Category personal

It’s birthday

Hari ini, 4 September 2006, aku berulang tahun. I’m now 29. Still working at the same office, still struggling to manage my budget, and more importantly, still not married.

Kemarin seorang kawan mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Via email. Here’s the excerpt:

selamat ultah ya?.. semoga kita makin sadar that life is not forever… ayo buruan nikah… hehe…

Haha. Aku nyengir saja membaca emailnya. Entah kenapa kawan satu ini bersemangat sekali mengingatkan soal menikah. Well, understandable. Sebab terkadang ucapan atau saran kita juga menunjukkan who we really are ketimbang the opinion itself.

So, hanya ada satu penjelasan kenapa kawan satu itu menyinggung soal marriage: yakni karena dia sendiri juga sudah berniat untuk menikah. Mungkin sudah berniat untuk bersegera menikah. :)

Tapi bagaimana dengan diriku sendiri? Well, as usual, blue nowhere bukanlah tempat yang cocok untuk mengungkapkan rencana-rencana pribadiku. Just wait and see, you guys.

It’s now my birthday dan aku merasa saat ini mungkin aku harus sedikit berkontempelasi, merenung, berintrospeksi atas segala kesalahan-kesalahanku, dan sebisa mungkin tidak mengulanginya kembali. (And I try really hard)

Anyway, thanks for the email, kawan. Mudah-mudahan rencana kita berdua berjalan lancar-lancar saja. Amin.

Gatra class of 2004

dari atas searah jarum jam: rahman, elmy, deni, ajeng, alex, dessy (I wasn’t there)

Gatra class of 2004. Itu sebutanku untuk reporter Gatra angkatan 2004, yang di awal pendidikan (Juni 2004) berjumlah 15 orang, namun 9 bulan kemudian tinggal 7 orang.

Dan kini, tinggal 6 orang saja. One of those guys in the picture above resigned.

Lazimnya rekan se-angkatan, kami tentu punya ikatan emosional tersendiri. Sentimen angkatanisme istilah canggihnya. Dan kupikir itu wajar. Kalau di Polri saja -kabarnya- ada angkatanisme dalam pengangkatan jendral, kenapa di institusi lain tidak? hehe..

Iseng-iseng aku buka lagi file-file lama waktu kami diperkenalkan sebagai repoter baru.

SERAMBI

Reporter Baru

SEJAK pekan ini, daftar nama di masthead jajaran redaksi bertambah panjang. Ada delapan reporter baru yang mengisi Pusat Liputan. Dari 17 calon reporter –terseleksi dari 600 pelamar– tinggal mereka yang lulus setelah menjalani masa magang sembilan bulan di Gatra. ‘’Mereka cukup diandalkan,’’ kata Taufik Alwie, Kepala Pusat Liputan Gatra yang selama ini membina mereka.

Memang, Gatra sangat ketat dalam merekrut calon reporter. Maklum, mereka ujung tombak sebuah media. Sejak masa magang, mereka sudah digembleng memburu sumber berita ke segala penjuru. Karena itu, meskipun secara resmi baru dinyatakan lulus, bisa jadi mereka sudah akrab dengan banyak narasumber Gatra.

Sebut saja, misalnya, Alexander Wibisono, yang sempat berhari-hari ikut ‘’berpatroli’’ di perairan Ambalat. Alex, begitu kami memanggilnya, sudah sangat akrab dengan sejumlah pejabat di Departemen Luar Negeri atau kalangan artis. Memang, mereka selama ini “dipaksa” merambah berbagai bidang, sebelum kelak diarahkan sebagai spesialis. ‘’Saya siap ditugaskan ke mana pun,’’ kata Alex, bersemangat.

Lajang jangkung kelahiran Samarinda, 13 November 1980, itu semula ingin jadi penerbang. Tapi sekolahnya ‘’nyasar ‘’ ke Jurusan Ilmu Politik UI. Sempat bekerja di media internal perusahaan penerbangan, Alex akhirnya memilih berkarier di Gatra yang katanya penuh tantangan.

Lalu ada Ajeng Ritzki Pitakasari, kelahiran 14 Juli 1979. Arsitek lulusan ITS ini pernah bergabung dengan perusahaan konsultan arsitek. Toh, bekas pemain teater di kampusnya ini akhirnya memilih berkarya di dunia wartawan. ‘’Lebih asyik, banyak kenalan dan jadi banyak tahu masalah,’’ ujarnya.

Ada pula Basfin Siregar, lulusan Sastra Inggris Universitas Diponegoro. Anak Batak kelahiran 4 September 1977 ini memulai karier sebagai koresponden Gatra di Semarang dan sekitarnya. Merasa di daerah kurang tantangan, pemuda pendiam namun ulet ini ikut program rekrutmen Gatra di Jakarta.

Elmy Dyah Larasati, rekan Basfin sealmamater, juga memilih bergabung di Gatra karena merasa lebih tertantang. Sarjana hukum kelahiran 9 April 1980 ini sebelumnya bekerja di sebuah harian nasional. Pengalamannya di harian memperlancar tugas-tugas jurnalistiknya di Gatra.

Kemudian Dessy Eresina Pinem, lahir 22 Desember 1978. Ia lulusan Teknik Sipil dan Perencanaan ITB. Pernah bergabung di perusahaan konsultan perencanaan. Meski bertubuh mungil, anak Batak ini gesit dan tak kenal lelah. Ia pernah menginap dua hari di Sukabumi ketika meliput masalah ‘’dukun seleb’’ Gatot Brajamusti.

Reporter lainnya, Deni Muliya Barus, alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta Jurusan Perbandingan Agama. Namanya sih berbau Batak, tapi ia asli Banten, lahir 30 Desember 1979. Sejak bergabung di Gatra, Deni lebih banyak melakoni liputan kriminalitas. Ia dikenal gigih menguber sumber berita sulit.

Lalu Rahman Mulya. Cowok kelahiran 10 Februari 1980 ini lulusan Teknik Industri ITB. Ia pernah bekerja di sebuah perusahaan industri. Tapi tak betah, dan memilih memperkuat Gatra serta menjadi salah satu ujung tombak andal.

Terakhir, Eric Samantha. Ia reporter baru wajah lama. Lulusan Teknik Sipil ITB kelahiran 18 September 1979 ini sebelumnya sudah menjadi reporter Gatra. Ia kemudian mundur karena ingin mengembangkan usaha sang ayah di bidang properti. Tapi semangat wartawannya terus menggoda. Jadilah ia kembali menekuni dunia jurnalistik.

Itulah duta-duta baru Gatra di lapangan yang mungkin sudah Anda kenal dengan baik. Kami harap, hubungan mereka dengan Anda, pembaca atau narasumber Gatra, yang selama ini sudah terjalin baik semakin erat dan meningkat. Terima kasih atas kemudahan dan akses informasi yang Anda berikan pada mereka dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

Gatra, Edisi 27/XI 21 Mei 2005

Hmm.. what a class! Complex, sophisticated, different field of interest, but the most important of all: still trust to each other.

Copyright © basfinsiregar

Built on Notes Blog Core
Powered by WordPress