Category works related

Bertemu An-Naim

Image Hosted by ImageShack.us

Saya lupa memposting wawancara menarik ini. Akhir Juli lalu, saya (and my editor,) menjumpai Abdullah an-Naim untuk wawancara khusus.

Abdullah an-Naim adalah pemikir Islam terkenal asal Sudan, sekaligus kontroversial. Pandangannya yang kerap mendapat kritik adalah syariat sebagai sesuatu yang sakral sekaligus produk budaya manusia.

Naim datang ke Indonesia karena diundang oleh penerbit Mizan. Buku terbarunya berjudul “Islam dan Negara Sekular: Menegosiasikan Masa Depan Syariah” diterbitkan Mizan akhir Juli lalu.

Edisi bahasa Indonesia ini justru mendahului versi bahasa Inggris. Versi bahasa Inggris baru akan diterbitkan pada tahun 2008, rencananya, oleh Harvard University Press.

Naim menginap di hotel Kristal, Jakarta Selatan. Wawancara akan berlangsung di kamar hotelnya. Kami sampai di hotel sekitar jam 7 dan segera menuju kamarnya. Naim menyambut hangat. Rupanya ia sudah menunggu. Saya perhatikan sepertinya ia baru selesai sholat maghrib. Soalnya saya lihat sajadah tersampir di lemari dekat TV.

Awalnya ngobrol ngalor-ngidul dulu. Perbincangan dilakukan dalam bahasa Inggris. Dia tanya kami ingin minum apa. Kopi aja deh. Ups, ternyata ga ada air panas. “Sori, saya masak air dulu,” kata Naim (hehehe, in english tentu)

My editor awalnya sudah memberikan background tentang pemikiran Naim. Ia bilang bahwa Naim memang agak trauma dengan negara. Ia menduga itu ada kaitannya dengan fakta bahwa gurunya, Mahmoud Ali, divonis mati oleh negara karena dianggap menyimpang.

(Well, that makes sense. Plato juga menolak demokrasi karena justru demokrasi –alias suara terbanyak— membuat gurunya, Socrates, harus meminum racun)

Naim sendiri memang tegas menolak konsep negara Islam. Dia bilang ide negara Islam adalah sesuatu yang secara konseptual tidak valid.

Selama wawancara, my editor (background pesantren-nya kuat, alumnus jurusan syariah UIN) yang lebih banyak mendominasi pertanyaan. Dia terlihat jelas bisa mengimbangi pemikiran Naim. Wawancara pun mengalir, seperti diskusi, bahkan debat.

Saya ingat ketika kami sampai pada soal negara Islam, di mana negara memiliki hak untuk memaksa penduduknya sholat. Jawaban Naim atas konsep itu sangat tegas.

Dia bilang:

..patuh pada syariat adalah kewajiban muslim. Jadi secara pribadi saya tidak punya anggapan bahwa syariat itu tidak mengenakkan. Tidak. Karena itulah saya menyebutkan menegosiasikan masa depan syariat. Saya percaya pada masa depan syariat. Tapi masa depan itu berada di luar negara. Membiarkan negara mengambil alih syariat akan merusak masa depan syariat. Karena itu akan membuat orang jadi munafik. Nifaq. Karena saya jadi patuh bukan karena ketakutan saya kepada Allah, melainkan pada negara. Di Sudan mereka memaksa orang untuk menutup toko dan pergi ke masjid untuk sholat. Dan ada petugas yang membawa cambuk. Kalau Anda pergi ke masjid untuk sholat, Anda sholat kepada negara, bukan kepada Allah. Hanya kalau Anda memilih pergi ke masjid karena pilihan Anda sendiri, Anda beribadah kepada Allah.

My editor langsung menyambar lagi. “Bagaimana dengan pendapat bahwa pemaksaan adalah langkah awal, training, sebelum sampai pada tahap beribadah kepada Allah? tanyanya.

Tapi itu berarti menegasikan prinsip niat. Anda tidak bisa punya agama tanpa niat. Niat untuk patuh harus datang secara sadar. Dalam syariat, perbuatan itu tidak valid sepanjang niat itu kosong. Jadi ada laki-laki tua berusia 50 tahun, dan dia membutuhkan negara untuk menyuruhkan ke masjid, dan kita mengatakan sholatnya valid? Saya katakan sholat itu tidak valid. Itu tidak akan pergi ke manapun. Mengapa negara harus menjadi posisi penyuruh? Apakah mereka menjadi muslim karena pilihan sendiri atau bukan? Kalau mereka menjadi muslim karena kesadaran, mereka bertanggung jawab atas perbuatan mereka sendiri. Tapi Anda tidak bisa bicara tentang warga negara yang dipaksa untuk melakukan sesuatu yang mereka sendiri tidak suka rela.

Saya agak tercenung mendengar jawaban Naim yang cerdas itu. Maklum, saya tidak pernah melihat dari perspektif itu. Belum pernah terpikir oleh saya bahwa ibadah itu tidak valid bila niat itu kosong.

Pembicaraan lalu mengalir lebih intens. Naim sebenarnya tidak menolak syariat. Hanya, dia menolak ketika syariat dijadikan hukum negara karena syariat semata. Dia bisa menerima kalau dasarnya adalah ketertiban publik. Berikut petikan wawancara kami seputar itu:

Jadi menurut Anda, kalau sebuah negara hendak menerapkan syariat, prinsipnya harus aspek sosial ekonomi, bukan karena syariat itu sendiri?
Ya. Dan bahwa kerangka negara adalah konstitusi, hak-hak fundamental, dan kesamaan warga negara. Jadi hukum apa pun yang melanggar ketiga prinsip itu tidak boleh disahkan karena inkonstitusional.

Dengan prinsip itu, memang bisa mengakomodir prinsip-prinsip syariat yang bersifat publik seperti soal judi, pelacuran. Tapi bagaimana dengan hukum syariat yang lain seperti potong tangan, zina? Apakah karena kita tinggal di negara sekular, kita harus menerima fakta bahwa tetap ada hukum yang sekular?
Semua kehidupan kita itu sekular. Manusia itu sekular. Tidak ada yang sakral dari manusia. Apa artinya sekular? Sekular berarti di dunia ini, saat ini. Sekular bukanlah suatu ideologi. Kehidupan ini adalah sekular. Sekular sejak akar, tapi dibimbing oleh petunjuk-petunjuk moral dari rasul. Jadi Anda bisa bilang kalau kehidupan manusia itu adalah fusi antara keberadaanya saat ini dan petunjuk moral ideal yang berasal dari Al Quran. Point saya, oke, kalau Anda ingin menerapkan hukum potong tangan, rajam bagi pezina, bawalah itu untuk diperdebatkan. Kalau seseorang mengajukan keberatan konstitusional atas usul tersebut, biarlah konstitusi yang memutuskan. Kalau Anda membiarkan sebuah hukum ditegakkan hanya karena Anda yakin itu adalah syariat, tanpa mempertimbangkan konstitusi, berarti Anda tinggal di sebuah negara yang tanpa konstitusi seperti Arab Saudi. Tapi karena Anda tinggal di sebuah negara yang memiliki konstitusi, maka biarlah konstitusi yang memutuskan.

Bisakah Anda memberikan contoh konkret syariat yang berhasil menjadi undang-undang seperti pemikiran Anda?
Misalnya pembatasan tentang judi, pelacuran. Ada banyak hukum syariat di mana ketika orang memperdebatkannya, mereka melihatnya dari segi kebijakan sosial. Mereka memberi penjelasan dari segi kebijakan sosial mengapa aturan ini perlu.
Anda tahu khuluk? Khuluk adalah prinsip syariat di mana wanita bisa bercerai dengan mengembalikan harta pemberian suaminya. Khuluk adalah prinsip syariat sejak pertama kali. Ini ada dasarnya dalam Quran dan rasul sendiri juga mengatakan demikian. Tapi khuluk tidak menjadi bagian dari hukum keluarga Mesir. Lalu tahun 2000 pemerintah Mesir mensahkan khuluk sebagai bagian dari hukum keluarga mereka. Saya menyebutkan contoh ini di buku saya. Jadi, fakta bahwa khuluk adalah syariat ternyata tidak cukup bagi wanita Mesir untuk mendapatkan keuntungan dari prinsip ini. Nah dalam debat di parlemen Mesir tentang pensahan khuluk, ada perdebatan tentang aspek kebijakan publik tentang misalnya: ada yang berpendapat bahwa khuluk perlu disahkan sebagai hukum karena ada ribuan wanita Mesir yang menunggu keputusan kasus cerai mereka di pengadilan, bagaimana ada yang sampai menunggu selama 15 tahun untuk bisa bercerai, bagaimana tumpukan berkas semakin menumpuk. Jadi mereka menyebutkan tentang adanya masalah sosial. Padahal mereka semua tahu bahwa khuluk sejak awal adalah bagian dari syariat. Jadi ini adalah contoh di mana debat bisa terjadi ketika syariat diajukan untuk jadi hukum dengan menimbang aspek positif dari segi kebijakan, dan orang dengan nalarnya bisa menyetujui bahwa ini baik. Tapi masalah tetap muncul, karena ketika khuluk dijadikan hukum positif, khuluk dijadikan sebagai sebuah hukum berdasarkan prinsip-prinsip syariat. Jadi sekarang pemerintah Mesir tidak bisa mengubahnya karena mereka menyebutnya syariat ketika mensahkan khuluk.

Wawancara akhirnya selesai sekitar jam 9 malam –berarti hampir 2 jam. Gatra akhirnya menerbitkan wawancara itu dua halaman dengan judul “Negara Sekuler Yes, Masyarakat Sekuler No”

Saya pikir itu judul yang bagus, karena menunjukkan posisi pemikiran Naim yang mendua. Ia menolak konsep negara Islam, tapi tidak menginginkan terciptanya masyarakat liberal.

Dalam perjalanan pulang (naik taksi), saya sempat kembali tercenung oleh pertanyaan Naim yang tajam itu. “Anda menjadi muslim karena pilihan sendiri atau bukan?” Ukhh, rasanya seperti dipukul telak.

Sudahlah. Perjalanan spiritual saya memang masih menyedihkan.*

Berikut beberapa link

- Wawancara Naim di Gatra (http://www.gatra.com/2007-08-10/artikel.php?id=106789)
- Profil An-Naim di Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Abdullahi_Ahmed_An-Na’im)
- Situs pribadi An-Naim (lengkap dengan artikel2 yang bisa didownload) (http://people.law.emory.edu/~aannaim/)

Pengajian Ridho Allah

Selasa kemarin (6/11) saya bertandang ke sekretariat Yayasan Ridho Allah di Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

It was an assignment. Gatra lagi meliput soal maraknya aliran sesat gara-gara fenomena Al Qiyadah. And somebody tipped off my editor kalau pengajian Ridho Allah layak dicek.

Pengajian Ridho Allah melakukan pengobatan dengan memanggil ruh -begitu asumsi yang tertulis di penugasan.

So I went there, had a deep interview with its leader (a very cooperative man), dan menemukan fakta bahwa meski insyaallah tidak sesat, pengajian Ridho Allah memang, well, differente

Ketua pengajian ini, Antono Basuki (52 th) has a deep contact with the afterlife world. In other words, alam gaib.

Antono banyak berhubungan dengan alam jin dan ruh. Ia misalnya bilang kalau pesulap terkenal David Copperfield menggunakan jin dalam atraksi sulapnya.

How does he know? Simple and first-hand: he talked with the jinn involved.

Unsur alam gaib inilah yang membuat pengajian Ridho Allah jadi berbeda. Tapi di luar itu insyaallah tidak ada hal yang kontroversial. Dari segi aqidah mereka tetap mainstream. Tetap sholat lima waktu, dan tidak menganggap aliran sendiri paling benar.

Gatra menurunkan laporan saya tentang pengajian ini di edisi 14 November 2007. Tapi sayang, hikss cuma 2000-an karakter! Dibuat gaya straight news lagi!!

Padahal aku nulis laporannya sampai 6000 karakter lebih. Wawancaranya pun dari jam 4 sampai jam 7 malam!!! Huaaaaaa hikss..hikss hikss

Ehmm.. ga nangis, ding. Bercanda. Masalahnya ada pada keterbatasan space, said my editor. He also apologized me for cutting the article so short. He is a professional.

Meski demikian, saya merasa sayang kalau liputan pengajian Ridho Allah yang menurut saya cukup mendalam itu tidak dibaca.

So, I decided to post it here, in my blog, the original version of the my Ridho Allah reportage.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberi gambaran lebih tentang karakteristik pengajian Ridho Allah.

Here it is:

“Saya hanya mengajarkan ikhlas,” begitu kata Antono Basuki, 52 tahun, ketika ditemui di sekretariat Yayasan Ridho Allah, Jl. Guru Serih Raya No. 7 Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Antono sehari-hari bekerja sebagai kontraktor di PT. Nindya Karya (Persero). Ia alumnus jurusan teknik sipil Universitas Gadjah Mada (UGM). Tapi selain menjadi kontraktor, ia menjadi ketua dari 200-an orang yang bernaung di bawah Yayasan Ridho Allah.

Antono mendirikan yayasan ini pada 9 November 2005. Tujuannya, karena dia ingin agar ilmunya bisa bermanfaat. “Sebab meski orang sudah meninggal, ilmu yang bermanfaat itu tetap ada pahalanya. Saya kan ingin masuk surga,” katanya.

Kegiatan pengajian rutin dua kali seminggu yang diadakan Antono ini memang pernah menimbulkan kecurigaan warga, kalau-kalau ia mengajarkan ajaran sesat. Antono sendiri juga mengakui hal itu. “Sempat ada pro-kontra. Dan itu bagus, sebab kita harus waspada. Saya juga mengajarkan agar waspada. Cuma jangan berhenti sampai waspada saja, harus dilanjutkan mengecek apakah benar atau salah,” jelasnya.

Sebenarnya secara ritual tidak ada perbedaan antara anggota jamaah Ridlo Allah dengan umat Islam mainstream. Mereka masih sholat lima waktu. Juga tidak memisahkan diri secara eksklusif dari masyarakat. Waktu Gatra berkunjung, menjelang maghrib tiba-tiba ada warga yang muncul, minta tolong karena ada kasus kesurupan. Antono pun bergegas ke rumah orang tersebut dan sholat magrib di musholla dekat rumah pasiennya.

Selain itu dalam acara pengajian rutin, yang diajarkan Antono adalah bagaimana agar sholat bisa khusuk. Lebih bisa berkonsentrasi, menyadari kalau selalu berada dalam pengawasan Allah. Sedang bacaan sholat terserah kebiasaan orang masing-masing. “Yah sebenarnya kami lebih mirip kelompok tasawuf-lah. Tapi saya tidak terang-terangan menyebut tasawuf, khawatir nanti disangka sudah tidak butuh dunia. Saya kan juga masih berdoa minta rezeki,” katanya.

Antono juga tidak mengajarkan wirid-wirid khusus kepada jamaahnya. “Saya memang tidak mengajarkan wirid. Saya bahkan melarang kalau ada yang baca wirid-wirid tertentu karena pingin kaya dan sebagainya,” katanya.

Hanya, kontroversi muncul karena Antono bersentuhan dengan dunia ghaib, yakni alam jin dan ruh. Cukup banyak orang yang datang ke Antono untuk berobat. Ada yang sembuh, ada yang tidak. Yang unik, Antono berkata kalau dia bisa berkomunikasi dengan penyakit tersebut.

Antono menjelaskan bahwa penyakit pada dasarnya juga makhluk Allah. Sama seperti batu juga makhluk Allah. Ketika ia berdialog dengan penyakit, biasanya si penyakit berkata bahwa ia datang karena orang bersangkutan ibadahnya kurang. “Saya lalu pesankan agar orang itu ibadahnya dipergiat,” jelasnya.

Yang mudah, kata Antono, adalah kalau penyakit itu disebabkan oleh jin yang bersarang di tubuh manusia. Kalau kasusnya begitu, biasanya ia tinggal minta agar jin yang mengganggu itu pergi.

Tapi Antono juga mengakui kalau tidak semua penyakit bisa disembuhkan. Sebabnya, bisa jadi penyakit itu adalah takdir orang bersangkutan untuk menjumpai maut. “Jadi tidak semua sembuh. Ada yang memang takdirnya meninggal dengan penyakit. Kalau kasusnya begitu, hati saya biasanya mak tek, ya sudah, tidak bisa berbuat apa-apa lagi,” jelasnya.

Persentuhan dengan alam jin juga sampai ke kisah legenda Nyi Roro Kidul. Menurut Antono, Nyi Roro Kidul sebenarnya adalah jin kafir. Tapi oleh Antono, jin kafir itu kemudian diislamkan dan dikirimkan ke ruh Sunan Kalijaga untuk diawasi. Detil kisah Nyi Roro Kidul itu terekam dalam DVD berjudul Alam Ghaib Gempar, Menuju Indonesia Bebas Jin Kafir keluaran yayasan Ridho Allah.

Selain soal Nyi Roro Kidul, juga ada soal pesulap terkenal David Copperfield. Menurut Antono, David Copperfield ternyata memakai jin dalam aksi-aksi sulapnya. Itu dia ketahui setelah berkomunikasi dengan jin yang terlibat dalam atraksinya. “Sebab tidak mungkin, tubuh dipotong kok tidak ada darahnya,” katanya.

Meski demikian, Antono mengatakan bahwa dia tidak memiliki anak buah jin. Bahkan pernah ada jin yang pernah ingin ikut dengannya, disuruh pergi. “Jin itu sering tidak bisa dipercaya. Kalau ada orang yang mengaku bisa memerintah jin, sering justru dia yang diperbudak oleh jin,” tegasnya.

Selain soal jin, yang juga mengundang kontroversi adalah pengakuan Antono bahwa dia bisa berkomunikasi dengan ruh. Antono mendemonstrasikan kemampuan ini secara visual lewat DVD berjudul Siksa Kubur: Kesaksian dari Arwah. DVD itu diedarkan kepada jamaah, Gatra juga diberi. Bahkan Antono bersikap proaktif dengan mengirimkan DVD tersebut ke beberapa nama berikut: Presiden dan Wakil Presiden RI, mantan presiden Soeharto, Gus Dur (Abdurrahman Wahid), Hamengkubuwono X, Kelompok Kyai Langitan, serta sebuah stasiun televisi swasta.

DVD berjudul Siksa Kubur 1 misalnya, berisi kesaksian ruh seorang yang semasa hidupnya menjadi koruptor, ruh seorang mafia peradilan, serta ruh seorang wakil rakyat yang tidak amanah. Lalu di Siksa Kubur 3, ada ruh anggota polisi yang suka menerima uang haram, ruh orang yang melakukan bunuh diri, serta ruh seorang dai yang menjual ayat. Berbagai ruh tersebut bercerita –lewat mediator jasad fisik seorang anggota jamaah— tentang penderitaan yang mereka alami di alam kubur.

Tapi Antono menolak kalau dikatakan dia bisa memanggil ruh. Yang ia lakukan adalah memohon kepada Allah. “Jadi saya minta kepada Allah agar ruh orang yang korupsi didatangkan,” jelasnya.

Menurut Antono, tujuan memohon kepada Allah itu adalah agar mereka yang masih hidup bisa memetik pelajaran dari para ruh. “Dan saya tidak tiap minggu memohon agar ruh didatangkan. Kalau itu dagelan. Hanya untuk direkam di DVD agar kita bisa mengambil pelajaran,” jelasnya.

Persentuhan dengan alam ruh ini ternyata juga sampai ke level para wali dan nabi. Ketika Gatra bertanya apakah guru Antono juga termasuk para ruh, dia mengatakan bahwa ruh walisongo adalah gurunya. Lalu ruh Rabiah al-Adawiyah, wanita sufi dari kota Basrah. Lalu ruh Nabi Khidir as.

Gatra sempat bertanya agak detil soal ruh Nabi Khidir as ini. Antono lalu menjelaskan bahwa sebenarnya dia tidak meminta untuk bertemu dengan ruh Nabi Khidir. Namun ruh Nabi Khidir as yang mendatanginya. “Nabi Khidir bilang kalau beliau datang ke saya itu karena diperintah. Lalu beliau mengajarkan soal ikhlas,” katanya.

Kata Antono, pertemuan dengan ruh Nabi Khidir as terjadi sampai lebih dari sepuluh kali. Selain itu yang juga pernah datang adalah ruh Bung Karno, presiden pertama RI. “Bung Karno biasanya ngomong soal kenegaraan,” jelasnya.

Antono juga menyadari bahwa pernyataan-pernyataannya bisa mengundang kontroversi. Karena itu yayasan yang dia pimpin terbuka untuk berdialog, atau bahkan dievaluasi oleh pihak lain. “Saya juga mengirim surat ke Lemhanas dan BIN (Badan Intelijen Nasional). Saya terbuka saja. Saya justru ingin dikoreksi kalau salah,” katanya.

Selain mengirimkan rekaman DVD ke berbagai pihak, keterbukaan itu juga ditunjukkan dengan membuat website khusus beralamat di http://www.ridhoallah.com. Di forum tanya jawab website tersebut, soal jin, berbicara dengan benda, bertemu dengan ruh Nabi Khidir dan bertemu dengan ruh walisongo mendapat banyak reaksi. Ada yang menuduh telah bidah, musyrik, atau sekadar iseng-iseng menghina. Tapi ada juga yang mengomentari dengan prasangka baik.

Dalam tulisan-tulisannya, Antono tetap tenang saja menjawab berbagai respon itu. “Alam ghaib itu memang soal keyakinan. Tapi saya juga tidak mengklaim paling benar. Justru kalau sudah merasa paling benar, dia sudah salah,” katanya.

Bahkan mengenai maraknya aliran sesat akhir-akhir ini, Antono mengatakan kalau ia menduga bahwa itu ulah para jin dan setan yang sudah menyesatkan. Untuk mengantisipasi hal itu, kata Antono, kita harus iklhas. “Sebab orang iklhas itu tidak bisa digoda setan,” katanya.

-selesai—

PS: Copyright tulisan ini ada di majalah Gatra.

Encounter with Peter Sanders

Image Hosted by ImageShack.us

KAMIS kemarin saya dan Niko (fotografer kantor) mengikuti Peter Sanders berburu gambar di ponpes Darunnajah. Kami ditemani Bu Edith, kepala humas kedubes Inggris. Kami janji bertemu jam 9 di hotel Mandarin Oriental.

Sanders adalah fotografer terkenal. Dia spesialis memotret dunia Islam. Meski bule asli (warga negara Inggris), Sanders seorang muslim. Dia sudah memotret komunitas Islam di berbagai negara -Maroko, Senegal, Mesir, Cina, Mali dll- sejak tahun 1971 (aku belum lahir, bahkan).

Kalau tidak percaya, coba search “Peter Sanders” di google. Ada cukup banyak situs berita online yang masih memajang foto-fotonya (antara lain BBC). Profil dia juga cukup banyak ditulis di katalog pameran fotografi atau surat kabar.

Sekarang usia Sanders sudah 60 tahun, dan masih juga bekerja. A very great person.

Sekitar jam 9 Sanders turun ke lobi hotel. Ia memakai kopiah dan jas hitam. Bu Edith memperkenalkan kami sebagai wartawan yang hendak mewawancarai dan melihat cara dia bekerja. Sanders mengangguk sambil tersenyum.

Sebelumnya Bu Edith menanyakan apakah saya bisa berbahasa Inggris. Kalau tidak berarti dia harus jadi penerjemah. Saya bilang bisa. Oke, kata Bu Edith, berarti ntar saya duduk di belakang, mas dan Sanders duduk di tengah biar bisa ngobrol. Sedang Niko duduk depan, dekat sopir.

Dalam perjalanan ke ponpes Darunnajah, Sanders lalu bercerita bagaimana awalnya dia bisa memeluk (convert to) agama Islam. Usianya waktu itu 24 tahun. A very interesting story.

Pada tahun 1960-an, ternyata Sanders sudah menjadi fotografer professional. Tapi waktu itu yang dipotretnya kebanyakan pentas musik (alias fotografer musik). Beberapa nama besar dalam dunia musik seperti Jimmy Hendrix, Rolling Stones, pernah dijepretnya.

1960-an di Inggris adalah era drugs dan sex. Slogan anti-perang “make love not war” sering diterjemahkan secara harfiah. Daripada perang, mending bercinta. Jadi tidak heran kalau pentas-pentas musik anti-perang sekaligus menjadi ajang drugs dan sex bebas.

Untungnya Sanders termasuk bersih. Dia tidak nge-drugs. Apalagi pada masa itu dia lebih terserap oleh pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya spiritual.

Untuk apa saya di sini? Apa arti hidup ini? Akan ke mana saya? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala saya, kata Sanders.

Lalu manajemen Rolling Stones mendekat. Sanders dapat tawaran menjadi fotografer Rolling Stones selama tur 3 bulan keliling Eropa. Tawaran itu ia tolak.

“Kenapa?” tanya saya
“Rolling Stones sangat berat kecanduan narkotik. Saya tidak mau terkurung selama tiga bulan bersama mereka. Rasanya tidak benar, ” katanya.

“I had a quiet life when I was young,” tambah Sanders lagi.

Hmm… kehidupan masa muda yang tenang? Entah kenapa mendengar istilah “quiet life” saya mendapat visualisasi pemuda yang pendiam, tidak banyak tingkah, lurus-lurus saja, dan jelas sangat tidak cocok dengan Rolling Stones era 1960-an yang radikal.

Cerita Sanders berlanjut.

Rupanya, dia serius dengan kegelisahan spiritualnya. Setelah menolak tawaran Rolling Stones, Sanders bertolak ke India untuk mencari pemahaman spiritual. Dia berguru pada seorang guru desa (semacam seikh) yang beragama Hindu dan tinggal di rumah gurunya selama 6 bulan. Dia mempelajari Hindu, Islam, dan agama Sikh di sana.

“It was a spiritual journey,” katanya.

Setelah 6 bulan tinggal di India Sanders kembali ke Inggris. Lalu suatu malam, dia bermimpi bertemu gurunya yang beragama Hindu itu. Dalam mimpi itu sang guru berdiri dekat sebuah ruang kelas, lalu tangannya bergerak memberi isyarat agar Sanders memasuki ruang kelas tersebut.

Sanders pun masuk. Dan ternyata ruangan itu berisi para siswa-siswa muslim yang tengah mempelajari agama Islam (semacam madrasah).

“Bagaimana Anda menafsirkan mimpi itu?” tanya saya
“Bahwa saya memang diarahkan untuk memasuki jalan itu,” katanya.

Sempat ada proses pemikiran dan perenungan usai mimpi itu. Tapi akhirnya Sanders mengambil sikap. Suatu malam di toko karpet milik sahabatnya yang seorang muslim, berlokasi di Chelsea, Sanders mengucapkan dua kalimat syahadat. Waktu itu tahun 1971. Usianya 24 tahun.

Setelah itulah kata Sanders dia tidak lagi memotret pentas musik. Pada bulan ramadhan di tahun 1971 itu, kata Sanders, dia pergi ke Maroko dan (lagi-lagi!) mencari guru spiritual.

Saya tidak tanya bagaimana sebenarnya proses dia mencari guru spiritual itu, dan bagaimana bisa ketemu. Tapi kata Sanders di Maroko dia akhirnya mendapat guru spiritual yang hebat, seorang seikh di madrasah tradisional di Maroko.

“Usianya 108 tahun. Ulama yang sangat hebat,” katanya.

Guru spiritualnya yang baru ini ternyata memang hebat. Sebab dia meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Kata Sanders, pada musim haji tahun 1971, sang guru hendak naik haji. Sanders pingin ikut. Tapi dia tidak punya uang.

“Saya terus berpikir bagaimana supaya bisa ikut guru. Tapi saya tidak punya uang. Tapi kemudian ada orang yang memberi saya tiket,” katanya.

Sanders dan gurunya pun naik haji ke Mekkah. Naik pesawat. Tapi sebelum menunaikan ibadah haji, sang guru meninggal.

(Dan saya pikir insyaallah itu meninggal yang khusnul khotimah, karena guru itu meninggal ketika dalam perjalanan untuk beribadah)

Selanjutnya Sanders naik haji sendiri. Ia memotret Mekkah, suasana haji, juga masuk ke dalam Ka’bah. Dia bisa memotret Ka’bah karena mendapat izin dari kerajaan Arab Saudi.

“Saya menghabiskan tiga minggu masuk dari satu kantor ke kantor lain, minta izin. Akhirnya izin dari kerajaan diberikan,” katanya.

Kata Sanders, di tahun 1971 itu belum banyak foto-foto tentang haji. Dia termasuk salah satu fotografer pertama yang memberikan gambaran dari dalam tentang ibadah haji. “Foto-foto itu dibeli banyak media di Eropa,” katanya.

Setelah itu kata Sanders dia mulai terus memotret dunia Islam di berbagai negara, terutama komunitas Islam tradisional dengan seikh-seikhnya yang keras. Sanders punya cerita lucu tentang kehidupan madrasah di Maroko.

Suatu hari, katanya, ada seorang kawannya di Maroko yang menunjukkan balur-balur bekas memar karena sabetan tongkat. Rupanya para seikh di Maroko kalau mengajar di madrasah juga membawa tongkat (kayak di madrasah saya dulu), dan kalau ada murid yang ribut atau bego, maka zingggg! tongkat itu akan menyabet secepat kilat, hehehe…

(maklum pengalaman pribadi. Dulu pernah disabet juga sama tongkat oleh Pak Bonjari, guru saya di madrasah, karena guyon terus)

Sanders yang masih belum akrab dengan sistem pengajaran madrasah tradisional itu lalu bertanya pada kawannya, apa yang kemudian dia lakukan terhadap seikh yang keras itu.

“Oh, I prayed for him everyday. He taught me how to read Quran!” kata Sanders menirukan ucapan kawannya, lalu tertawa.

Saya ikut ngakak.

Sekitar jam 11 siang mobil yang kami tumpangi akhirnya sampai di ponpes Darunnajah. Obrolan saya dengan Sanders pun berhenti.

***

DI kos, saya sempat merenung memikirkan perjalanan spiritual Sanders. Entah kenapa ada semacam perasaan malu. Dia sungguh-sungguh dalam perjalanan spiritualnya. Sedang saya, yang justru lahir dan dibesarkan dalam tradisi Islam, kadang-serius kadang-males dalam soal spiritual.

Padahal Sanders besar di Inggris, di tahun 1960-an ketika drugs dan free-sex dominan dalam balutan anti-perang. Sedang saya besar di Kaliwungu, desa kecil dengan puluhan madrasah tradisional, pengajian-pengajian, dan seikh-seikh tua yang terus setia mengajarkan Islam hingga kini.

Ah, Allah memang memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya…

Catatan:
- Foto di atas adalah karya Sanders yang diambil di masjid Hassan Fathy, Qerna, Mesir Selatan. Foto itu menjadi cover buku Sanders yang berjudul In The Shade of The Tree yang berisi kompilasi 35 tahun perjalanannya memotret dunia Islam. Foto itu saya peroleh dari internet.

- Sejak tanggal 21 sampai 26 Februari diadakan pameran foto Peter Sanders berjudul “The Art of Integration” di aula Universitas Paramadina, Jakarta, yang didukung oleh kedubes Inggris. Rencananya pameran itu akan dikelilingkan ke kota-kota lain di Indonesia. Setelah dari Paramadina, selanjutnya foto-foto itu akan dipamerkan di Universitas Indonesia (tapi hanya fotonya, sedang Sanders sendiri sudah pulang ke Inggris).

Copyright © basfinsiregar

Built on Notes Blog Core
Powered by WordPress