Category books

Gideon’s Spies: Buku bagus tentang Mossad

Beberapa hari lalu Penerbit Pustaka Primatama mengirimkan dua edisi Gideons’ Spies, Sejarah Rahasia Mossad ke kantor (yang satunya untuk redaktur buku Gatra).

Itu adalah kedua kalinya –setelah Birdman– saya terlibat dalam proyek buku. Honornya oke. Meski duitnya sudah lama habis jauh sebelum bukunya terbit, hehe.. (ngga ada hubungannya memang)

Saya mau sedikit mempromosikan buku itu. Bukan karena saya terlibat sebagai editor, tapi karena insyaallah, buku itu memang layak baca.

Lewat buku itu, saya mendapat banyak informasi tentang karakter Mossad, juga istilah-istilah yang kerap digunakan oleh badan intelijen Israel itu.

Misalnya,

  • kidon: tim pembunuh Mossad
  • katsa: agen lapangan
  • sayanim: warga sipil yang diam-diam membantu Mossad
  • mabuah: informan Mossad non-Yahudi

Satu bab buku itu, yang aslinya berjudul The Spy in The Ironmask (diterjemahkan menjadi Mata-mata Bertopeng Besi) khusus bercerita tentang Rafi Eitan, deputi Mossad yang legendaris kelihaiannya (apalagi kalau merencanakan pembunuhan).

Bab itu berjudul Mata-mata Bertopeng Besi karena Eitan, kalau lagi ngga ada kerjaan mbunuhi orang, punya hobi membuat patung dari logam.  Ia semacam seniman amatir: suka mengumpulkan besi-besi tua, kuningan, tembaga, lalu melasnya menjadi sebuah “karya seni” hehe.

Nah, ketika asyik membuat patung itu ia mengenakan topeng las –dari situlah judul Mata-Mata Bertopeng Besi muncul.

(ia bahkan pernah memamerkan karya-karya patung lasnya dalam sebuah pameran amatir)

Saya suka membaca bab tentang Eitan karena karakternya  yang berdarah dingin, khas sypmaster papan atas. Berikut saya kasih sedikit spoiler tentang isi dari bab Mata-Mata Bertopeng Besi itu.

Read more

Bertemu Art Gish

Sori kalau saya menggunakan blog ini untuk memejengkan diri sendiri. That’s actually not my style. :mrgreen:

Hanya, terkadang saya bertemu narasumber spesial dan merasa sayang kalau tidak berfoto bersama.

Salah satunya adalah bapak tua yang sedang Anda lihat ini.

Namanya Arthur G. Gish, usia 69 tahun, seorang Kristen taat, dan aktivis perdamaian CPT (Christian Peacemaker Teams) untuk wilayah Palestina.

Art Gish -demikian ia biasa dipanggil– datang ke Jakarta atas undangan penerbit Mizan yang meluncurkan versi terjemahan karyanya, Hebron Journal (2001).

Buku itu menceritakan pengalaman Art Gish selama menjadi aktivis CPT di Palestina. Mizan menerbitkannya dengan judul sangat panjang: Hebron Journal, Catatan Seorang Aktivis dari Amerika yang Melawan Kekejaman Israel di Amerika dengan Jalan Cinta dan Anti-Kekerasan.

Harganya lumayan mahal, Rp 74.500. Tapi insyaallah it’s worth it. Sebab di buku itu Art menceritakan apa yang ia lihat, ia dengar, bagaimana perlakuan tentara Israel terhadap warga Palestina, dll.

Singkat kata it’s a first-person report. Bukan buku teori atau analisis. Membacanya, Anda akan mendapat gambaran bagaimana hidup keseharian warga Palestina.

Cover buku itu cukup provokatif. Tampak Art mengenakan topi merah -tanda aktivis CPT- menghadang sebuah tank dengan moncong yang hanya berjarak beberapa meter dari tubuhnya.

Di bawah ini adalah fotonya. Foto yang kata Art menjadi headline di banyak surat kabar dunia, tapi tidak muncul di surat kabar Amerika.

Dan beginilah setelah foto itu dipermak jadi cover buku Mizan.

Foto itu diambil pada 30 Januari 2003, di Hebron. Saat itu Israel melakukan aksi ofensif dengan mengirimkan puluhan tentara dan tank untuk mengendalikan Hebron. Mereka juga meratakan pasar Hebron sepanjang dua blok -dan di situlah kebetulan Art Gish berada.

Art menuliskan aksi pada 30 Januari 2003 itu (juga ada di buku) dengan judul “Teroris di Antara Buah Apel”. Berikut kutipannya:

(30/1/2003)

Seluruh Hebron hari ini berada di bawah kendali total militer Israel. Aku bisa merasakan ada masalah. Saat menyusuri jalan, aku segera menyadari ada keributan di Al Manara. Aku ngeri melihat apa yang terjadi di sana.

Dua tank dan dua buldozer meratakan pasar sepanjang dua blok. Bahan-bahan makanan berserakan dan lumat di mana-mana, di sini, di kota yang banyak penduduknya kelaparan. Para pemilik kios dengan panik mencoba menyelamatkan berkotak-kotak tomat, jeruk, pisang, dan banyak lagi jenis makanan…

Rasa tak berdaya terus menguasaiku, tetapi aku sadar bahwa aku harus melakukan sesuatu. Aku mulai memindahkan kotak-kotak makanan dari sasaran buldozer. Mungkin ada 12 kotak yang berhasil kuselamatkan…

Aku mulai menghadapi tentara-tentara itu. Aku berteriak kepada mereka, bertanya apakah mereka bangga atas apa yang mereka lakukan, apakah ini yang namanya perdamaian, apakah ini Israel yang mereka cita-citakan. Aku berteriak, “Baruch hashem Adonai!” (Terpujilah nama Tuhan!)…

Seorang tentara meludah ke arahku, jadi aku langsung mendekatinya dan mempersilahkannya meludahiku. Dia menolak tawaranku…

Sebuah tank menderu ke hadapanku, moncong raksasanya mengarah kepadaku. Aku mengangkat kedua tanganku ke udara, berdoa, dan berteriak, “Tembak, tembak! Baruch Hashem Adonai!

Tank itu berhenti beberapa inci di depanku…

Sore harinya, aku kembali ke Al Manara dan melihat para pemilik kios mengais-ngais puing-puing, berusaha mencari apa yang masih bisa diselamatkan.

Aku tak bisa berkata-kata.

Militer Israel memberlakukan pengawasan total di Hebron hari ini; kata mereka untuk mencari teroris. Aku bertanya-tanya, apa ada teroris bersembunyi di antara apel dan jeruk?

Versi utuh catatan ini, berjudul Terrorist Among The Apples, bisa Anda baca di sini.

Pertanyaan besarnya, tentu, kenapa Art berani melakukan kenekatan seperti itu? Bagaimana kalau ia ditembak Israel? Apa dia tidak takut mati?

Jawabannya mungkin faith. Iman.

Art adalah seorang penganut pasifis (anti-kekerasan) tulen. Dia termasuk anggota jemaat Church of The Brethern yang beraliran pasifisme. Jemaat ini yakin bahwa “semua perang adalah dosa” dan “Jesus memerintahkan untuk memaafkan musuh”. Pada era perang Vietnam, banyak anggota jemaat ini yang menolak wajib militer dan lebih memilih dipenjara.

Church of The Brethern adalah salah satu gereja yang memiliki tradisi hampir seperti amish. Mereka (yang taat tentu) tidak merokok, tidak minum alkohol, dan tidak menyekolahkan anak di sekolah sekuler.

Art sendiri bersekolah di seminari Manchester College, Indiana. Ia bahkan pernah menjadi “street preacher”, alias orang yang dengan pede-nya berdiri di trotoar, lalu mendakwahi para pejalan kaki yang lewat. :mrgreen:

Singkat kata, Art adalah seorang kristen konservatif. Ia yakin apa yang ia lakukan di Palestina adalah ibadah menurut ajaran agamanya.

Kebetulan saya seorang muslim konservatif. Jadi setidaknya kami punya kesamaan. :mrgreen:

Read more

Buku seorang muslimah lesbian

Image Hosted by ImageShack.us

Selasa, 22 April lalu.
Sekitar pukul 1 dini hari, pas udah mau tidur, tiba-tiba hpku bunyi. Ada sms masuk. Aku sempat kaget juga. Who the hell sms tengah malam begini?

Ternyata dari Luqman, teman sekaligus bekas kolega di Gatra. Dia tadinya repoter Gatra. Tapi tahun 2005 ia memutuskan resign dan beralih ke bisnis penerbitan.

Isi smsnya sederhana. Nun Publisher (penerbit yang ia dirikan) akan me-launch buku Irshad Manji berjudul “Beriman Tanpa Rasa Takut”. Buku itu adalah terjemahan dari versi Inggris The Trouble with Islam Today: A Muslim Call to Reform Her Faith.

Pengarangnya sendiri, Si Irshad Manji, juga akan datang pas launching, yang akan dilangsungkan di Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Dont’ miss it. Pembicara: Irshad Manji, Gus Dur, Muethia Hatta, Musdah Mulia & dimeriahkan oleh artis2 (Lola Amaria dkk).

Hehehe.. Luqman… Luqman…. dasar sms promosi. Segala nama dibawa-bawa.

Aku sebenarnya sudah berniat datang. Sayang, acara launching itu bertepatan dengan media gathering yang diadakan sebuah perusahaan farmasi -dan sebelumnya aku sudah janji akan datang.

Well, apa boleh buat. I missed the book launch. Perhaps next time.

Hari ini di Gramedia, aku lihat buku Irshad Manji itu sudah ada. Harganya Rp 55.000. (mahal, ya?)

Aku sendiri tidak berniat membeli buku itu. Perhaps I’ll never will. Bukan karena harganya mahal, tapi karena pengarangnya, Irshad Manji, adalah seorang lesbian.

(Lho, apa masalahnya? bisa jadi Anda bertanya begitu).

My answer is, kalo yang hombreng atau lesbi itu adalah non-muslim, atau muslim tapi dia diam-diam saja, that’s their own business with Allah.

Tapi ketika seorang wanita muslim mendakwahkan pemikirannya tentang Islam, but at the same time she is a lesbian, that’s a problem.

Bisa jadi ada yang berbeda pendapat. But my stance on homosexsuality and lesbianism, insyaallah sampai sekarang, is still clear. HARAM.

Period.

Terkadang saya tidak habis pikir mengapa sesuatu yang sudah jelas bisa jadi kabur begini.

Bayangkan saja ada pertanyaan multiple choice seperti ini:

Apakah hukum homosexsual dan lesbianisme dalam Islam?
a) Haram
b) Mubah
c) Haram, tapi kalau kondisi darurat dibolehkan
d) Mayoritas ulama berpendapat haram, tapi sebagian berpendapat boleh
e) Islam tidak mengatur soal itu

Kira-kira Anda akan menjawab apa?

Sejak zaman rasulullah sampai masa imam madzhab dalam tradisi Sunni (Hanafi, Hambali, Syafii, Maliki), bahkan sampai zaman ulama kontemporer seperti Yusuf Qorodawi, jawaban atas pertanyaan itu jelas dan tegas. HARAM.

Bahkan kalau mau dilacak pada masa awal Islam, khalifah Abu Bakar pernah -setelah berkonsultasi dengan Ali dan sahabat yang lain- menjatuhkan hukuman bakar terhadap dua pemuda yang melakukan praktik homoseksual.

Tapi hukuman bakar itu lalu diganti oleh hukuman dijatuhkan dari tempat tinggi lalu dirajam, karena Ibnu Abbas, sahabat yang juga ahli tafsir terkemuka, tidak membolehkan membakar manusia.

Lha, tapi di abad 21 ini, tiba-tiba kok ada yang membolehkan homoseksualitas dan lesbianisme? What the hell is going on?

Simple. Kiamat mungkin sudah dekat hingga kebenaran yang tegas dan jelas pun dibuat kabur oleh segelintir orang.

***

Namun setidaknya kita masih bisa memilah mana yang benar. Irshad Manji yang seorang lesbian dan berdakwah tentang Islam itu (ia secara terbuka mengaku punya pacar perempuan, orang bule bernama Michelle Douglas, dan tinggal bersama), ternyata bukan seorang yang intelek berdasarkan kriteria tradisi keilmuan Islam.

Irshad Manji meyerukan untuk membuka lagi pintu ijtihad, tapi dia bahkan tidak menguasai bahasa Arab. Pendidikan formalnya adalah sejarah.

Well, for me that’s serious.

Sebab insyaallah agama Islam sangat menunjung tinggi tradisi keilmuan. Ibnu Abbas adalah sahabat yang didengar ucapannya bukan karena ia paman Ali, tapi karena ia adalah orang yang berilmu.

Sebagai orang yang terlatih dalam bahasa dan sastra Inggris, saya juga akan berkernyit kalau ada orang -yang bahkan tidak menguasai bahasa Inggris- menganggap T.S Eliot seorang penyair romantis.

I will certainly consider such opinion idiotic!

Saya kira, mungkin itulah kelemahan orang-orang seperti Irshad Manji: lack of competency in Islamic sciences.

Entah kenapa, sekarang makin banyak orang yang berani berpendapat macam-macam tentang ajaran Islam tapi tidak menganggap kompetensi dalam keilmuan Islam sebagai sesuatu yang krusial.

Apakah ia mengusai bahasa Arab, hadist, atsar, tafsir, fiqih, atau ushul fiqih?

Kompetensi keilmuan itu jadi isu yang makin serius ketika perbedaan ini tidak berada di wilayah periferal, melainkan sudah substansial.

Sangat banyak referensi dari hadist, dari pendapat ulama terdahulu, dari ulama modern, yang menegaskan keharaman homoseksual dan lebianisme, hingga -dalam pengamatan saya- mereka yang menerima homoseksualitas dan lesbianisme selalu kalah telak ketika memasuki wilayah perdebatan tradisi keilmuan Islam.

Yang sering terjadi adalah, status hombreng (dan lesbi) itu ditopang oleh premis-premis yang sangat umum seperti:

- Ukuran kemuliaan hamba di hadapan Allah adalah taqwanya, bukan jenis kelamin (biar hombreng, yang penting taqwa)
- Yang dilarang adalah aktivitas seksualnya, tapi kalau sekadar orientasi boleh

Terus terang saya agak geli ketika penerimaan terhadap kaum gay didasarkan pada distingsi tipis berupa orientasi.

Ya orang awam saja tahu kalau niat nyolong itu ga dosa. Baru dosa kalau udah nyolong.

Hanya masalahnya, kalau orientasi sesama jenis sudah muncul dan dianggap sah-sah saja, besar kemungkinan yang tadinya orientasi itu akan berubah menjadi action.

Dari perspektif ini, insyaallah lebih tepat ketika orientasi itu bukannya justru disahkan, melainkan dikoreksi, diobati, hingga si calon hombreng bersangkutan kembali ke fitrah sebagai heteroseksual.

***

Saya iseng-iseng menjelajahi blue nowhere untuk mencari info lebih banyak mengenai isu homoseksualitas dalam Islam ini, dan ternyata Inggris yang paling rame.

Di sana ada kelompok yang namanya saja indah, Imaan, tapi esensinya kenthir. Kelompok ini terdiri dari orang-orang Islam yang merasa tidak ada masalah dengan menjadi muslim dan hombreng sekaligus.

Atau dalam istilah kasarnya, Imaan adalah kelompok orang-orang yang trying to be good moslems and sucking cock at the same time.

Mereka biasanya perang dengan kelompok muslim anti-gay yang berkumpul di bawah yayasan StraightWay Fondation yang juga berlokasi di Inggris. Saya cukup bersimpati kepada orang-orang StraightWay Foundation, meski website mereka namanya juga lucu, yakni http://gaymuslim.wordpress.com

(Orang sering keliru menyangka kalau situs itu membela kaum hombreng)

Posisi StraigtWay Foundation jelas. Mereka menolak homoseksualitas dan lesbianisme, tapi mengakui kalau ada orang-orang yang memiliki orientasi sesama jenis.

Kepada orang-orang yang “sakit” itu, StraightWay Foundation berusaha mengajak mereka bergabung untuk sama-sama mengobati penyakit tersebut hingga hombreng-in-niat tidak berubah menjadi hombreng-in-action.

Perang antara Imaan dan Straightway Foundation cukup ramai, saling berbalas posting dan sebagainya, karena para aktivis Imaan juga berusaha menjustifikasi kehombrengan mereka dengan hadist dan ayat-ayat Al Quran.

Fenomena “perang ayat” bisa Anda baca dalam perang antar kedua kelompok itu, yang menunjukkan kalau kedua pihak sama-sama terlatih dalam perdebatan skripturalisme klasik Islam (canggih tenan, to).

Tapi insyaallah, menurut saya, kita tetap bisa membedakan mana hadist atau ayat Al Quran yang digunakan sebagai dasar untuk mencapai kebenaran, atau yang digunakan untuk menjustifikasi kecenderungan pribadi.

Btw, kembali ke buku “Beriman Tanpa Rasa Takut Ini”. How do we respond it? Well, since I’ve stated my stance on homosexuality and lesbianism, I think you wont find me avid reader of Irshad Manji’s works. I also do not endorse you to buy that book since I strongly opppose the author’s postion on homosexuality and lesbianism.

(Hehehe.. sori Luq, bukan maksud ane merugikan ente punya bisnis, hanya diriku tidak bisa menerima posisi pemikiran Irshad Manji)

Tapi kalau Anda punya uang lebih, dan sekadar ingin mengetahui seperti apa isi benak seorang muslim lesbian, well, tidak ada salahnya tetap membeli buku itu –meski I don’t recommend it either.***

Berikut beberapa link berguna:

- Situs Irshad Manji, ada cerita tentang acara launching buku di Indonesia juga dan kesan-kesan pribadinya. (http://www.irshadmanji.com)
- Profil Irshad Manji di situs wikipedia. (http://en.wikipedia.org/wiki/Irshad_Manji)
- Profil mendalam Irshad Manji yang ditulis wartawan Geraldine Sherman untuk majalah bulanan Toronto Life, Kanada. A very indepth profile. (http://www.geraldinesherman.com/Truth.html)
- Situs organisasi pro-gay muslim di Inggris, Imaan. (http://www.imaan.org.uk/)
- Situs organisasi lawannya Imaan, StraigthWay Foundation. (http://gaymuslim.wordpress.com)

- Link perdebatan tentang gay di Indonesia
- Makalah Musdah Mulia tentang gay di LSM Arus Pelangi pada 27 Maret 2008. (http://finance.groups.yahoo.com/group/mediacare/message/72594)
- Artikel di majalah Hidayatullah yang mengecam pemikiran Musdah Mulia. (http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6663&Itemid=60)

Copyright © basfinsiregar

Built on Notes Blog Core
Powered by WordPress