Muslim expats community in Jakarta
September 18th, 2008
Where to find muslim expats community in Jakarta?
Recently I wrote an article about Rahmania Foundation in Karet, Central Jakarta. They have a weekly gathering, on Thursdays after maghrib prayer, for english-speaking people wish to learn the Quran.
The gathering was named ‘English Quranic Studies’, and perhaps one of the very few available gatherings for muslim expats in Jakarta.
I met a woman named Cary, 27, at the gathering. She was from Oklahoma and converted to Islam in 2001. Funny enough, she learned about Rahmania Foundation when she was in Oklahoma (from Indonesian muslim society there).
The safest hotel (from suicide bombing) in Jakarta
August 11th, 2008
I met this diplomat from one of European countries at Starbucks several days ago. He was about 30 something years old, and has been in Jakarta for two and half years (his previous post was Washington, DC, US).
The atmosphere was nice. I paid for my own meal and so did he. After the “main course” (the key talk between us, which was confidential so I wouldnt disclose it), came the chit-chat. The general, usual, talk.
I asked him where he stayed. “Borobudur hotel,” he replied.
He said he was concerned with bombings in Indonesia. Bali, Marriott hotel, and Australian embassy were all hit. Those bombings make him want to choose a considerably safe hotel to live in Jakarta.
So why Borobudul hotel? What’s so safe about it?
And here comes his answer. “‘coz it’s owned by Tomy Winata,” he said.
I couldnt help feeling so amazed. I never thought like that before.
Bertemu Art Gish
August 4th, 2008
Sori kalau saya menggunakan blog ini untuk memejengkan diri sendiri. That’s actually not my style.
Hanya, terkadang saya bertemu narasumber spesial dan merasa sayang kalau tidak berfoto bersama.
Salah satunya adalah bapak tua yang sedang Anda lihat ini.
Namanya Arthur G. Gish, usia 69 tahun, seorang Kristen taat, dan aktivis perdamaian CPT (Christian Peacemaker Teams) untuk wilayah Palestina.
Art Gish -demikian ia biasa dipanggil– datang ke Jakarta atas undangan penerbit Mizan yang meluncurkan versi terjemahan karyanya, Hebron Journal (2001).
Buku itu menceritakan pengalaman Art Gish selama menjadi aktivis CPT di Palestina. Mizan menerbitkannya dengan judul sangat panjang: Hebron Journal, Catatan Seorang Aktivis dari Amerika yang Melawan Kekejaman Israel di Amerika dengan Jalan Cinta dan Anti-Kekerasan.
Harganya lumayan mahal, Rp 74.500. Tapi insyaallah it’s worth it. Sebab di buku itu Art menceritakan apa yang ia lihat, ia dengar, bagaimana perlakuan tentara Israel terhadap warga Palestina, dll.
Singkat kata it’s a first-person report. Bukan buku teori atau analisis. Membacanya, Anda akan mendapat gambaran bagaimana hidup keseharian warga Palestina.
Cover buku itu cukup provokatif. Tampak Art mengenakan topi merah -tanda aktivis CPT- menghadang sebuah tank dengan moncong yang hanya berjarak beberapa meter dari tubuhnya.
Di bawah ini adalah fotonya. Foto yang kata Art menjadi headline di banyak surat kabar dunia, tapi tidak muncul di surat kabar Amerika.
Dan beginilah setelah foto itu dipermak jadi cover buku Mizan.
Foto itu diambil pada 30 Januari 2003, di Hebron. Saat itu Israel melakukan aksi ofensif dengan mengirimkan puluhan tentara dan tank untuk mengendalikan Hebron. Mereka juga meratakan pasar Hebron sepanjang dua blok -dan di situlah kebetulan Art Gish berada.
Art menuliskan aksi pada 30 Januari 2003 itu (juga ada di buku) dengan judul “Teroris di Antara Buah Apel”. Berikut kutipannya:
(30/1/2003)
Seluruh Hebron hari ini berada di bawah kendali total militer Israel. Aku bisa merasakan ada masalah. Saat menyusuri jalan, aku segera menyadari ada keributan di Al Manara. Aku ngeri melihat apa yang terjadi di sana.
Dua tank dan dua buldozer meratakan pasar sepanjang dua blok. Bahan-bahan makanan berserakan dan lumat di mana-mana, di sini, di kota yang banyak penduduknya kelaparan. Para pemilik kios dengan panik mencoba menyelamatkan berkotak-kotak tomat, jeruk, pisang, dan banyak lagi jenis makanan…
Rasa tak berdaya terus menguasaiku, tetapi aku sadar bahwa aku harus melakukan sesuatu. Aku mulai memindahkan kotak-kotak makanan dari sasaran buldozer. Mungkin ada 12 kotak yang berhasil kuselamatkan…
Aku mulai menghadapi tentara-tentara itu. Aku berteriak kepada mereka, bertanya apakah mereka bangga atas apa yang mereka lakukan, apakah ini yang namanya perdamaian, apakah ini Israel yang mereka cita-citakan. Aku berteriak, “Baruch hashem Adonai!” (Terpujilah nama Tuhan!)…
Seorang tentara meludah ke arahku, jadi aku langsung mendekatinya dan mempersilahkannya meludahiku. Dia menolak tawaranku…
Sebuah tank menderu ke hadapanku, moncong raksasanya mengarah kepadaku. Aku mengangkat kedua tanganku ke udara, berdoa, dan berteriak, “Tembak, tembak! Baruch Hashem Adonai!”
Tank itu berhenti beberapa inci di depanku…
Sore harinya, aku kembali ke Al Manara dan melihat para pemilik kios mengais-ngais puing-puing, berusaha mencari apa yang masih bisa diselamatkan.
Aku tak bisa berkata-kata.
Militer Israel memberlakukan pengawasan total di Hebron hari ini; kata mereka untuk mencari teroris. Aku bertanya-tanya, apa ada teroris bersembunyi di antara apel dan jeruk?
Versi utuh catatan ini, berjudul Terrorist Among The Apples, bisa Anda baca di sini.
Pertanyaan besarnya, tentu, kenapa Art berani melakukan kenekatan seperti itu? Bagaimana kalau ia ditembak Israel? Apa dia tidak takut mati?
Jawabannya mungkin faith. Iman.
Art adalah seorang penganut pasifis (anti-kekerasan) tulen. Dia termasuk anggota jemaat Church of The Brethern yang beraliran pasifisme. Jemaat ini yakin bahwa “semua perang adalah dosa” dan “Jesus memerintahkan untuk memaafkan musuh”. Pada era perang Vietnam, banyak anggota jemaat ini yang menolak wajib militer dan lebih memilih dipenjara.
Church of The Brethern adalah salah satu gereja yang memiliki tradisi hampir seperti amish. Mereka (yang taat tentu) tidak merokok, tidak minum alkohol, dan tidak menyekolahkan anak di sekolah sekuler.
Art sendiri bersekolah di seminari Manchester College, Indiana. Ia bahkan pernah menjadi “street preacher”, alias orang yang dengan pede-nya berdiri di trotoar, lalu mendakwahi para pejalan kaki yang lewat.
Singkat kata, Art adalah seorang kristen konservatif. Ia yakin apa yang ia lakukan di Palestina adalah ibadah menurut ajaran agamanya.
Kebetulan saya seorang muslim konservatif. Jadi setidaknya kami punya kesamaan.


