http://basfinsiregar.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />   But no reporters asked questions about the miniseries. And the reason was obvious. They have seen it.  <img src='http://basfinsiregar.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>It&#8217;s because Game of Thrones was already aired  since April on HBO America.  The four-months delay to HBO Asia, in this case, doesn&#8217;t really matter to Indonesia fans.</p>
<p>After the preview, some of us gathered at a nearby cafe and a woman reporter took out her Mac where she kept files of Game of Thrones from episode 1 to episode 10 (Complete Season 1). She had seen them all .Care to make copies, anyone?</p>
<p>How did she managed to get those episodes? Simple. &#8220;Piratebay,&#8221; she giggled.</p>
<p>For those with slow internet connection, there is an alternative method. A fellow reporter then told me, semi-laughing, that Season 1 are already available in DVDs in Glodok and Ambassador area  &#8211;two places of haven for pirated DVDs in Jakarta.</p>
<p>And there is also a third method,  which is convenient if someone&#8217;s too lazy to move his ass to Glodok or unable to download from Piratebay ( &#8217;cause the network admin doesn&#8217;t allow port forwarding &#8211;which is my case). That is local server.</p>
<p>A quick Google search on Indonesian pages will quickly reveal that Game of Thrones, and many movies or miniseries (you just name them), are stored on dedicated local serves in some forums.</p>
<p>I browsed through their list of downloads and.. it was a huge list. More than 300 movie titles and miniseries are available for http download.  You want complete series of Sherlock (BBC), Luther (BBC), Heroes Season 4, or Battlestar Galactica? It&#8217;s just right there at the tip of your finger.</p>
<p>And the speed was amazing. Normally I  get a download speed of 50-70 kb per second from foreign servers. But those local servers allow you to have 500-700 kb per second download speed.</p>
<p>When I tried to download at night after 10 pm when the congestion was supposedly low, well well well&#8230; I got 1 MB per second download speed.</p>
<p>Some geeks in those forums have even modified Game of Thrones files into .mkv. They called it &#8216;Paket Hemat&#8217; (meaning &#8216;economical package&#8217;), since .mkv files are smaller than .avi files but they retain the superb image quality.</p>
<p>Each episode of Game of Thrones is only about 250 MB. With such download speed, it would only take 3 minutes to download each episode. I could just download all Season 1 episodes simultaneously and went to kitchen to make cappuccino and instant noodle and those downloads would be complete when I got back.</p>
<p>Those files have sat there since April when Game of Thrones was first aired in HBO America. And now HBO Asia will air those episodes in Indonesia next August, and call it &#8216;premiere&#8217;?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Cable tv is still considered a luxury in Indonesia. We&#8217;re used to watch tv for free. Those who subscribed to cable tv are mostly upper middle-class and it&#8217;s very likely that they also subscribed to broadband internet in their homes. If a non-Geek like me could simply find the forums where  Game of Thrones are stored, it&#8217;s safe to assume that those cable tv subscribers already spotted them too. So I dont think the miniseries will be a premiere for them.</p>
<p>Most journalist who attended the official preview last week are not that Geek either. Some even complained about the lousy internet connection in their office, both for foreign or local servers. But they still managed to notice that Game of Thrones  miniseries were actually already circulated in Indonesia.  And that&#8217;s no surprise, &#8216;coz journalist who covers film industry usually visit Glodok or Ambassador area to see what new titles emerge in the piracy market.</p>
<p>But then there is also the irony. Most Indonesian publication will not write about it. We will not write that Game of Thrones are already circulated here, since <strong>officially</strong> it&#8217;s not still aired until August and we dont want to look like we enjoy access to piracy market or illegal file-sharing. Journalism is supposed to upheld the law, at least when printed on paper.</p>
<p>So, not-mentioning  the fact that Game of Thrones were already in Indonesian market is a safe and logical choice.</p>
<p>I just read <a href="http://www.thejakartaglobe.com/entertainment/game-of-thrones-a-tale-of-medieval-mobsters/454098">an article</a> from one of the reporters from last week&#8217;s official preview where she wrote about how &#8216;Indonesian fans will have to wait a bit longer to enjoy the fantasy miniseries&#8217;.</p>
<p>And I just cant help laughing reading the article.</p>
<p>Wait a bit longer? Are readers so stupid to believe that?</p>
<p>It&#8217;s just funny to read those words when you know that the miniseries were already here 4 months ago and, perhaps, had been watched by thousands of people. The forum I visited, for example, is a very famous forum in Indonesia and has more than 1 million members.</p>
<p>(They even had a poll asking members of their favorite Game of Thrones characters &#8211;Arya Stark and John Snow topped the list)</p>
<p>I think the journalist writing the article also knew such phenomenon, but she just played dumb</p>
<p>I haven&#8217;t wrote my own review yet. But I dont know if I have the heart to play dumb, writing lines like &#8216;will have to wait a bit longer&#8217; and completely ignored the real fact in Indonesian society.</p>
<p>While I dont want to look like endorsing piracy and illegal file-sharing, there is also this thought that omitting such phenomenon in an article is also against good journalism.</p>
<p>A good journalism should make readers aware and informed. Deliberately omitting a widespread (though illegal) phenomenon in online forums, in my opinion, poses a question to the function of journalism itself.</p>
<p>Those forum members will surely laugh and consider my review stupid, lack of information about trends in online forums, if I wrote things like &#8216;will have to wait a bit longer until August&#8217;.</p>
<p>And there&#8217;s also this worry that playing dumb strategy will make informed-readers consider my writing (and of course my magazine) an unreliable source of information.</p>
<p>Maybe I could just mention the phenomenon a little bit, but at the same time try not to sound endorsing those illegal activities? I dont know.  Lets see how my editor will react to it.*</p>
<p><strong>Update</strong>: My editor also opposes the idea of playing dumb. He believed I should mention that Game of Thrones are already widely circulated here, as long as I dont mention the name of forums which host the episodes. I guess problem is solved then.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basfinsiregar.com/game-of-thrones-didnt-come-late-to-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sikap dalam menulis</title>
		<link>http://basfinsiregar.com/sikap-dalam-menulis/</link>
		<comments>http://basfinsiregar.com/sikap-dalam-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 05:35:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basf</dc:creator>
				<category><![CDATA[journalism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basfinsiregar.com/?p=755</guid>
		<description><![CDATA[Satu hal penting yang saya dapat dari pelatihan jurnalistik zaman mahasiswa dulu adalah: Sikap dalam menulis. Ini perlu digarisbawahi karena menulis memang butuh sikap. Apalagi instruktur pelatihan itu adalah orang yang sudah berlumut pengalamannya dalam jurnalisme, yakni Masmimar Mangiang, mantan pemred harian ekonomi Neraca. Saya ingat Masmimar memberi contoh kalimat berikut yang ia ambil dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } -->Satu hal penting yang saya dapat dari pelatihan jurnalistik zaman mahasiswa dulu adalah: Sikap dalam menulis.</p>
<p>Ini perlu digarisbawahi karena menulis memang butuh sikap. Apalagi instruktur pelatihan itu adalah orang yang sudah berlumut pengalamannya dalam jurnalisme, yakni Masmimar Mangiang, mantan pemred harian ekonomi Neraca.</p>
<p>Saya ingat Masmimar memberi contoh kalimat berikut yang ia ambil dari sebuah koran nasional.</p>
<p>“Menteri berkenan bertemu para petani dari kelompencapir desa X”</p>
<p>Apa yang salah? tanyanya</p>
<p>Saya, dan beberapa mahasiswa peserta pelatihan, bingung, tidak mengerti apa yang salah dari konstruksi kalimat itu.</p>
<p>“Itu yang salah!” kata Masmimar keras, lalu pulpennya yang bisa mengeluarkan sinar itu (pemandangan canggih kala itu buat mahasiswa ndeso seperti saya) menyoroti kata<strong> berkenan.</strong></p>
<p>Selanjutnya ia menjelaskan sikap penulis artikel itu hingga menggunakan kata berkenan. Si penulis rupanya menganggap jabatan Menteri adalah semacam raja. Pertemuan menteri dengan petani kelompencapir adalah hal luar biasa bagi petani sebaliknya hal remeh bagi menteri.</p>
<p>Jadi menteri harus ada rasa berkenan lebih dulu, karena bertemu dengan orang yang statusnya lebih rendah.</p>
<p>Masmimar mengecam sikap penulis yang seperti itu. Jabatan menteri tidak sakral. Jurnalis harus punya integritas dan keberanian. Kalau menghadapi kata menteri saja sudah langsung keder hingga menambahkan berkenan, kualitas jurnalismenya mungkin meragukan.</p>
<p>Tapi bagaimana kalau posisinya diganti yang lebih tinggi, seperti Presiden? Misalnya kalimat &#8216;Presiden berkenan bertemu Mr. Basf? <img src='http://basfinsiregar.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Apakah sikap menulis dalam kalimat itu bisa dibenarkan?</p>
<p>Rasanya kok tidak. Dan tidak butuh Masmimar untuk menjawabnya. Mr. Basf pun bisa,.</p>
<p>Justru makin tidak pantas kalau  Presiden harus ada kata berkenan atau tidak berkenan untuk menemui Mr. Basf. Sebab, sekitar tahun 2007, yang sekarang jadi presiden ini justru <strong>memohon</strong> kepada Mr. Basf agar diberi kepercayaan mengemban tugas.</p>
<p>Dan Mr. Basf, setelah menimbang-nimbang, akhirnya<strong> berkenan</strong> memberikan suaranya kepada salah satu dari mereka.</p>
<p>Penulis yang sikapnya benar akan memilih konstruksi “Presiden bertemu Mr. Basf”. Atau bila sifat amanahnya kuat, dia akan lebih memilih “Presiden <strong>menemui </strong>Mr. Basf” agar Presiden, kalau membaca, jadi seperti diingatkan kembali bahwa justru karena orang-orang macam Mr.Basf lah dia bisa jadi Presiden. Fungsi pers untuk mencerdaskan pembaca pun tercermin dalam konstruksi kalimat.</p>
<p>Insyaallah pemahaman inilah yang benar, dan yang seharusnya jadi landasan sikap dalam menulis. Strong press, strong democracy.*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basfinsiregar.com/sikap-dalam-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Risau</title>
		<link>http://basfinsiregar.com/risau/</link>
		<comments>http://basfinsiregar.com/risau/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 10:09:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basf</dc:creator>
				<category><![CDATA[personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basfinsiregar.com/?p=744</guid>
		<description><![CDATA[Mas Widi meninggal. Senin sore waktu saya ngecek email kantor, ada pengumuman berikut: Innalillahi wa&#8217;inna ilaihi rojiun Telah meninggal dunia Bp Widi Yarmanto tanggal 8 April 2011 Saya agak terhenyak kaget. Entah gimana gitu. Terakhir kali saya bertemu Mas Widi adalah di resepsi pernikahan salah seorang reporter Gatra tahun 2010 lalu. Badannya sudah jauh lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_747" class="wp-caption alignnone" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-747" title="WIDI YARMANTO" src="http://basfinsiregar.com/wp-content/uploads/2011/04/mas-widi.jpg" alt="" width="250" height="173" /><p class="wp-caption-text">Mas Widi ketika masih sehat (Foto by Wisnu Prabowo, Gatra)</p></div>
<p>Mas Widi meninggal. Senin sore waktu saya ngecek email kantor, ada pengumuman berikut:</p>
<blockquote><p>Innalillahi wa&#8217;inna ilaihi rojiun<br />
Telah meninggal dunia Bp Widi Yarmanto<br />
tanggal 8 April 2011</p></blockquote>
<p>Saya agak terhenyak kaget. Entah gimana gitu. Terakhir kali saya bertemu Mas Widi adalah di resepsi pernikahan salah seorang reporter Gatra tahun 2010 lalu. Badannya sudah jauh lebih kurus, tidak lagi seperti ketika ia masih bergabung di Gatra. Ia juga cerita kalau jalan kaki hanya bisa 100-an meter.</p>
<p>Mas Widi memang mengidap sakit jantung dan diabetes. Tapi yang membuat saya kagum, siang itu dia datang sendiri, menyupir mobilnya sendiri. walau kata Mas Widi lagi, menyetir sendirian bagi kondisinya saat ini sebenarnya bahaya juga.</p>
<p>Saya sebenarnya berjarak amat jauh dengan mas Widi. Ia sudah jadi direktur di Gatra pada 2004 ketika saya baru masuk dan magang sebagai reporter. Saya ingat suatu siang makan mie rebus di depan kantor Gatra, lalu Mas Widi nongol, juga makan, dan kami ngobrol soal istrinya yang lagi sakit dan berbagai pengobatan yang ia usahakan,  mulai dari dokter sampai ustadz.</p>
<p>Obrolan itu berakhir manis karena Mas Widi akhirnya yang membayari makan, hehehe&#8230;  Tidak mahal memang. Berapa sih harga mie rebus? Tapi bagi reporter baru yang gajinya belum penuh (waktu itu uang di kantong pas-pasan), <em>every penny counts</em>.</p>
<p>Saya ingat diam-diam merasa girang karena dibayari, jadi bisa ngirit dan tetap kenyang. hehehe..</p>
<p>(dan uang untuk makan akhirnya bisa dialokasikan untuk beli rokok &#8230; hehe.. ra mutu memang..)</p>
<p>Sekarang, kalau saya mikir lagi soal itu, terasa benar ungkapan bahwa uluran yang datang ketika seseorang lagi miskin akan lebih diingat. Kalau Anda membayari saya makan mie rebus saat ini, atau steak sekalipun, well, mungkin ga terlalu ngaruh.</p>
<p>Tapi, yang paling membuat saya teringat pada Mas Widi adalah karena ia mengabadikan keriuhan yang sama alami pada 2005 dalam esai mingguannya di rubrik Perspektif Gatra, edisi 31 Desember 2005.</p>
<p>Berikut dua paragraf dari esainya berjudul Risau yang membuat saya tercenung waktu tahu muncul di majalah Gatra.</p>
<blockquote><p>SIKAPNYA sudah jelas: tak ingin bersinggungan dengan masalah! Walau kuping dan mata menangkap masalah, otak berbisik jangan dihiraukan. Ternyata, suatu ketika, &#8221;Masalah yang menghampiri saya,&#8221; ujar seorang kawan. Dan, tidak bisa dielakkan, karena alam yang mengatur.</p>
<p>Hidup memang begitu. Masalah bisa datang dan pergi. Acapkali pula ia terasa kelewat berat, hingga seakan di luar jangkauan dan merepotkan. Atau, sebuah masalah bisa bikin keseleo lidah, dan menggusur jabatan. Tak usah gusar, kawan!</p></blockquote>
<p>Kalimat-kalimat itu aslinya muncul dalam konteks berbeda. Saya awalnya mengucapkannya dengan nada marah campur putus asa, karena merasa betapa tidak adilnya perlakuan yang menimpa diri saya ketika itu.</p>
<p>Apa yang terjadi dalam keriuhan itu memang punya dampak tersendiri bagi saya. Tapi saya tidak ingin membahas soal itu. Hanya, ketika esai Risau itu ditulis dan saya membacanya di database Gatra, ada semacam perasaan sejuk, juga terima kasih, atas nada tulisannya yang seperti menyemangati kawan lama untuk tetap tenang. Tak usah gusar, kawan!</p>
<p>Sayang setelah itu garis kami jarang bersinggungan. Saya tidak tahu banyak apa yangt terjadi pada Mas Widi setelah ia tidak lagi di Gatra, hingga akhirnya email duka cita itu muncul. Selamat jalan, Mas. *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basfinsiregar.com/risau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bran Nue Day</title>
		<link>http://basfinsiregar.com/bran-nue-day/</link>
		<comments>http://basfinsiregar.com/bran-nue-day/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2011 09:03:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basf</dc:creator>
				<category><![CDATA[films]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basfinsiregar.com/?p=719</guid>
		<description><![CDATA[Nonton Bran Nue Day membuat saya jadi agak terkesima, menyaksikan betapa susah dan miskinnya kehidupan orang-orang Aborigin. Film ini berkisah tentang Willie, remaja Aborigin asal kota Broome (Australia Barat) yang pergi ke Perth untuk sekolah di sebuah seminari. Di sana dia diajar oleh pendeta Benedictus yang keras (Geoffrey Rush, pemeran kapten Barbossa di Pirates of [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-721" title="bran nue day" src="http://basfinsiregar.com/wp-content/uploads/2011/01/bran-nue-day-300x168.jpg" alt="" width="300" height="168" />Nonton <em>Bran Nue Day</em> membuat saya jadi agak terkesima, menyaksikan betapa susah dan miskinnya kehidupan orang-orang Aborigin.</p>
<p>Film ini berkisah tentang Willie, remaja Aborigin asal kota Broome (Australia Barat) yang pergi ke Perth untuk sekolah di sebuah seminari. Di sana dia diajar oleh pendeta Benedictus yang keras (Geoffrey Rush, pemeran kapten Barbossa di <em>Pirates of The Caribbean</em>).</p>
<p>Willie tidak betah. Apalagi di Broome ada gadis yang ia taksir berat. Akhirnya Willie pun lari dari sekolah dan berusaha kembali ke rumah. Padahal jarak Broome ke Perth sekitar 2200 kilometer.</p>
<p>Tanpa uang, apa yang bisa dilakukan? Akhirnya ia pun menumpang, tidur di jalan, dan bertemu para gelandangan kota Perth (yang banyak orang Aborigin juga) dan memulai petualangan kembali pulang.</p>
<p>Tapi jangan salah paham. Ini bukan film drama mengharu-biru. Sebaliknya komedi-musikal. Sekali lagi, komedi-musikal. Saya banyak ngakak waktu nonton film ini di di Blitz Megaplex, dalam acara festival Australia on Screen 2011</p>
<p><span id="more-719"></span>Musiknya bagus. Koreografinya juga lucu. Beberapa adegan komedinya bahkan ada yang nggapleki tenan, yang kalau diingat-ingat lagi, masih bisa bikin saya tertawa sendiri.</p>
<p>Film ini pertama kali diputar di Melbourne International FIlm Festival pada 9 Agustus 2009, lalu resmi dirilis untuk bioskop Australia pada Januari 2010, dan bioskop Amerika pada September 2010.</p>
<p>Saya menduga sepertinya film ini tidak akan diputar di bioskop Indonesia. <em>Too bad</em>. Padahal ia film bagus. Saya kasih rating B untuk film ini (yang berarti kalau Anda lihat DVD film di Glodok atau mal Ambassador, ga usah pikir panjang. Langsung beli, insyaallah tidak rugi).</p>
<p>Sutradara film ini, Rachel Perkins, adalah orang Aborigin yang beruntung dapat pendidikan Barat dari orang tua angkatnya yang kulit putih. Walau temanya komedi-musikal, kita tetap bisa menyaksikan pesan halus Perkins mengenai suku Aborigin yang terancam punah, terutama akibat kebijakan pemerintah Australia yang secara sistematis meminggirkan mereka.</p>
<p>Saya agak bergetar menyaksikan salah satu koreografi yang dipentaskan tokoh gelandangan di film ini. Pandangannya kokoh dan dalam, penuh harga diri, walau dengan kesadaran bahwa Aborigin akan kalah di hadapan masyarakat kulit putih Australia.</p>
<p><em>What a powerful scene! </em>Mengingatkan akan adegan di film Invictus ketika Neslon Mandella (Morgan Freeman) masih dipenjara dan bekerja memecah batu. Tatapannya kokoh, tak ada letih dan kalah.</p>
<blockquote><p><em>Kepalaku berdarah, tapi tak tertunduk<br />
jiwa tak takluk<br />
(Invictus)</em></p></blockquote>
<p>Kalau <em>Bran Nue Day</em> saya kasih rating B, maka koreografi gelandangan itu (dan musiknya) saya kasih rating A. Salah satu momen terbaik di film ini.</p>
<p>Festival Australia on Screen 2011 berlangsung pada 26-28 Januari. Total ada 7 film yang diputar, semuanya di Blits Megaplex Gran Indonesia. Tiket gratis bisa diambil di Kedubes Australia atau beli (dengan harga murah dibanding film biasa) di loket Blitz.</p>
<p><em>Bay the way</em>, mengapa festival ini dimulai pada 26 Januari karena hari itu adalah <em>Australia Day</em>, hari &#8220;ditemukannya&#8221; Australia. Pada 26 Januari 1788,  armada Inggris mendarat di Sydney menancapkan bendera Inggris sebagai tanda bahwa benua itu adalah sah koloni mereka.</p>
<p><em>Australia Day </em>masih diperingati sampai sekarang di Australia. Tapi bagi warga Aborigin, sebaliknya tanggal 26 Januari adalah awal dimulainya invasi dan peminggiran sistematis terhadap mereka. Karena itu tiap tanggal 26 Januari, ada saja warga Aborigin yang demo, memprotes, dan menyebut hari itu sebagai <em>Invasion Day</em>.</p>
<p>Agak ironis juga bahwa <em>Australia Day</em> itu dibuka dengan film tentang Aborigin. <em>But that&#8217;s off topic</em>.*</p>
<p>Berikut beberapa link:</p>
<ul>
<li> Bran Nue Day di <a href="http://www.imdb.com/title/tt1148165/">IMDB</a></li>
<li> Bran Nue Day di <a href="http://www.rottentomatoes.com/m/bran-nue-day/">Rottentomatoes</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basfinsiregar.com/bran-nue-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Should mosque look like cheese?</title>
		<link>http://basfinsiregar.com/should-mosque-look-like-cheese/</link>
		<comments>http://basfinsiregar.com/should-mosque-look-like-cheese/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Dec 2010 13:51:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basf</dc:creator>
				<category><![CDATA[english]]></category>
		<category><![CDATA[works related]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basfinsiregar.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[It was my second time to meet Feisal Abdul Rauf, the man who stirred a controversy in US for his plan of building an Islamic community center near Ground Zero. We met in a hotel in downtown Jakarta on early December.  I first met and interviewed him in 2007 when he came to Jakarta to [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_237" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-237  " title="Imam Feisal Abdul Rauf" src="http://basfin.files.wordpress.com/2010/12/imam-feisal1.jpg?w=150" alt="Imam Feisal Abdul Rauf" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Imam Feisal photographed during the interview (Karvarino/Gatra)</p></div>
<p>It was my second time to meet <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Feisal_Abdul_Rauf">Feisal Abdul Rauf</a>, the man who stirred a controversy in US for his plan of building an Islamic community center near Ground Zero.</p>
<p>We met in a hotel in downtown Jakarta on early December.  I first met and interviewed him in 2007 when he came to Jakarta to promote his book, What&#8217;s Right with Islam: a New Vision for Muslims and the West.</p>
<p>But this time he came to Jakarta as a state guest.</p>
<p>This is actually rather embarassing, but I should explain the reason of his visit.</p>
<p>Indonesian current president, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) has recently developed a new habit of inviting &#8216;prominent experts&#8217; to give lecture in front of him and members of the cabinet. Nobel prize winners, Harvard economists -all have been invited.</p>
<p>Feisal was also invited. He gave a speech entitled &#8220;Promoting Moderate Islam and Striving for Hamony Among Civilizations in the 21st Century&#8221; in the state palace.</p>
<p>While I admire my president&#8217;s deep passion for knowledge, I would admire him more if he doesnt use tax-payer&#8217;s money to invite those guys.</p>
<p>(Many Indonesian media have criticized this so called &#8216;presidential lecture&#8217; and suggests that the president should invite local university professor if he wants to learn about &#8216;captalism&#8217;, &#8216;free-market&#8217;, &#8216;Islam-west relation&#8217; or something like that. It&#8217;s cheaper to invite local professors and most are also educated in US. But that&#8217;s off topic).</p>
<p>During his visit in Jakarta Feisal gave interviews to media, including the magazine I work for.  We talked about 2 hours about many topics such as Islam in Europe, fundamentalist versus moderat, hijab, and of course about the Ground Zero mosque.</p>
<p>The interview has already been published in Gatra, which is unfortunately not available online. But I want to give a few highlights here. One thing to note, some of Feisal&#8217;s view actually would be considered unpopular by most Indonesian muslims. That is why my editor carefully selected which part of the interview to publish.</p>
<p>There were 3 persons from our magazine doing the interview with Feisal. My religion-desk editor, a woman reporter and I. Here are some of our discussion:</p>
<p><strong><span id="more-231"></span>Ground Zero Mosque</strong><br />
Feisal stressed that it&#8217;s not a mosque and it&#8217;s not located in Ground Zero. It&#8217;s a community center, comprised of meeting hall, fitness center, cafetaria and two floors for prayers room.</p>
<p>He believed Fox News is the one responsible for spreading the term &#8216;Ground Zero mosque&#8217;.  &#8220;They brand us. That&#8217;s what they do,&#8221; he said. &#8220;Suddenly it&#8217;s on Ground Zero, and suddenly I become a Ground Zero imam.&#8221;</p>
<p>He said that community association in lower Manhattan has no problem with the project, because he asked for permission and support before the plan was introduced &#8211;and he got them.  Jewish association has no problem.  Feisal even mentioned that a Jewish college once rallied a support for the project.</p>
<p><strong>The role of media</strong><br />
Aside from Fox News (which I can say that he&#8217;s very disturbed by the way they portrayed Islam), he&#8217;s concerned with how Islam issue quickly find its way in international media. He referred to the &#8216;burning Quran&#8217; idea by an unknown pastor in Florida who actually has only 35 followers.</p>
<p>But when the news hit international media, people in Islamic countries began protesting in the streets. Some died in the protest (in Pakistan, I think). He said President Yudhoyono told him how he phoned Obama directly and asked him top prevent the quran burning, otherwise a war could break out in the streets.</p>
<p>&#8220;35 people? Even those who often demonstrate in Bundaran HI (a favorite spot for demonstrators in Jakarta) are more than fifty people,&#8221; he said.</p>
<p><strong>Minaret ban in Swiss</strong><br />
This is the cheese part. Feisal is also concerned with why muslims have habit to build mosque with dome or minaret when there&#8221;s nothing in Islam that says we must do so.</p>
<p>&#8220;If the companions of the prophet were still alive and they see how mosque looks today, they&#8217;d be suprised. They&#8217;d ask &#8216;what&#8217;s this? The prophet&#8217;s mosque dont have dome or minaret&#8217;,&#8221; he said.</p>
<p>He encouraged muslims in Europe to become more attached with the local culture. Some mosques in Indonesia and in China dont have dome or minaret at all.</p>
<p>&#8220;Why dont muslims in Switzerland build mosque which looks local? Which looks like cheese, maybe?&#8221;  he said.</p>
<p>I can say that most Indonesian muslims will agree with him. There&#8217;s nothing in Islam that says we must include dome or minaret in a mosque. My religion-desk editor who has a degree in Sharia law said that dome and minaret was actually &#8216;Persian architecture influence&#8217; (and has nothing to do with Islamic principles).</p>
<p><strong>Muslim integration in Europe<br />
</strong>He said he understands if people in Europe feel threatened by the increasing number of muslim immigrants. To ease this feeling muslims should be more proactive, try to build a better communication and a better understanding with their European neighbors. This is not only for the sake of integration, but more fundamentally, is an Islamic principle itself. He quoted a famous verse in Quran in which Allah said humans are created in different ethnics and tribes in order to know each other.</p>
<p>He also quoted a study by an Indian professor (he quoted the study in his book) about violence in Indian cities between muslims and sikhs.  The study finds that such violence mostly happen in cities or urban areas where muslims and sikhs are relatively unknown to each other. But in villages where muslims and sikhs could be neighbors and more integrated, three&#8217;s a buffer to prevent such violence.</p>
<p>He said the formula might work in the relation between European and muslims. Based on his personal experience, Feisal said that those who often travel to muslim countries and have many muslim associates will not quickly have a negative view about Islam.</p>
<p><strong>Hijab<br />
</strong>This topic is mostly for muslims and his view is rather unpopular, at least to Indonesian muslims.  This topic will require some basic understanding in Sharia law. Feisal said that hijab is actually only one of the three interpretations in Sharia about woman&#8217;s obligation to cover her body. But the problem is the other two interpretations (which dont require woman to wear hijab) are dismissed and often considered wrong or even &#8216;un-Islamic</p>
<p>For muslim women living in Europe (and receive discrimination or negatif treatment due to hijab), the other two intepretations about hijab in Sharia might present a solution.</p>
<p>Feisal then gave en example about how Imam Syafii, one of four Sunni giants of Islamic jurisprudences changed his opinion based on his locations. Fatwa by Imam Syafii when he lived in Irak compared to when he lived in Baghdad is quite different.</p>
<p>So if fatwa by Imam Syafii (Indonesian sunnis are mostly followers of the Syafii school) may vary based on his location, a different interpretation about hijab might also be suitable for the present situation in Europe.</p>
<p>Feisal thinks there&#8217;s a Sharia basis if a muslim woman in Europe needs to remove her hijab in order to integrate smoothly in European society.</p>
<p>My colleague, a woman who wears hijab was stunned and spontaneously said, &#8220;What!!?&#8221;</p>
<p><strong>Contemporary marriage<br />
</strong>This is another topic which is mostly for muslims and his view is unpopular to Indonesian muslims, or even controversial. Lately Indonesia Ulema Council has issued a fatwa that forbade contemporary marriage. It is considered haram, illegal from the perspective of Sharia law.</p>
<p>But Feisal didnt seem to agree. He believed there&#8217;s a room for Ijtihad (formulating your own ideas on some matters on the ground that Islam has no specific rules about it). While contemporary marrige can be misused, he said muslim scholars should look more into the matter to find its advantages.</p>
<p>This topic brought quite a debate during the interview between Feisal and my woman colleague.</p>
<p>&#8216;Dont you think contemporary marriage will destroy the concept of marriage in Islam itself?</p>
<p>&#8216;Why&#8217;?&#8221;</p>
<p>&#8216;What if people agree to have contemporary marriage for only one day? What&#8217;s the difference from buying sex from prostitute?&#8217;</p>
<p>&#8216;Then lets make it a condition that contemporary marriage must last at least a year, or three years&#8217;  Feisal replied.</p>
<p>He then gave examples of how contemporary marriage may have benefits for muslims. If muslims marry and divorce and it&#8217;s considered okay, why should they be afraid of contemporary marriage?</p>
<p>I dont wanna go further into the issue due to my lack of Sharia understanding about this matter. It&#8217;s sufficient to say that muslims in the era of the prophet were once allowed to do it under strict conditions, but after a while, the prophet forbade muslims to do it. But many generations later, some muslims still argue that contemporary marriage is actually not forbidden.</p>
<p><strong>Muslim non-muslim relations<br />
</strong>This topic is rather an expansion of our previous interview. In 2007 interview, when asked about his opinion of terrorist sucide attack, Feisal quoted a famous hadith (saying of the prophet) which tells a story of a prohpet&#8217;s companion who fought bravely in Jihad war. He survived but was wounded heavily.</p>
<p>Because he could not bear the pain of his wounds, at night in the camp, he committed suicide. Other companions aksed the prophet about his fate and the prophet replied, &#8216;He&#8217;s in hell.&#8217;</p>
<p>In our recent interview, he gave more shocking examples quoting from hadiths and story of the prophet. He said that the prophet once have a dialogue with Christians living in Mecca. The dialogue was conducted in the mosque, and when the time came for Christians to have their prayers, the prophet let them pray inside the mosque.</p>
<p>I must admit that I was rather stunned to hear this. My ustadz never told me about this and I&#8217;ve never heard or read it before. I must have looked at Feisal sharply because he seemed to sense something.</p>
<p>He suddenly asked me directly. &#8216;Why are you looking at me like that? You dont you like what I&#8217;m saying? You think I lie? It&#8217;s true.&#8221;</p>
<p>Haha.. what an embarassing moment for me. I didnt admit I was stunned. I just said it&#8217;s okay and then asked him to continue his explanation.</p>
<p>Later I ask my religion-desk editor again if what Feisal said was true, that the prophet once allowed christians to pray inside his mosque. He nodded, adding that such history is relatively well-known among Islamic scholars. Though he said that there might be complexities if muslims today want to follow such example.</p>
<p>Feisal said that the problem between Islam and the west is not about Islam or Christian, or Jews. The problem is the radicals on each side of the religion. He then quoted again an hadith from the prophet which says that the best thing on all matters is in the middle.</p>
<p>This is again a famous hadith I&#8217;m quite familiar of. Meaning that in all matters &#8211;food habit, clothing, ideological stance etc&#8211; the best position is in the middle, not leaning very much towards the extreme,  either extreme conservative or extreme liberal.</p>
<p>There&#8217;s a popular term in Sharia about this tendecy to be extreme, that is ghuluw fid dien, meaning &#8216;tend to be extreme in religious matters&#8217;. And Feisal also quoted the hadith in which the prophet said  &#8216;Dont ghuluw fid dien.&#8217;</p>
<p>My mother sometimes put it in another way. &#8220;Islam is simple. But dont make it simpler. And dont make it difficult,&#8221; she said.</p>
<p>Another problem in Islam-west relation is the lack of knowledge which cause misunderstanding on both sides. Feisal said that non-muslim often misunderstand Islam, but on the contrary, muslims themselves also often misunderstand Islam.</p>
<p>He referred again to the three interpretations of hijab and the habit of building mosque with dome and minaret.</p>
<p><strong>Relation between state and religion<br />
</strong>This is one of the most complex issues we talk during the interview. If western countries have a strict separation between the state and the church, does Islam also have one?</p>
<p>Feisal started by saying that England actually doesnt recognize such separation, since Archbishop of Canterburry is appointed by the Queen. So in England, the state and the church are one.</p>
<p>When we talked about muslim integration in Europe, Feisal had also cited England as an example of having religion identity. &#8220;What&#8217;s an English? An English is you are white, speaks English, and Anglican,&#8221; he said.</p>
<p>While England doesnt have a separation between the state and the church, Feisal said that they have a separation between politics and religion. Religion leaders are not involved in politics, have no saying in the making of policy etc.</p>
<p>He said that during the many caliphates of Islam, such separation is actually employed. There&#8217;s sultan and there&#8217;s mufti. Sultan engages in poitics while the state-mufti engages in religion, although conflict often emerges between the two.</p>
<p><strong>The bottom line<br />
</strong>Except for hijab and contemporary marriage, I think Feisal&#8217;s view is relatively similar to most Indonesian clerics. I myself dont agree with him on those two issues. I accept that hijab is not the only valid interpretation regarding woman&#8217;s obligation to cover her body.  Some famous Indonesian clerics like Prof. Quraish Shihab (I personally has deep respect for him) or Nurcholis Madjid also said that hijab is not obligatory for women.</p>
<p>While I respect women&#8217;s decision no to wear hijab (in fact my mother didnt wear one until she&#8217;s old), I think there&#8217;s a big difference if</p>
<ol>
<li> Someone decides not to wear hijab because she feels &#8216;the other interpretation&#8217; is correct or</li>
<li> Because she feels the need to integrate smoothly in European society.</li>
</ol>
<p>The latter ground seems only an excuse for not wearing hijab and has nothing to do with Sharia. If you dont wanna wear hijab, then do it because you dont agree with the popular interpretation about hijab. Dont do it because you feel hijab is an obstacle to be accepted in European society and then you try to justify your weakness and find some comfort in the idea that there are other interpretations about it. That&#8217;s a pathetic mentality.</p>
<p>For the contemporary marriage, well, Feisal only said that muslims scholars should look more into it because if the risk of misuse can be avoided, then it will bring advantage to muslims. But I&#8217;ll still say say no to contemporary marriage.</p>
<p>Recently I read in The New York Times that Feisal announced that he will <a href="http://www.nytimes.com/2010/12/24/nyregion/24mosque.html?_r=2&amp;src=twt&amp;twt=%20nytime">set out on a national tour</a> in US to promote the community center, sometimes know as Park 51 project for its address on Park Place.</p>
<p>Tour in US? Hmm.. I think that&#8217;s smart. If he wants American people not to have misunderstanding about Islam, then a national tour is a great way to do it.</p>
<p>Actually I agree with Feisal that the more non-muslims know muslims, the more they will have a fair opinion about Islam.</p>
<p>I think such formula works for me in quite a different way. The more I have Indonesian-chinese friends, the more I dislike the anti-chinese sentiment in Indonesia. I kinda think that the struggle of muslim immigrants to be accepted in Europe is rather similar to the struggle of Indonesian-chinese to be accepted in Indonesia. But that&#8217;s another topic.*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basfinsiregar.com/should-mosque-look-like-cheese/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah eksistensial</title>
		<link>http://basfinsiregar.com/masalah-eksistensial/</link>
		<comments>http://basfinsiregar.com/masalah-eksistensial/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Oct 2010 22:25:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basf</dc:creator>
				<category><![CDATA[personal]]></category>
		<category><![CDATA[rants]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basfinsiregar.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama sekali rasanya tidak menulis di blog.  Sepertinya blog ini mulai menghadapi masalah eksistensial. Yakni, si pembuatnya mulai ragu apakah masih ada alasan blog ini tetap ada. Bagaimana kalau didelete saja? Toh sudah berbulan-bulan tidak ada postingan baru. Tapi saya juga teringat waktu domain saya basfinsiregar.com bermasalah hingga selama dua bulan blog ini tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama sekali rasanya tidak menulis di blog.  Sepertinya blog ini mulai menghadapi masalah eksistensial. Yakni, si pembuatnya mulai ragu apakah masih ada alasan blog ini tetap ada.</p>
<p>Bagaimana kalau didelete saja? Toh sudah berbulan-bulan tidak ada postingan baru.</p>
<p>Tapi saya juga teringat waktu domain saya basfinsiregar.com bermasalah hingga selama dua bulan blog ini tidak bisa diakses. Rasanya ngamuk dan pingin nyumpah-nyumpah. Entah kenapa, waktu ia ada jarang difungsikan, tapi kalau ngga ada, kita jadi stress sendiri (sampai akhirnya saya terpaksa bikin blog gratis lain di wordpress sekadar untuk menyalurkan hasrat menulis)</p>
<p>Yah, sudah sifat manusia kali. Tidak mengherankan.</p>
<p>Dulu, awalnya blog ini lahir karena alasan yang rada &#8216;nyeni&#8217;.  Bahwa si pembuatnya merasa perlu memberitahukan kepada dunia apa yang ia pikirkan. Dan biar rada canggih (sekaligus memuaskan sisi narsisme) maka dibelilah domain basfinsiregar.com</p>
<p>Tapi lama-lama, entah kenapa, kebutuhan untuk berekspresi itu tidak lagi sekuat sebelumnya. Who cares what I think? I feel content in my silence. Atau kalau pakai bahasa Jawa Timuran, ngga bilang apa pun pada dunia juga ra pateken! Kebetulan orang di belakang blog ini bukanlah sosok yang demikian anti-sosial sampai dunia maya jadi ajang satu-satunya untuk berdialog.</p>
<p>(Tentu juga tidak mengesampingkan faktor Facebook yang membuat updating blog rasanya makin berat)</p>
<p>Ah, jadi ingat ucapan penyair Subagio Sastrowardoyo. &#8220;Penyair yang terlalu melekatkan perhatian pada diri sendiri hanya akan melahirkan keluh kesah.&#8221; Perhatian itu harus diperluas, dilekatkan pada dunia, agar tercipta karya sastra yang lebih bermutu dan bukan semata manifestasi ego.</p>
<p>Itukah yang terjadi? Karena dasar blog ini adalah &#8216;perhatian pada diri sendiri?&#8221;</p>
<p>Heh, who would listen to Subagio anyway?  Premisnya sangat debatable. Karya-karya Chairil Anwar justru sangat bermutu ketika ia menjadikan dirinya sendiri &#8211;dan bukannya dunia&#8211; sebagai pusat semesta.</p>
<p>Mungkin ucapan Subagio lebih baik dipahami agar kita tidak terlalu narsis. Masih banyak hal lebih penting untuk disampaikan pada dunia daripada soal diri sendiri.</p>
<p>But sir, this is my blog. Terserah aku dong mau nulis apa saja. You enjoy, you read. Ga enjoy, get out.  As simple as that. Ini blog kan tidak diikutkan dalam kontes popularitas macam banyak-banyakan link atau banyak-banyakan posting.</p>
<p>Okay, enough rant.  Sudah setengah 10 malam. Kalau kemaleman pulang ntar ibu warung yang jualan rokok keburu tutup.</p>
<p><strong>Kesimpulan sementara:</strong> Blog ini insyaallah akan tetap eksis. Masalah eksistensial mungkin tetap ada. Tapi yang namanya orang ya wajar punya masalah, jadi wajar juga kalau blog bisa ikutan punya masalah.  Selain itu mungkin masih ada beberapa hal yang penulisnya ingin bagi, baik tentang diri sendiri atau tentang dunia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basfinsiregar.com/masalah-eksistensial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oceans dan Sirip Hiu</title>
		<link>http://basfinsiregar.com/oceans-dan-sirip-hiu/</link>
		<comments>http://basfinsiregar.com/oceans-dan-sirip-hiu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 21:33:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basf</dc:creator>
				<category><![CDATA[films]]></category>
		<category><![CDATA[a muslim's perspective]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basfinsiregar.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari lalu saya nonton film Oceans di bioskop. It&#8217;s a good movie. Recommended. Saya kasih rating B- untuk film ini. Oceans adalah film dokumenter tentang ttg laut. Ini adalah film dokumenter kedua dari Disneynature setelah sebelumnya mereka bikin Earth (2009). Kalau Anda belum Earth, hm.. kebangeten dah. Karena itu film luar biasa bagus, lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-medium wp-image-196" title="oceans-poster" src="http://basfin.files.wordpress.com/2010/04/oceans-poster.jpg?w=300" alt="oceans-poster" width="180" height="146" /></p>
<p>Beberapa hari lalu saya nonton film <a href="http://movies.yahoo.com/movie/1810017841/info">Oceans</a> di bioskop. It&#8217;s a good movie. Recommended. Saya kasih rating B- untuk film ini.</p>
<p>Oceans adalah film dokumenter tentang ttg laut. Ini adalah film dokumenter kedua dari Disneynature setelah sebelumnya mereka bikin <a href="http://movies.yahoo.com/movie/1809427488/info">Earth</a> (2009).</p>
<p>Kalau Anda belum Earth, hm.. kebangeten dah. Karena itu film luar biasa bagus, lebih bagus dibanding Oceans. B+ lah ratingnya. (versi bajakan yg kualitas ori juga sudah banyak beredar hehe..)</p>
<p>Saya tidak akan banyak cerita soal Oceans. Ia dan Earth punya kelebihan dan kekurangan masing2. Saya hanya akan cerita sedikit bagian dari film ini di mana saya begitu marah sampai menyumpah2.</p>
<p>Biadab.. biadab.. biadab&#8230; terkutuk&#8230;</p>
<p>Bagian itu adalah ketika Oceans menggambarkan praktik shark-finning, alias berburu sirip hiu.<span id="more-195"></span></p>
<p>Sirip hiu adalah salah satu makanan tradisional asal Cina. Makanan ini sudah dikenal sejak dinasti Ming. Sirip ini biasanya dibuat sup.</p>
<p>Tapi karena sirip hiu ini rasanya agak hambar, biasanya ia diberi rasa ayam atau macem2lah. Harganya mahal. Iklan di sebuah restoran di Hongkong misalnya mematok semangkuk sup sirip hiu seharga US 100 dolar.</p>
<p>Ada mitos bahwa sirip hiu mujarab sebagai obat kuat laki-laki. That&#8217;s bullshit. Sup ini justru berbahaya karena hiu mengandung konsentrasi merkuri dan logam berat di atas rata2 ikan normal.</p>
<p>Makanan ini populer lebih karena status, karena harganya yang mahal hingga citranya adalah makanan elit.</p>
<p>Sudah lama FDA (Food Drugs Administration), badan pengawas makanan di AS, <a href="http://edition.cnn.com/HEALTH/indepth.food/meat/seafood/shark.mercury/index.html">melarang konsumsi sup sirip hiu untuk wanita hamil dan anak2</a> karena kandungan merkurinya.</p>
<p>Bahkan kalau dikonsumsi berlebihan, sup sirip hiu bisa menyebabkan kemandulan bagi pria karena akumulasi merkuri. Begitulah setidaknya menurut <a href="http://www.chinadaily.com.cn/english/doc/2005-05/21/content_444520.htm">sebuah artikel</a> di koran China Daily.</p>
<p>Tapi yang membuat saya marah sebenarnya bukan soal supnya, melainkan cara memperolehnya. Benar2 biadab.</p>
<p>Setelah ikan hitu ditangkap, ternyata para nelayan itu hanya memotong siripnya, lalu mencemplungkan si hiu itu kembali ke laut.</p>
<p>Pertimbangannya adalah efisiensi. Daging ikan hiu harganya murah, sedang kargo kapal space-nya terbatas. Kalau ikannya dimasukkan sekalian ke dalam kargo, maka akan cepat penuh.</p>
<p>Jadinya cukup dipotong siripnya (ekor juga), lalu si hiu &#8220;dikembalikan&#8221; lagi ke laut. Dengan begitu meski kapal kecil dan kargonya kecil, para nelayan bisa memuat banyak sirip hiu.</p>
<p>Yang keji adalah, karena cuma sirip yang dipotong, maka ikan itu tidak mati. Ia akan tetap hidup.</p>
<p>Itulah yang terjadi pada hiu-hiu yang dipotong siripnya itu.</p>
<p>Film Oceans dengan jelas menggambarkan hal ini. Setelah kedua sirip dan ekor dipotong, hiu yang masih hidup itu dilemparkan balik ke laut. Tapi karena sudah tidak bersirip, ia tidak bisa apa-apa. Cuma megal-megol (goyang-goyang) mengikuti arus dan tenggelam seperti batu.</p>
<p>Hiu yang sudah tak bersirip itu akan mati pelan-pelan di dasar laut. Mereka biasanya mati tercekik (suffocate) karena darah memenuhi insang, atau mati dimakan hiu lain.</p>
<p>Saya membayangkan kalau seandainya bisa memilih, para hiu itu mungkin akan lebih memilih dimatikan saja ketika di kapal daripada dilempar balik ke laut setelah &#8220;dicacatkan&#8221; seperti itu.</p>
<p>Terus terang, dari berbagai metode menyiksa binatang, saya sulit menemukan metode lain yang lebih keji dibanding hal ini.</p>
<p>Kalau Anda nonton Oceans, Anda akan melihat secara close-up betapa menderitanya hiu yang tertangkap itu. Dari ketika dicemplungkan balik ke air, tenggelam pelan-pelan sambil megal-megol, sampai ia mendarat di dasar laut masih dalam keadaan hidup.</p>
<p>Biadab.. benar2 biadab.</p>
<p>Dalam Islam, semua hewan yang ada di laut halal dimakan, termasuk ikan hiu. Tapi menyiksa dengan cara sekeji itu adalah hal lain.</p>
<p>Usai nonton, iseng2 saya mencari informasi tentang sirip hiu, dan betapa kagetnya bahwa selain Cina, Indonesia ternyata adalah salah satu negara eksportir sirip hiu terbesar.</p>
<blockquote><p>Hong Kong handles at least 50% and possibly up to 80% of the world trade in shark fin, with the major suppliers being Europe, Taiwan, <strong><span style="color:#ff0000;">Indonesia</span></strong>, Singapore, United Arab Emirates, United States, Yemen, India, Japan, and Mexico. &#8211;<a href="http://www.flmnh.ufl.edu/fish/organizations/ssg/ssgfinstatementfinal2june.pdf">source</a></p></blockquote>
<p>Brengsek!</p>
<p>Lebih kaget lagi karena ternyata di Jakarta ini, setelah saya cari di mbah Google, berjibun restoran yang menjual menu sop sirip hiu. Di kawasan Jakarta Selatan banyak. Di daerah Pasar Minggu ada, di kawasan bisnis Sudirman juga ada.</p>
<p>Shhiiittt!!!</p>
<p>(Makanan sadis itu ga jauh2 ternyata, cuma setengah jam naik motor dari<br />
rumah.)</p>
<p>Salah satu aktivitas nelayan sirip hiu yang ada di Indonesia yang pernah ditulis di dunia maya adalah di Raja Ampat, Irian. Ini pun kebetulan karena si blogger itu adalah orang asing yang memiliki resort di kawasan Raja Ampat dan <a href="http://misoolecoresort.com/newsJanuary2007.html" class="broken_link">menuliskan pengalamannya</a> bertemu para nelayan sirip hiu di blog resortnya (ada gambarnya juga).</p>
<p>Daerah yang termasuk penghasil sirip hiu di Indonesia antara lain adalah: hampir semua!</p>
<p>Dari Cilacap sampai Aceh, saya baca ada saja nelayan yang menggantungkan hidup dari berburu sirip hiu. Mereka kebanyakan menjual sirip itu ke distributor untuk diekspor.</p>
<p>Kantor berita Antara pernah memuat foto nelayan Aceh sedang menjemur puluhan sirip hiu. Bisa dilihat <a href="http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1266143403/jemur-sirip-hiu">di sini</a>.</p>
<p>Saya memang belum pernah makan sirip hiu. Tapi setelah nonton kekejian yang menimpa para hiu, jadi makin berniat untuk tidak makan sirip hiu.</p>
<p>Saya sarankan Anda juga jangan pernah memakan sirip hiu. Walau ikan hiu halal, betapa sadisnya penyiksaan yang dialami ikan itu hanya untuk semangkuk sup.</p>
<p>Dan insyaallah, sepemahaman saya, Islam tidak membenarkan penyiksaan seperti itu.</p>
<p>&#8220;Ada orang yang masuk surga karena memberi makan anjing, tapi ada juga yang masuk neraka karena menyiksa anjing&#8221; (ucapan Quraish Shihab dalam sebuah episode Tafsir Al Misbah di Metro TV).*</p>
<p>Berikut sedikit gambar:</p>
<p>Memotong sirip hiu</p>
<p><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-197" title="finning-1" src="http://basfin.files.wordpress.com/2010/04/finning-11.jpg?w=150" alt="finning-1" width="150" height="150" /></p>
<p>Hiu martil yang sudah dipotong sirip dan ekornya lalu dilempar balik ke laut</p>
<p><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-198" title="finning2" src="http://basfin.files.wordpress.com/2010/04/finning21.jpg?w=150" alt="finning2" width="150" height="150" /></p>
<p>Hiu hidup yang &#8216;mendarat&#8217; di atas karang setelah dilempar balik ke laut.</p>
<p><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-199" title="finning3" src="http://basfin.files.wordpress.com/2010/04/finning31.jpg?w=150" alt="finning3" width="150" height="150" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basfinsiregar.com/oceans-dan-sirip-hiu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Clash of The Titans</title>
		<link>http://basfinsiregar.com/clash-of-the-titans/</link>
		<comments>http://basfinsiregar.com/clash-of-the-titans/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 17:05:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basf</dc:creator>
				<category><![CDATA[films]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basfinsiregar.com/clash-of-the-titans</guid>
		<description><![CDATA[Roger Ebert, kritikus film Chicago Sun-Times yang meraih Pulitzer pada 1975, pernah menjelaskan dengan lucu tentang caranya menilai sebuah film. Inti metodenya adalah sebuah film hendaknya dievaluasi berdasarkan &#8216;genre&#8217; atau &#8216;competitive pool&#8217; yang sejenis. Kalau Anda tanya apakah Hellboy itu film bagus, Anda tidak tanya apakah ia bagus dibandingkan Mystic River. Anda tanya apakah ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-medium wp-image-644" title="clash of the titans" src="http://basfinsiregar.com/wp-content/uploads/2010/04/clash-of-the-titans-205x300.jpg" alt="" width="144" height="210" /></p>
<p>Roger Ebert, kritikus film Chicago Sun-Times yang meraih Pulitzer pada 1975, pernah menjelaskan dengan lucu tentang caranya menilai sebuah film. Inti metodenya adalah sebuah film hendaknya dievaluasi berdasarkan &#8216;genre&#8217; atau &#8216;competitive pool&#8217; yang sejenis.</p>
<blockquote><p>Kalau Anda tanya apakah Hellboy itu film bagus, Anda tidak tanya apakah ia bagus dibandingkan Mystic River. Anda tanya apakah ia bagus dibandingkan Punisher. Dan jawaban saya adalah, dalam skala 1-4, maka Superman (1978) adalah 4, Hellboy 3, dan Punisher 2.</p></blockquote>
<p>(haha.. memang ga level-lah membandingkan Hellboy dengan Mystic River)</p>
<p>Jadi apakah Clash of The Titans film bagus?</p>
<p>Ya tergantung dia ditaruh di pool macam apa. Kalau dibandingkan dengan 10.000 BC misalnya, saya pikir Clash of The Titans masih kalah sedikit. Dan itu saja, sebenarnya, sudah membuat saya menganggap film ini tidak begitu layak direkomendasikan.</p>
<p>Spesial efek Clash of The Titans memang bagus, terutama ketika Perseus bertempur melawan Kraken. Terus ada Sam Worthington yang beken lewat Avatar. Tapi ya.. begitulah. It&#8217;s just a so-so movie. Tidak terlalu layak dibahas panjang-panjang. C atau C-minus is a fair judgement.*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basfinsiregar.com/clash-of-the-titans/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikah di depan jenazah?</title>
		<link>http://basfinsiregar.com/menikah-di-depan-jenazah/</link>
		<comments>http://basfinsiregar.com/menikah-di-depan-jenazah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 21:20:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basf</dc:creator>
				<category><![CDATA[personal]]></category>
		<category><![CDATA[a muslim's perspective]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.basfinsiregar.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin malam tidak sengaja nonton putri mbah surip (Resia namanya) melangsungkan akad nikah di depan jenazah ayahnya. Saya tidak terlalu suka menyaksikan tayangan itu, makanya langsung ganti channel. Padahal dulu saya juga nyaris melakukan itu. Alhamdulillah batal, karena insyaallah, menikah di depan jenazah memang bukan sesuatu yang pantas dilakukan. Apalagi Si Resia jatuh pingsan usai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin malam tidak sengaja nonton putri mbah surip (Resia namanya) melangsungkan akad nikah di depan jenazah ayahnya.</p>
<p>Saya tidak terlalu suka menyaksikan tayangan itu, makanya langsung ganti channel.</p>
<p>Padahal dulu saya juga nyaris melakukan itu. Alhamdulillah batal, karena insyaallah, menikah di depan jenazah memang bukan sesuatu yang pantas dilakukan.</p>
<p>Apalagi Si Resia jatuh pingsan usai akad nikah. Tak ada senyum atau nuansa kebahagiaan.</p>
<p>Justru keributan. Masalah: keluarga berusaha menyadarkan Si Resia, dan jenazah Mbah Surip jadi lebih lama dikubur.</p>
<p>Padahal untuk apa semua masalah itu? Hanya agar Mbah Surip alm bisa ikut &#8220;menyaksikan&#8221; pernikahan anaknya.</p>
<p>Betapa tak eloknya. Sekaligus kasihan.<span id="more-171"></span></p>
<p>Tentu saja, saya bisa memahami psikologi anak yang ingin orang tuanya bisa &#8220;menyaksikan&#8221; pernikahan mereka.</p>
<p>Saya sendiri juga pernah berada di titik itu. Ibu (kini almarhum) masih hidup ketika saya melamar. Waktu itu beliau sebenarnya sudah sakit-sakitan, tapi masih memaksakan diri ikut rombongan, melamar ke Malang (rumah istri).</p>
<p>Tanggal pernikahan akhirnya ditetapkan. Tapi sebelum hari H, ibu meninggal. Dan saya pun, seperti Si Resia, sempat berinisiatif untuk menikah di depan jenazah ibu.</p>
<p>In fact, saya sampai melobi orang-orang tertentu di keluarga untuk mendukung ide ini.</p>
<p>Tapi ide itu pupus. Syukur alhamdulillah.</p>
<p>Kebetulan waktu itu saya masih menyimpan sedikit ruang untuk bertanya, untuk yakin kalau hal itu memang baik. Saya akhirnya berkonsultasi dengan ustadz yang saya akui kapasitas ilmu agamanya.</p>
<p>Ustadz itu menjawab kalau di dalam Islam tidak dikenal menikah di depan jenazah. Dia (yang kental tradisi nahdliyinnya)  juga heran, tidak yakin kalau itu merupakan tradisi kalangan nahdliyin.</p>
<p>(karena saya sempat berargumen, &#8220;bukannya itu biasa di kalangan NU,  Mas?&#8221; hahaha.. klaim geblek memang)</p>
<p>Perbincangan dengan ustadz itu membuat skeptisisme yang tadinya kecil jadi besar.  Akhirnya pun baca lagi, riset lagi, mencari pengetahuan yang benar sebelum memutuskan.</p>
<p>Saya lalu bertemu <a href="http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1150873261" class="broken_link">artikel menarik ini</a> dari ustadz Ahmad Sarwat.</p>
<p>Jawabannya kurang lebih sama dengan jawaban si ustadz nahdliyin yang saya tanya itu. Menikah di depan jenazah memang tidak dosa. Hanya tidak pantas.</p>
<p>Sebab, rasulullah selalu memosisikan pernikahan dengan kebahagiaan, sampai memerintahkan dihidangkan makanan walimah, hingga dibolehkannya nyanyian dengan alat pukul.</p>
<p>Lha wong sikap rasul adalah selalu memposisikan pernikahan dengan kebahagiaan, kok tiba-tiba diswitch ke nuansa duka orang meninggal? Apakah itu pantas?</p>
<p>Kalau saya merenungi lagi masa-masa itu, harus diakui kalau keinginan menikah di depan jenazah itu lebih didorong oleh <strong>sugesti</strong>. Dengan berencana menikah di depan jenazah ibu,  saya merasakan sugesti bahwa ibu masih sempat menyaksikan saya menikah.</p>
<p>Saya tidak terlambat. Saya menikah sebelum ibu dikuburkan.</p>
<p>Tapi yah, itu cuma sugesti buat diri sendiri.  Yang diciptakan dengan akal-akalan sendiri,  untuk dinikmati sendiri.</p>
<p>Jenazah yang seharusnya segera dimakamkan itu pun untuk sementara dimodifikasi statusnya dari jenazah menjadi simbol. Simbol kehadiran.</p>
<p>Sedang faktanya, my mother is dead.  And I should accept it.</p>
<p>Saya terlambat.  Saya menikah setelah ibu meninggal. And I should accept it too.</p>
<p>Memilih menerima kenyataan pahit itu tanpa membuat-buat sugesti untuk menghibur diri sendiri, meski menyakitkan, insyaallah, adalah keputusan yang lebih tepat. Tak perlu semua simbolisme itu!</p>
<p>Kalau Anda tanya apakah saya menyesali keterlambatan itu, saya jawab:</p>
<p>Ya Allah, betapa egoisnya diriku. Aku menganggap pernikahanku lebih penting dibanding takdir-Mu bahwa ibu harus meninggal hari itu, hingga jenazahnya &#8220;kutahan&#8221; dulu sebelum kukembalikan pada-Mu.</p>
<p>For the fracking idiot readers (no offense, okay?), itu artinya ya saya agak menyesal. Wong namanya anak. Saya lagian masih manusia, bukan mesin. Jadi masih ada egoismenya.</p>
<p>Tapi maut adalah takdir. Dan kita harus beriman pada takdir.</p>
<p>Anda bisa memilih mengobati penyesalan itu dengan menikah di depan jenazah, atau memilih menerima bulat-bulat takdir Allah dan melakukan apa yang seharusnya diperbuat terhadap jenazah.</p>
<p>Menguburkannya. Bukan menahannya dan menjadikannya simbol kehadiran.</p>
<p>Resia seharusnya menikah tanggal 16 Agustus. Tapi tanggal 4 Agustus Mbah Surip meninggal. Ia terlambat 12 hari.</p>
<p>Saya bisa mengerti penyesalan luar biasa Resia karena terlambat hanya 12 hari. Makanya ia menikah di depan jenazah.</p>
<p>Tapi sekali lagi, menerima takdir tanpa reserve dan melakukan apa yang seharusnya, insyaallah adalah pilihan yang lebih tepat. Seperti yang dikatakan Tante In (keluarga dari pihak istri) yang saya kagumi kealiman dan ketaqwaannya. &#8220;Tidak ada yang perlu disesali, semuanya sudah kehendak Allah,&#8221; katanya.</p>
<p>Simple words isn&#8217;it.</p>
<p>Ibu meninggal subuh, dan dikubur usai ashar.</p>
<p>Memang agak terlambat. Tapi bukan karena ada addendum akad nikah, melainkan karena lubang lahat airnya merembes,  jadi warga kampung harus muter nyari pompa dulu.</p>
<p>(hehehe.. kendala teknis, insyaallah dimaklumi)</p>
<p>Saya sendiri akhirnya menikah dua bulan setelah ibu meninggal. Simply stick to schedule. Dan alhamdulillah bisa merasakan H2C (Harap-harap Cemas) saat akan mengucapkan akad, bisa tersenyum, tertawa, dan jelas tidak pingsan.*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basfinsiregar.com/menikah-di-depan-jenazah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

