Category personal

Taktik ala Siti Hajar

Orang kalau sudah bingung pasti melakukan hal yang aneh-aneh. Teman saya, M, adalah salah satunya.

Suatu hari dia bingung karena tidak punya uang sama sekali. Maklum kerja proyekan. Padahal istri di rumah lagi hamil dan sudah pingin pulang ke kampung, melahirkan di sana.

Akhirnya M pun melakukan hal yang ngga masuk akal ditinjau dari aliran filsafat mana pun. Ia putar-putar keliling kota naik sepeda motor bututnya sampai 7 kali.

Kenapa 7 kali?

Rupanya, bapak kosnya (M dan istrinya menyewa sebuah kamar kos) pernah bercerita mengenai kisah Siti Hajar, ibunda nabi Ismail as.

“Tahu mas, kenapa Siti Hajar itu bolak-balik ke bukit itu sampai 7 kali?” tanya bapak kos.
“Ngga Pak. memangnya kenapa?”
“Itu hikmahnya, orang itu kalau berusaha paling ngga nyoba sampai 7 kali,” katanya.

M manggut-manggut, menyimpan informasi itu dalam benaknya. Lalu suatu malam, usai proyekan yang ternyata ga berhasil, ia tidak langsung pulang ke kos.

Saya bisa menduga mengapa ia tidak langsung pulang. M cerita kalau istrinya sebelumnya menelpon, menanyakan apakah mereka bisa pulang kampung tidak.

“Bisa dik, tenang saja. Insyaallah pulang kampung,” kata M berusaha meyakinkan.

Padahal, well, sedikit info, waktu itu mereka berada di Kalimantan. Sementara kampung istrinya di Semarang. Paling tidak butuh sekitar Rp 2 juta untuk ongkos.

So, the story begins. M yang malam itu bingungnya sudah sampai ke ubun-ubun, mungkin hang kalau ibarat komputer, sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, tiba-tiba teringat kembali kisah dari bapak kos, dan akhirnya dengan pasrah pun mencoba mengikuti jalur Siti Hajar: berkeliling kota sampai 7 kali.

Read more

Hayamwuruk belum mati


(Cover majalah Hayamwuruk Des 2008 -dok HW)

Barusan saya dapat email kalau Hayamwuruk telah terbit. Alhamdulillah. Ia belum mati ternyata.

Hayamwuruk, beken disebut HW, adalah majalah mahasiswa Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro. Majalah ini sempat ‘mati suri’ selama 4 tahun sebelum akhirnya, minggu kemarin, terbit.

Saya dulu aktif di sana, dari tahun 1996-2003. Tujuh tahun. Dari mahasiswa baru yang culun dan guoblok, terus jadi reporter, sampai akhirnya jadi pemred yang berkuasa (dan semena-mena tentu) terhadap para junior. :)

Read more

Mr.Basf dan kucing kampung

Memberi makan kucing?

Untuk apa?

Terus terang saya bukan penyayang binatang. Meski juga bukan pembenci binatang. Sikap saya biasa saja. Binatang ya binatang, dunia lain, ga ada urusannya dengan saya.

Bahkan terkadang, iba saya muncul kalau melihat binatang dalam kondisi mengenaskan. Hanya, iba itu tetap sebatas iba, tak berubah jadi tindakan.

Pernah suatu kali seekor kucing masuk rumah kami di Kaliwungu. Kondisinya menyedihkan. Badannya kurus, ada luka, dan kelihatan ruas tulangnya. Ia mengeong lemah dan jalannya pun sudah tertatih. Sepertinya hampir mati.

Duh.. saya jadi sedih lagi kalau teringat itu.

Saya hanya bisa iba, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Abang saya yang akhirnya bertindak. Ia mengangkat kucing sekarat itu dan menaruhnya begitu saja di pinggir jalan, sekitar 20 meter dari rumah. Ia tidak ingin kucing itu mati di dalam rumah, nanti bikin tambah kerjaan.

Kini setelah saya menikah, alhamdulillah istri lebih sigap menghadapi ‘invasi kucing’ seperti itu. Pernah suatu kali habis subuh, ada kucing mengeong persis di depan pintu. Setelah diintip, eh, anak kucing lagi! Badannya juga kurus, kurang makan. Induknya mungkin entah ke mana.

Istri langsung mengambil ikan dan meminta saya mengantarkannya ke luar. Saya oke saja. Paling tidak derajat saya naik sedikit. Dulu saya tidak berbuat apa-apa ketika rumah didatangi kucing sekarat. Sekarang, minimal saya terlibat sebagai ‘tim pengantar makanan’.

(meski setelah saya keluar hendak ngasih ikan, eh, si kucing piyik itu justru pergi, hingga saya sempat muter-muter nyari. Padahal subuh, masih gelap lagi, meski akhirnya ketemu sekitar 10 meter dari rumah! Hhh.. dasar kucing!)

Beberapa kali akhirnya rumah kami didatangi kucing kampung, minta makan. Kalau ada ikan lebih, atau tulang-tulang, ya dikasih. Kalau ngga ada, ya apa boleh buat.

Tapi untungnya ‘invasi kucing kampung’ untuk minta makan itu tidak sering terjadi. Sepertinya salah satu tetangga, yakni engkong tua pemilik warung, yang berjarak dua rumah dari kami, juga ikut memberi makan. Beberapa kali saya lihat si engkong jalan bawa plastik dan kucing pada mengekor.

Selama ini, saya melihat aktivitas memberi makan kucing itu dalam level ‘humaniora’, semacam perikehewanan di kala senggang, hehe… atau katakanlah semacam aktivitas iseng-iseng berbuat baik, daripada bengong nganggur.

Tapi kemudian pengetahuan itu datang.

Read more

Copyright © basfinsiregar

Built on Notes Blog Core
Powered by WordPress