Beberapa hari lalu Penerbit Pustaka Primatama mengirimkan dua edisi Gideons’ Spies, Sejarah Rahasia Mossad ke kantor (yang satunya untuk redaktur buku Gatra).
Itu adalah kedua kalinya –setelah Birdman– saya terlibat dalam proyek buku. Honornya oke. Meski duitnya sudah lama habis jauh sebelum bukunya terbit, hehe.. (ngga ada hubungannya memang)
Saya mau sedikit mempromosikan buku itu. Bukan karena saya terlibat sebagai editor, tapi karena insyaallah, buku itu memang layak baca.
Lewat buku itu, saya mendapat banyak informasi tentang karakter Mossad, juga istilah-istilah yang kerap digunakan oleh badan intelijen Israel itu.
Misalnya,
- kidon: tim pembunuh Mossad
- katsa: agen lapangan
- sayanim: warga sipil yang diam-diam membantu Mossad
- mabuah: informan Mossad non-Yahudi
Satu bab buku itu, yang aslinya berjudul The Spy in The Ironmask (diterjemahkan menjadi Mata-mata Bertopeng Besi) khusus bercerita tentang Rafi Eitan, deputi Mossad yang legendaris kelihaiannya (apalagi kalau merencanakan pembunuhan).
Bab itu berjudul Mata-mata Bertopeng Besi karena Eitan, kalau lagi ngga ada kerjaan mbunuhi orang, punya hobi membuat patung dari logam. Ia semacam seniman amatir: suka mengumpulkan besi-besi tua, kuningan, tembaga, lalu melasnya menjadi sebuah “karya seni” hehe.
Nah, ketika asyik membuat patung itu ia mengenakan topeng las –dari situlah judul Mata-Mata Bertopeng Besi muncul.
(ia bahkan pernah memamerkan karya-karya patung lasnya dalam sebuah pameran amatir)
Saya suka membaca bab tentang Eitan karena karakternya yang berdarah dingin, khas sypmaster papan atas. Berikut saya kasih sedikit spoiler tentang isi dari bab Mata-Mata Bertopeng Besi itu.
Indonesia Cleric’s Council, Majelis Ulama Indonesia (MUI)