Category journalism

Sikap dalam menulis

Satu hal penting yang saya dapat dari pelatihan jurnalistik zaman mahasiswa dulu adalah: Sikap dalam menulis.

Ini perlu digarisbawahi karena menulis memang butuh sikap. Apalagi instruktur pelatihan itu adalah orang yang sudah berlumut pengalamannya dalam jurnalisme, yakni Masmimar Mangiang, mantan pemred harian ekonomi Neraca.

Saya ingat Masmimar memberi contoh kalimat berikut yang ia ambil dari sebuah koran nasional.

“Menteri berkenan bertemu para petani dari kelompencapir desa X”

Apa yang salah? tanyanya

Saya, dan beberapa mahasiswa peserta pelatihan, bingung, tidak mengerti apa yang salah dari konstruksi kalimat itu.

“Itu yang salah!” kata Masmimar keras, lalu pulpennya yang bisa mengeluarkan sinar itu (pemandangan canggih kala itu buat mahasiswa ndeso seperti saya) menyoroti kata berkenan.

Selanjutnya ia menjelaskan sikap penulis artikel itu hingga menggunakan kata berkenan. Si penulis rupanya menganggap jabatan Menteri adalah semacam raja. Pertemuan menteri dengan petani kelompencapir adalah hal luar biasa bagi petani sebaliknya hal remeh bagi menteri.

Jadi menteri harus ada rasa berkenan lebih dulu, karena bertemu dengan orang yang statusnya lebih rendah.

Masmimar mengecam sikap penulis yang seperti itu. Jabatan menteri tidak sakral. Jurnalis harus punya integritas dan keberanian. Kalau menghadapi kata menteri saja sudah langsung keder hingga menambahkan berkenan, kualitas jurnalismenya mungkin meragukan.

Tapi bagaimana kalau posisinya diganti yang lebih tinggi, seperti Presiden? Misalnya kalimat ‘Presiden berkenan bertemu Mr. Basf? :mrgreen:

Apakah sikap menulis dalam kalimat itu bisa dibenarkan?

Rasanya kok tidak. Dan tidak butuh Masmimar untuk menjawabnya. Mr. Basf pun bisa,.

Justru makin tidak pantas kalau Presiden harus ada kata berkenan atau tidak berkenan untuk menemui Mr. Basf. Sebab, sekitar tahun 2007, yang sekarang jadi presiden ini justru memohon kepada Mr. Basf agar diberi kepercayaan mengemban tugas.

Dan Mr. Basf, setelah menimbang-nimbang, akhirnya berkenan memberikan suaranya kepada salah satu dari mereka.

Penulis yang sikapnya benar akan memilih konstruksi “Presiden bertemu Mr. Basf”. Atau bila sifat amanahnya kuat, dia akan lebih memilih “Presiden menemui Mr. Basf” agar Presiden, kalau membaca, jadi seperti diingatkan kembali bahwa justru karena orang-orang macam Mr.Basf lah dia bisa jadi Presiden. Fungsi pers untuk mencerdaskan pembaca pun tercermin dalam konstruksi kalimat.

Insyaallah pemahaman inilah yang benar, dan yang seharusnya jadi landasan sikap dalam menulis. Strong press, strong democracy.*

Intellectual dader = utek dader

Ketua KPK Antasari Azhar ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan terhadap Narsudin, Dirut PT PNB (Putra Rajawali Banjaran)

Di detik.com, yang kemudian dikutip sana-sini, disebut kalau Antasari dituduh sebagai intellectual dader (otak pelaku) pembunuhan tersebut.

Motif pembunuhan ini diduga bersifat pribadi, yakni perselingkuhan, ada unsur pemerasan, lalu akhirnya berujung pembunuhan.

Tapi saya tidak akan membahas soal kasus pembunuhannya. There’s a lot of resources on that.

Yang menarik adalah istilah yang digunakan untuk Antasari, intellectual dader. What the fuck is that?

Awalnya saya menyangka penulisnya salah kutip. Mungkin yang dimaksud intellectual leader kali ya?

Tapi ternyata tidak. Saya membaca dokumen putusan pengadilan (kasus lain) dan istilah intellectual dader juga muncul. Makanya penasaran. Lha dader ini bahasa apa? Bahasa Inggris jelas bukan.

Well, ada sih, tapi bahasa slank, yang menurut urbandictionary.com definisinya adalah “a person who is sexually malested on a daily basis. Usually ignorant and is sometimes retarded”.

Hehehe.. jelas bukan dader ini yang dimaksud. :)

Setelah cari-cari, eh, barulah ketemu kalau ternyata dader adalah bahasa Belanda. Karena hukum Indonesia mengambil dari Belanda, maka istilah ini pun juga muncul di ranah hukum.

Dader berarti perpetrator, offender, alias pelaku dalam bahasa Indonesia.

Di dokumen putusan pengadilan yang saya baca itu, juga disebutkan vonis bagi mereka yang terbukti sebagai dader (pelaku).

So it makes sense now? Hell no. Justu menggelikan.

Sebab intellectual adalah bahasa Inggris. Sepertinya karena ada istilah dader untuk pelaku, maka untuk otak pelaku, dengan enaknya langsung saja disebut intellectual dader.

Padahal dalam bahasa Belanda istilah intellectual tidak ada. Yang ada adalah intellectuele.

Jadi, intellectual dader adalah istilah lucu sekaligus aneh-bin-ajaib. Apalagi  bisa tercantum dalam bahasa hukum resmi di Indonesia (dokumen pengadilan), juga bahasa jurnalistik, karena ini gabungan antara bahasa Inggris dan Belanda sekaligus. Ini istilah gado-gado.

Mbok ya yang konsisten.

Pakai intellectual leader, mastermind, atau intellectuele dader sekalian. Tidak asal main gabung kata-kata asing.

Kalau sih si lebih prefer istilah mastermind, atau cukup dalang saja. Atau kalau mau ikut latah, ya bisa utek dader. :)

Kenapa harus Inggris + Belanda? Jawa + Belanda kan juga bisa. Wong sama gado-gadonya. *

CNN terkadang tidak pro-Israel

Ada berita rada mengejutkan mengenai serangan ke Gaza (yang saat ini lagi berstatus gencatan senjata). CNN melaporkan kalau Israel-lah yang pertama kali melanggar gencatan senjata pada November 2008.

Jadi, argumen Israel bahwa Hamas tidak bersedia memperpanjang gencatan senjata is totally bullshit. Kenapa berita ini penting? Well, to be frank, because it’s CNN.

Selama ini saya sangat meragukan fairness media massa AS dalam memberitakan konflik Palestina. The New York Times, The Washington Post, CNN, termasuk yang katanya quality paper macam The Wall Street Journal, sering sama saja.

Sama-sama bias Israel dalam memberitakan konflik Palestina.

Apalagi Fox News. Puih! I solemnly swear not to watch Fox News. ;) Only right-wing does.

Pemberitaan yang relatif lebih fair mengenai konflik Palestina justru lebih sering didapat dari media Inggris seperti BBC, The Guardian, The Telegraph, The Independent, atau sekalian Al Jazeera.

Tapi kali ini, kadingaren kalau kata orang Jawa, CNN secara mak jegagik (tiba-tiba) melaporkan kalau Israel-lah yang sebenarnya merusak perjanjian gencatan senjata dengan Hamas. Anda bisa tonton videonya di sini. Atau baca transkripnya di sini.

Read more

Copyright © basfinsiregar

Built on Notes Blog Core
Powered by WordPress