Category techie

Ubuntu buat pemula

Sebagai beginner di Linux, sebenarnya saya tidak tahu banyak mengenai tips dan trik seputar Linux. Apalagi saya memang bukan alumnus jurusan komputer.

Jadi guide ini sebaiknya dipandang sebagai pengalaman pribadi penulisnya saja ketika beralih ke Ubuntu.

Saya sudah setahun lebih menggunakan Linux, dan tiga kali menggunakan distro berbeda. Pertama Mandriva, kedua OpenSuse, dan ketiga Ubuntu.

Saya memiliki penilaian tersendiri terhadap tiga distro Linux itu, yang jelas akan berbeda dari penilaian orang lain. Tapi pemilihan distro memang hal subyektif, tergantung kebutuhan dan karakter penggunanya.

Distro mana yang lebih baik?
Menurut saya kalau mau diranking, pertama adalah Ubuntu, disusul Mandriva, lalu OpenSuse. Distro terakhir ini yang agak mengecewakan.
Saya bahkan agak emosi dengan OpenSuse karena programnya berjalan lambat, ribet dalam instalasi driver Wireless, modem, dsb. Pengalaman buruk dengan OpenSuse juga yang akhirnya membuat saya meninggalkan KDE dan beralih ke desktop berbasis Gnome –yakni Ubuntu.

Ubuntu yang mana?
Sewaktu memutuskan beralih ke Ubuntu, saya baru tahu kalau Ubuntu dirilis dalam dua versi, yakni versi terbaru (latest release) dan versi LTS (Long-Term Support).

Apa bedanya?

Versi latest release adalah Ubuntu yang diupdate tiap enam bulan sekali, sedang LTS diupdate tiap 3 tahun sekali. Ketika itu Ubuntu latest release sudah mencapai versi 11.04 (Natty) sedang LTS baru sampai versi 10.04 (Lucid).

Pertanyaannya Ubuntu versi mana yang hendak dipilih?

Saya membaca di berbagai forum internet kalau banyak user yang kecewa dengan versi 11.04. Sebagian bahkan berusaha men-downgrade Ubuntu Natty mereka ke versi 10.10 (Maverick) karena dianggap lebih bagus.

Di tengah kebingungan harus memilih Ubuntu versi mana, ada user yang memberikan perspektif jitu. Katanya, kalau Anda adalah orang yang berusaha untuk tetap up to date dengan teknologi, mau menerima resiko menginstal OS yang terus masih dalam tahap development, tidak terganggu kalau sesekali ada masalah, tertantang untuk mencari solusi kalau misalnya ada driver problem, senang mencoba berbagai tweak –dengan kata lain hobi ngoprek– maka sebaiknya pilih Ubuntu versi latest release.

Sebaliknya kalau Anda tipe orang yang prefer stabilitas, cenderung menggunakan komputer untuk aplikasi yang itu-itu aja, tidak banyak mengoprek, tidak keberatan menggunakan aplikasi-aplikasi berusia lanjut, maka LTS yang stabil adalah pilihan yang cocok.

Penjelasan si user itu terasa mencerahkan. Karena profesi saya secara alamiah sudah tidak stabil, kalau ditambah lagi dengan instabilitas di bidang komputer bisa-bisa kejiwaan jadi tambah ruwet..

Akhirnya saya pun memutuskan menggunakan Ubuntu 10.04 LTS (aka Lucid)

Instalasi Ubuntu secara teori sangat mudah. Tapi praktiknya saya butuh 2 hari lebih untuk bisa menginstall Ubuntu ke laptop karena masalah driver,

Perlu diketahui kalau saya menggunakan laptop dengan sistem dual boot antara Windows XP dan Ubuntu. Sudah banyak guide tentang cara cara menginstal dua OS berbeda ke dalam satu laptop dan tidak perlu diulangi lagi.

Instalasi Ubuntu
Berikut langkah-langkah instalasi Ubuntu. Karena CD-ROM saya error, maka instalasi ini dilakukan via Live USB.

Read more

Blue Nowhere begins

Image Hosted by ImageShack.us

Setelah beberapa minggu terakhir sibuk mengutak-atik CSS (Cascading Style Sheet), termasuk di antaranya terus mendengarkan komentar Si Jenk-jenk yang kadang mengesalkan itu (Lha kok blogmu dadi ancur ngene) :) (basf says: lha rung dadi kok dikomentari!) , akhirnya blog ini jadi juga. Cihuiii!

Tapi, kenapa Blue Nowhere?

Well, aku bukan tipe yang suka melanggar etika jurnalistik (apa hubungannya coba?), maka itu perlulah kukasih semacam pengantar, penjelasan, introduction (istilah canggihnya) kenapa aku memilih nama Blue Nowhere untuk blog ini.

Istilah Blue Nowhere pertama kali aku jumpai lewat sebuah novel yang berjudul sama. Novel itu ditulis oleh Jeffrey Deaver, yang bisa dibilang sebagai salah satu novelis favoritku. Si Jeffery inilah yang juga menulis novel berjudul The Bone Collector yang kemudian difilmkan itu (dibintangi oleh Denzel Washington dan Angelina Jolie).

Blue Nowhere adalah novel thriller yang bertema hacking. Penjahatnya, seorang dengan nickname Phate, adalalah hacker jahat yang sangat terlatih dalam social engineering dan menggunakan kemampuan itu untuk membunuh. Untuk melawan Phate, polisi akhirnya mengeluarkan seorang hacker tangguh dari penjara (ditahan karena pelanggaran federal) bernama Wyatt Gillette untuk membantu.

Nah, Si Gillette inilah yang pertama kali menggunakan istilah “Blue Nowhere”. Secara terminologis, istilah itu berarti dunia mesin, atau dunia cyber. Yakni dunia yang dibentuk oleh koneksi antar-komputer lewat serat kabel optis (atau wireless). Blue Nowhere, dengan demikian, adalah kata lain untuk INTERNET.

Gillette lebih suka menggunakan istilah Blue Nowhere ketimbang Machine World atau Cyber World karena alasan yang bersifat personal, sekaligus filosofis. Istilah “Blue” mengacu pada listrik yang membuat komputer bekerja. Sedang “Nowhere” mengacu pada tempat maya, yakni tempat yang bukan di mana-mana.

Ketika seorang memasuki internet, maka sebenarnya dia tidak berada di mana-mana. Hanya di depan komputer, menjelajahi berbagai situs www, ftp, usenet dan lain-lain. Secara psikologis dia mungkin “bergerak”, berpindah dari satu situs ke situs lain. Menjelajah, berkomunikasi. Tapi secara riil dia hanya duduk di depan komputernya. Karena itu, kupikir betapa tepatnya istilah “Nowhere” ini.

Aku suka istilah itu (cool). Dan aku juga suka implikasi filosofis yang dikandungnya. And that’s the reason why I use it as the name of my blog.

Novel itu juga memiliki latar belakang riset yang bagus. Jeffery, kukira, banyak terinspirasi oleh kisah-kisah hacking Kevin Mitnick. Siapa itu Kevin Mitnick? Dia adalah salah satu hacker paling terkenal di Amerika. Didakwa atas 27 kegiatan hack dan divonis 5 tahun. Beberapa kegiatan hacknya misalnya membobol komputer Sun Microsystems, Fujitsu, Motorola dan Nokia. Dalam persidangannya, jaksa penuntut mengucapkan kalimat yang kemudian jadi terkenal, bahwa Kevin Mitnick is “dangerous when armed with a keyboard”.

Kalau mau baca artikel tentang Kevin yang ditulis oleh dia sendiri, simply click here. (It’s worth reading!)

Sebagai sebuah blog yang sifatnya personal, mungkin agak aneh kalau namanya kuambil dari sebuah novel bertema hacking? Apakah kemudian isi blog ini akan didominasi oleh info seputar hacking? :D Of course not! (read those lines below my pics to view my job! and don’t forget IT!)

Blog pada dasarnya adalah diari. Hanya, blog berbeda dari diari biasa. Blog adalah diari yang kita taruh di tempat khusus, di sebuah tempat bernama situs, yang dalam hal ini dihosting oleh Blogsome, yang merupakan bagian kecil dari sebuah tempat maya bernama internet. Blog, dengan kata lain, berada di BLUE NOWHERE.

Jadi, sekali lagi, kupikir betapa tepatnya istilah itu untuk nama blogku ini. ;)

Copyright © basfinsiregar

Built on Notes Blog Core
Powered by WordPress