Menikah di depan jenazah?
August 6th, 2009
Kemarin malam tidak sengaja nonton putri mbah surip (Resia namanya) melangsungkan akad nikah di depan jenazah ayahnya.
Saya tidak terlalu suka menyaksikan tayangan itu, makanya langsung ganti channel.
Padahal dulu saya juga nyaris melakukan itu. Alhamdulillah batal, karena insyaallah, menikah di depan jenazah memang bukan sesuatu yang pantas dilakukan.
Apalagi Si Resia jatuh pingsan usai akad nikah. Tak ada senyum atau nuansa kebahagiaan.
Justru keributan. Masalah: keluarga berusaha menyadarkan Si Resia, dan jenazah Mbah Surip jadi lebih lama dikubur.
Padahal untuk apa semua masalah itu? Hanya agar Mbah Surip alm bisa ikut “menyaksikan” pernikahan anaknya.
Betapa tak eloknya. Sekaligus kasihan. Read the rest of this entry »
Taktik ala Siti Hajar
January 27th, 2009
Orang kalau sudah bingung pasti melakukan hal yang aneh-aneh. Teman saya, M, adalah salah satunya.
Suatu hari dia bingung karena tidak punya uang sama sekali. Maklum kerja proyekan. Padahal istri di rumah lagi hamil dan sudah pingin pulang ke kampung, melahirkan di sana.
Akhirnya M pun melakukan hal yang ngga masuk akal ditinjau dari aliran filsafat mana pun. Ia putar-putar keliling kota naik sepeda motor bututnya sampai 7 kali.
Kenapa 7 kali?
Rupanya, bapak kosnya (M dan istrinya menyewa sebuah kamar kos) pernah bercerita mengenai kisah Siti Hajar, ibunda nabi Ismail as.
“Tahu mas, kenapa Siti Hajar itu bolak-balik ke bukit itu sampai 7 kali?” tanya bapak kos.
“Ngga Pak. memangnya kenapa?”
“Itu hikmahnya, orang itu kalau berusaha paling ngga nyoba sampai 7 kali,” katanya.
M manggut-manggut, menyimpan informasi itu dalam benaknya. Lalu suatu malam, usai proyekan yang ternyata ga berhasil, ia tidak langsung pulang ke kos.
Saya bisa menduga mengapa ia tidak langsung pulang. M cerita kalau istrinya sebelumnya menelpon, menanyakan apakah mereka bisa pulang kampung tidak.
“Bisa dik, tenang saja. Insyaallah pulang kampung,” kata M berusaha meyakinkan.
Padahal, well, sedikit info, waktu itu mereka berada di Kalimantan. Sementara kampung istrinya di Semarang. Paling tidak butuh sekitar Rp 2 juta untuk ongkos.
So, the story begins. M yang malam itu bingungnya sudah sampai ke ubun-ubun, mungkin hang kalau ibarat komputer, sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, tiba-tiba teringat kembali kisah dari bapak kos, dan akhirnya dengan pasrah pun mencoba mengikuti jalur Siti Hajar: berkeliling kota sampai 7 kali.
Hayamwuruk belum mati
December 10th, 2008

(Cover majalah Hayamwuruk Des 2008 -dok HW)
Barusan saya dapat email kalau Hayamwuruk telah terbit. Alhamdulillah. Ia belum mati ternyata.
Hayamwuruk, beken disebut HW, adalah majalah mahasiswa Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro. Majalah ini sempat ‘mati suri’ selama 4 tahun sebelum akhirnya, minggu kemarin, terbit.
Saya dulu aktif di sana, dari tahun 1996-2003. Tujuh tahun. Dari mahasiswa baru yang culun dan guoblok, terus jadi reporter, sampai akhirnya jadi pemred yang berkuasa (dan semena-mena tentu) terhadap para junior.